Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Cerita Rakyat "Laengu" Oleh: M. Nasrun Sastra

Laengu dalam dongeng masyarakat Wawonii digambarkan dalam karakter tokoh yang selalu konyol dan sial. Dongeng Laengu adalah gambaran seorang anak yang sangat disayang tetapi tidak mendapatkan pendidikan dengan baik, di rumahnya maupun di lingkungan sekitarnya, karena kedua orang tuanyapun masih terbelakang.
Dalam setiap cerita dongeng, yang menyangkutkan tokoh Laengu, ceritanya terkesan lucu dan berakhir dengan kekonyolan atau kesialan. Ikuti ceritanya berikut ini!

a. Laengu Menangkap Kodok
Laengu belum pernah disuruh bekerja oleh orang tuanya. Suatu pagi hari, Laengu diizinkan ayahnya pergi mengembara ke hutan agar dia bisa belajar mengenal lingkungan luar, dan siapa tau Laengu mendapatkan sesuatu yang dapat dimakan.
Laengu mulai berjalan menelusuri hutan belantara. Didapatinya bermacam-macam pengalaman baru terutama binatang-binatang yang belum pernah dikenalnya. Di sebelah hutan yang dilaluinya terdapat rawa-rawa yang hampir kering karena kemarau. Laengu mengamati pinggir rawa itu, dilihatnya banyak sekali kodok berloncatan kesana-kemari. “Binatang macam ini Aama pernah membawanya ke rumah, lebih baik aku tangkap saja binatang ini, iina pasti senang” bisik Laengu dalam hati.
Laengupun mulai menangkapi kodok-kodok itu, sampai keranjangnya penuh dengan kodok. Laengu pulang dengan perasaan gembira dan bangga, karena baru pertama kali mengembara, telah mendapatkan makanan sekeranjang. Dalam perjalanan pulang, Laengu merasakan keranjangnya semakin ringan, namun dia tidak perduli lantaran kegembiraannya, rasanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Setibanya di rumah, Aama cepat-cepat menjemputnya dan bertanya.
Aama : “Bagaimana nak? Apa yang kamu dapatkan?”
Laengu : “Wah, Aama, aku dapat sekeranjang kodok!”
Aama : “Boo..! Anakku sudah pintar mencari, turunkan keranjangmu! Aama mau lihat.
Laengu : (menurunkan keranjangnya di depan iina) “keranjangnya sudah ringan, mungkin
semua kodoknya diam.”
Aama : “Ah! Ini hanya satu ekor, katanya sekeranjang! Mana yang lain?”
Laengu : Barada...! Tadi keranjangku penuh, mungkin ada yang curi dari belakang”
Aama : “Tidak, anakku! Kodoknya pasti loncat keluar, mereka kan masih hidup, makanya
sebelum dimasukkan ke keranjang, harus dipukul dulu.”
Laengu : (menundukkan kepalanya sambil berusaha mengingat-ingat nasehat Aama)” lain kali
pasti akan kupukul.
Iina mengambil satu ekor kodok yang ditangkap Laengu dan memasaknya. Selesai
makan, Laengu tertidur karena kelelahan.”

b. Laengu Mencabut Jamur
Semalam turun hujan lari-lari, sebentar turun, berhenti, kemudian turun lagi. Kata Aama hujan seperti itu hujan-hujan jamur.
Pagi-pagi sekali, Laengu sudah berangkat ke hutan. Dia tidak lupa pesan Aama, bahwa sebelum
dimasukkan ke keranjang, harus dipukul terlebih dahulu. Laengu mengikuti jalan yang ditempuhnya kemarin. Belum terlalu jauh masuk hutan, ia melihat sekumpulan jamur sedang mekar-mekarnya. Laengu cepat-cepat mengambil sepotong kayu. Pela-pelan ia mendekati jamur itu, lalu dipukulnya satu persatu, semua jamur benar-benar hancur. “Hm...! Kalian tidak akan dapat mengakaliku lagi, Aama dan Iina pasti senang hari ini!” Laengu bicara sendirian. Dimasukkannya semua jamur ke keranjang, kemudian bergegas pulang. Setibanya di rumah, Iina heran.
Aama : “Mengapa pulang terlalu cepat, nak?”
Laengu : “Aama, hari ini kita akan makan besar, aku dapat jamur!”
Iina : “Wah...! Rejekimu bagus nak, bawa kesini jamurnya! Biar kumasakkan.”
Laengu : (Menurunkan keranjang dari punggungnya) “Jamur-jamur ini tidak loncat,
semuanya mati.”
Aama : “Aduh, nak!, Kenapa kamu dipukul? Jamur ini tidak ada satupun yang dapat
kita masak, semuanya hancur bercampur tanah. Lain kali kalau dapat, cukup dicabut
kakinya dan dibersihkan tanahnya, kemudian dimasukkan ke keranjang.”
Laengu lagi-lagi kecewa atas hasil yang diusahakannya dengan susah payah. Sudah dua kali mendapat rejeki, belum juga ada yang dinikmatinya dengan baik. Kali ini jamur yang dibawanya tak dapat dimasak, karena semua bercampur dengan tanah.

