Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Cerita Rakyat "Landoke-ndoke dan Lakolo-kolopua" Oleh : M. Nasrun Sastra

Landoke-ndoke tidak mau lagi bersahabat dengan Tuntulaa. Ia pergi mencari sahabat baru di wilayah kekuasaan seorang Mokole (Bangsawan).
 

Menggali anak pisang Mokole


Pada suatu hari, Landoke-ndoke bertemu dengan Lakolo-kolopua (kura-kura). Ia menyapa Kolopua.
Ndoke : Kamu mau kemana Lakolo-kolopua?
Kolopua : Aku mau pergi menggali anak pisang Mokole!
Ndoke : Boleh aku ikut?
Ndoke : Boleh saja! Nanti hasilnya kita bagi dua!
Mereka berdua pergi menggali anak pisang Mokole. Setelah berhasil mendapatkan satu pohon, keduaanya segera berbagi.
Kolopua : Bagian mana yang kamu suka?
Ndoke : Aku pilih ujungnya saja, biar cepat berbuah!
Kolopua : Kalau begitu, biar aku bagian pohonnya! Terus, kamu mau tanam dimana?
Ndoke : Aku mau tanam di dapur, biar dekat! Kalau kamu mau tanam di mana?
Kolopua : Aku mau tanam dipinggir rumah!
Setelah berbagi, keduanya berpisah. Mereka pulang dan masing-masing menanam ditempat pilihannya sendiri. Ndoke menanam di dapur, sedangkan Kolopua menanam di pinggir rumah.
Dua bulan kemudian mereka bertemu di jalan. Keduanya saling memberitahukan pertumbuhan pisangnya.
Kolopua : Bagaimana pertumbuhan pisangmu?
Ndoke : Ya, pisangku tora mbaleu-leu! (Tumbuh layu-layu) Kalau pisangmu?
Kolopua : Wah, pisangku tora mbalewe-lewe (Tumbuh berdaun-daun).
Setelah itu keduanya berpisah. Dua bulan kemudian, mereka bertemu lagi di jalan.
Kolopua : Bagaimana pisangmu?
Ndoke : Pisangku Tora mbamate-mate! (tumbuh mati-mati) Kalau pisangmu?
Kolopua : Pisangku tora mbapuhu-puhu!(Tumbuh berjantung-jantung).
Setelah berpisah, Landoke-ndoke pulang ke rumah. Karena kesal pisangnya tidak mau tumbuh, Ia cabut dan membuangnya. Ia tidak mau lagi menemui Kolopua. Pisang Kolopua semakin hari semakin besar buahnya.
Suatu hari Lakolo-kolopua pergi ke rumah Mokole untuk meminjam Kampak. Ia ingin menebang pisangnya yang sudah masak di pohon. Dalam perjalanan, ia bertemu sahabatnya, Landoke-ndoke.
Ndoke : Mau kemana Lakolo-kolopua?
Kolopua : Aku mau meminjam kampak Mokole, aku mau tebang pisangku yang
masak di pohon!
Ndoke : Ah, tak usah susah-susah, nanti aku yang panjatkan! Bagaimana?
Kolopua : Kalau begitu, mari kita berangkat!
Ndoke dan Kolopua segera pergi ke tempat pisang kolopua. Setelah sampai, Landoke-ndoke langsung memanjat.
Kolopua : Tolong jatuhka satu biji!
Ndoke : Tunggu dulu, aku nikmati satu biji!
Kolopua : Jatuhkan satu biji, teman!
Landoke-ndoke menjatuhkan satu potong pisang dan satu potong tai. Berulang kali Kolopua minta dijatuhka satu biji, namun Ndoke selalu menjatuhkan sepotong pisang dan sepotong tai. Kolopua menjadi kesal, ia mengambil sebilah bambu kemudian membuat duri-duri kecil. Duri tersebut ia pasang di semak-semak dekat pohon pisang.
Kolopua : Kalau kamu terjun, jangan terjun di tempat bersih! Nanti kamu digonggong
anjing Mokole, terjunlah di semak-semak!
Ndoke : Iya, aku habiskan dulu pisang ini!
Landoke-ndoke menghabiskan semua pisang masak, kemudian terjun di semak-semak. Ia terkena duri yang dipasang Kolopua. Kolopua segera memeriksa jerat yang ia pasangnya, ternyata Landoke-ndoke sudah mati terkena duri. Kolopua merasa senang karena sakit hatinya telah terbalaskan.