c. Laengu Memberihkan kaki Rusa
Pagi itu Laengu tampak kuran gairah, semalam dia makan tanpa sayur.
Iina : “Jangan putus asa nak, yang penting jangan lupa semua nasehat Aamamu!”
Laengu : “Ya, Iina.” (Laengu mulai mengingat-ingat lagi nasehat Aama, bahwa cukup dicabut
Kakinya, dibersihkan tanahnya, kemudian dimasukkan ke keranjang).
Laengu berangkat lagi mengembara ke hutan. Kali ini tekadnya, harus tiba di dekat rawa sebelum matahari meniggi. Benar saja, dia tiba ditepi rawa sebelum panas matahari. Pandangannya segera diarahkan pada sisa-sisa kodok tempo hari. Namun Laengu dibuat kaget oleh seekor rusa yang sedang berdiri di pinggir rawa terjerat lumpur. “Wah! Ini dia yang paling besar, rusa ini sangat jinak, Aama dan Iina pasti akan lebih senang kalau aku pulang membawa sesekor rusa.”
Laengu menyangkutkan keranjangnya di leher rusa, kemudian mulai berusaha mencabut satu persatu kaki rusa, setiap yang tercabut, Laengu membersihkan dengan sangat hati-hati. Begitu tercabut kaki yang keempat, rusa itu berlari sekuat tenaga. “Oe...! Keranjangku! Oe...! keranjangku!” Laengu memanggil-manggil. Sang rusa mengira kalau Laengu sedang mengusirnya, kontan saja dia tambah kecepatan. “Ya...! Pasti Aama marah besar, sebab keranjangnya sudah dibawa lari seekor rusa.” Laengu takut nanti dimarahi Aama. Akhirnya Laengu pulang dengan tangan hampa. Ketika tiba di rumah, Iina heran melihat Laengu tidak membawa keranjang.
Iina : “Mana keranjangmu nak?”
Laengu : “Keranjangku dibawa lari rusa, Iina!”
Aama : “Bagaimana mungkin rusa bisa membawa lari keranjang? Pasti kamu berbohongkan?”
Laengu : (Menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhirnya). Aama : “Aduh...! Nak, kalau dapat lagi lagi, tidak usah dikasihani, tebas saja dengan
parang, biar dia tau rasa!”
Laengu tidak dapat berkata apa-apa lagi, yang dia ingat sudah tiga kali mengecewakan Aama dan Iina. “Mudah-mudahan besok aku dapat membuat Aama dan Iina senang,” bisiknya dalam hati.

d. Laengu Menghabisi Anak Berkelahi
Sebelum terbit matahari, Laengu sibuk mengasah parangnya, karena hari ini kalau dapat lagi, kata Aama jangan dikasihani, harus ditebas dengan parang biar dia tau rasa.
Laengu berangkat lagi menuju rawa-rawa, di tempat terjeratnya rusa kemarin. Sebelum tiba di rawa, Laengu mendengar seperti ada anak-anak yang sedang bertengkar. Memang benar, sebelum Laengu datang, ada dua orang anak penjerat burung sedang memperebutkan seekor burung kena jerat. Laengu mempercepat langkahnya. “Haah! Pantas saja tidak ada rusa masuk lumpur, anak-anak ini datang berkelahi di sini, tetapi kata Aama jangan dikasihani, tebas saja dengan parang biar dia tau rasa.” Laengu tidak lupa nasehat Aama. Dia mendekati anak-anak itu dan langsung menebas keduanya dengan parang tanpa ampun. Laengu tersenyum karena telah melaksanakan nasehat Aama. “Aama pasti senang karena anak-anak berkelahi itu telah kutebas dan sudah tau rasa.” Laengu tidak lagi mencari sesuatu, langsung pulang ke rumah menemui kedua orang tuanya.
Iina : “Apa yang kamu dapat, nak?”
Laengu : “Aku tidak dapat apa-apa Iina, tetapi ada dua orang anak yang berkelahi di dekat
rawa, sudah kutebas keduanya, sepertinya mereka sudah tau rasa.”
Aama : “Aduh, nak!, Mengapa kamu bunuh anaknya orang, lain kali kalau ada yang seperti
itu, kita harus memisahkan mereka, nasehati bahwa berkelahi itu tidak baik, lebih
baik berdamai saja!”
Laengu : (Mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti)” ia, Aama!, Besok akan
kulakukan seperti itu!”
Iina : (membelai-belai pundak Laengu)”Jangan bersedih nak! Besok Iina akan bikinkan
ketupat untuk bekalmu.”
Laengu mulai tersenyum, karena memang selama pengembaraannya, belum pernah Iina membikinkan ketupat.

e. Laengu Ditanduk Kerbau
Laengu berangkat ke hutan dengan perasaan senang, di keranjangnya telah terikat lima biji ketupat. “hari ini aku tidak boleh gagal, kalau gagal, pasti Aama dan Iina akan marah besar, lebih-lebih kalau sampai membunuh, tidak!, Aku tidak boleh membunuh lagi.” Laengu menghayal sepanjang jalan. Baru beberapa langkah meninggalkan hutan yang menuju rawa, Laengu mendengar bunyi seperti suara batu besar yang dipukul dengan palu. Laengu mempercepat langkahnya, sambil membungkukkan badan, dia mengamat-amati ke arah datangnya suara mencurigakan itu. “Astaga...! Rupanya dua ekor kerbau jantan sedang bertarung di pinggir rawa.” Laengu berbisik dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Benar-benar tugas yang sangat berat, kedua kerbau ini harus dipisahkan!” Laengu teringat lagi nasehat Aama. Tanpa berfikir panjang, Laengu langsung berlari kearah dua ekor kerbau yang sedang beradu kekuatan. “Hus...! Hus...! Jangan berkelahi!” Laengu berusaha mengusir kedua kerbau itu. Namun kedua kerbau yang sedang bertarung sudah terlanjur marah dan tidak menghiraukan teriakan Laengu, Laengu masuk di antara kepala kedua kerbau yang sedang saling mundur kebelakang untuk mengambil ancang-ancang. “Eh...!, Eh...!, Aama bilang jangan berkelahi, lebih baik berdamai saja!” Hampir tidak selesai nasehat Laengu, “buk...!” Laengu ditubruk salah satu kerbau yang berlari hendak menanduk kerbau lawannya. Laengu terbanting dan pingsan seketika. Dari sela-sela celananya keluar cairan kuning yang berbau tidak sedap. Rupanya Laengu tidak sekedar buang angin, tapi malah buang hajat. Kedua kerbau yang sedang bertarung juga redah kemarahannya setelah mencium aroma yang sangat menyengat hidung, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
Laengu sadarkan diri setelah tiba di rumah pada malam hari. Ternyata Aama menyusulnya karena hari sudah hampir malam, laengu belum pulang-pulang. Sejak saat itu Laengu sakit keras.