Lakolo-kolopua Dihukum

Landoke-ndoke telah mati. Kolopua membawanya ke rumah lalu memanggangnya. Keesokan hari, lewatlah serombongan kera betina hendak ke pesta. Lakoklo-kolopua memanggil mereka untuk singgah istrahat. Rombongan kera singgah di rumah kolopua. Mereka melihat daging panggang segar di atas api. Seekor kera bertanya.
Kera : Daging apa itu Kolopua?
Kolopua : Oo..,itu daging kerbau, kalau mau makan, silahkan!
Rombongan Kera menyerbu daging panggang di atas api. Mereka menyantapnya sampai habis. Kolopua hanya tersenyum melihat Kera-kera itu makan temannya sendiri. Selesai makan, rombongan Kera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kolopua segera membalikkan lesung kemudian bersembunyi di bawahya.
Sebelum rombongan kera jauh, turunlah hujan gerimis. Kolopua berteriak.
Kolopua : Wali-walindosi kando kakaho! (temannya sendiri yang mereka makan).
Kera : Apa dia bilang?
Kolopua : Cepat pergi sebelum gerimis membasahi kalian! Wali-walindosi kando
Kakaho!
Kera : Dia bilang wali-walintosi kato kakaho! (teman kita sendiri yang kita
makan) Berarti yang kita makan tadi daging kera. Ayo! Kita cari dia!
Rombongan Kera kembali mencari Kolopua di rumahnya. Mereka telah mencari kesana- kemari, tidak juga mereka dapatkan. Sekor kera membanting lesung hendak mendudukinya, terlihatlah Kolopua yang bersembunyi di bawahnya. Rombongan Kera beramai-ramai menangkap Kolopua.
Kera : Kamu akan kami bakar!
Kkolopua : Aku hitam seperti ini karena dibakar Aama, tapi aku tidak mati!
Kera : Kami akan memukulmu!
Kolopua : Aku bersisik seperti ini karena dipukul Aama, tapi aku tidak mati!
Kera : Kami akan menyembelihmu!
Kolopua : Aku hanya dapat disembelih kalau di paha anak gadis Mokole!
Rombongan Kera pergi ke rumah Mokole meminta anak gadisnya untuk menyembelih Kolopua di pahanya. Mokole memberikan izin.
Kolopua siap disembelih. Paha anak gadis Mokole telah diulurkan, Kolopuapun mengeluarkan kepala. Ketika dipotong, dengan cepat Kolopua menarik kepalanya masuk ke kulitnya. Yang terpotong adalah paha anak gadis Mokole. Mokole sangat marah dan menyuruh untuk menjatuhkan Kolopua ke sebuah kali yang dalam. Kolopua berpura-pura menangis, seakan-akan ia takut dibuang ke kali. Kera-kera itu memanjat ke pohon yang paling tinggi, kemudian menjatuhkan Kolopua ke kali. Kolopua : Kuhumpuom iniano tinangku iniano tamangku! (telah kudapat kampung ibuku
kampung ayahku!).
Kera : Waah, kita salah menghukum Kolopua! Ternyata air adalah kesukaannya! Kalau
begitu, kita panggil Kalamboro (Raksasa) untuk mengisap air kali!
Maka dipanggillah Kalamboro. Setelah kalamboro datang, mereka menyumbat semua lobang hidung, telinga dan pantatnya dengan daun. Kalamboro mulai mengisap air. Semua kera mulai masuk ke kali yang mulai dangkal mencari Kolopua. Kolopua menjadi panik. Tiba-tiba keluarlah seekor kepiting kecil dari lobang.
Kepiting : Kenapa kamu panik Kolopua?
Kolopua : Kali ini akan kering, Kalamboro mengisap airnya dan kita akan mati!
Kepiting : Tidak usah takut! Upahlah aku dengan halo-halo dede kuni-kuni dede (sedikit
kunyit dan sedikit arang), nanti aku buka penyumbat Kalamboro!
Kolopua mengupah Kepiting dengan sedikit kunyit dan sedikit arang, kemudian Kepiting merayap mulai dari kaki Kalamboro sampai ke tempat penyumbat. Pelan-pelan ia buka penyumbatnya, tiba-tiba keluarlah air yang sangat deras dari pantat Kalamboro. Kali menjadi banjir, semua kera terbawa arus banjir dan mati. Maka selamatlah Kolopua.

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08981 seconds.