f. Ikan Besar Di Kolom Jembatan
Laengu baru sembuh dari sakit. Selera makannya sedang memuncak, mungkin badannya yang kurus akan mengisi kembali, sedang makanan yang paling diidamkannya adalah pisang masak.Dua hari yang akan datang adiknya akan disunat. Pisang yang digantung di dekat tungku tampak mulai menguning. Laengu hanya dapat memandangi pisang itu karena orang tuanya tidak mengizinkan siapapun untuk mengambil pisang itu.
Laengu : Aku minta satu biji saja Iina!
Iina : Tidak boleh nak! Pisang itu untuk persiapan adikmu yang akan disunat!
Laengu : Kalau begitu, aku akan pergi jalan-jalan ke jembatan, di kali!
Iina : Lebih baik kamu jalan-jalan tapi jangan jauh-jauh ya, nak? Kesehatanmu belum
pulih benar.
Laengu pergi ke jembatan. Di atas jembatan ia berfikir mencari cara, seandainya Aama dapat mempercayainaya, ia punya peluang untuk makan pisang masak yang ada di rumah. Laengu segera berlari ke rumah setelah mendapatkan siasat itu. Setelah sampai di rumah, Laengu segera menemui Aama.
Laengu : Aama! Di bawah jembatan ada ikan besar! Aku sendiri yang melihatnya.
Aama : Ah, yang benar Laengu! Selama ini aku belum pernah melihat ada ikan besar di
bawah jembatan itu! Kalaupun ada, kita juga belum tau apa umpannya!
Laengu : Tadi ada kulit pisang dekat jembatan, aku buang ke bawah, ikannya langsung
menyerbu.
Aama : Wah! Kalau begitu kita bisa menukar satu sisir pisang dengan seekor ikan
besar! Nanti ikannya kita suguhkan pada undangan yang datang pada hari
sunatan adikmu.
Laengu : Baiklah! Aku akan duluan di jembatan. Kalau Aama sampai di jembatan langsung
saja memancing, ya!
Laengu segera berlari ke jembatan dan turun di bawah jembata. Tak lama kemudian Aama datang dengan membawa satu sisir pisang masak. Ia melihat sekeliling, tak dilihatnya Laengu.
Sedangkan Laengu yang berada di bawah jembatan pelan-pelan menyelam keair, ia menggoyangkan air agar Aama yakin kalau di bawah jembatan benar ada ikan besar, kemudian ia kembali lagi ke tempatnya semula. Aama tersenyum melihat goyangan air di bawah jembatan. Ia cepat mengaitkan satu biji pisang ke mata pancing, lalu dibuang ke kali. Laengu pelan-pelan menyelam dan mengambil pisang dari dalam air kemudian memakannya.Tali pancing bergoyang-goyang, namun setelah ditarik, umpannya sudah habis. Aama tambah semangat. Ia melakukan berkali-kali seperti cara yang pertama, selalu saja gagal. Ia muali kesal, apalagi pisang tinggal satu biji. Ia menemukan cara, pisang dipasang di tali pancing, dan membiarkan mata pancingnya bergantung-gantung di bawah pisang. Laengu yang sudah kekenyangan kurang memperhitungkan siasat Aama. Sebelum tali pancing bergoyang, Aama sudah menarik duluan dan berhasil, mata pancing terkait di bibir ikan besar.
Laengu : Aduu...h! Aduu...h! Aku Aama! Aku yang kena...!
Aama : (Sangat kaget) bagaimana bisa kamu yang terkena?
Laengu : Aku ada di bawah jembatan siap-siap menangkap ikan itu jika sudah kena,
ternyata aku yang terkena!
Aama : Ah! Ini hanya akal-akalanmu saja! Pasti yang ingin makan pisang bukan ikan tetapi
kamu! (Aama membuka mata pancing dari mulut Laengu) Ayo, cepat pulang!
Sebagai hukumanmu, besok kamu harus pergi mengambil daun sagu! Kita akan
menjahit atap.
Laengu hanya terdiam menahan sakit dan malu pada Aamanya, karena akhirnya ketahuan juga, bahwa sebenarnya yang ingin makan pisang bukan ikan tetapi dia sendiri.

g. Laengu Dalam Ikatan Daun Sagu
Pagi itu Laengu akan menjalankan hukuman, mengambil daun sagu yang akan dijahit menjadi lima belas lembar atap rumah. Masalahnya bukan hanya soal memanjat batang sagu, tetapi Laengu tidak akan mampu memikul seikat daun sagu untuk ukuran lima belas lembar atap setelah kelelahan memanjat batang sagu. Ia mencari akal.
Laengu : Aama! Aku bisa mengambil daun sagu, tetapi aku tak akan mampu memikulnya
turun ke kampung, bibirku masih sakit. Bagaimana kalau aku yang mengambil
daun sagu, Aama yang memikulnya?
Aama : Ya, boleh saja! Asalkan ikatannya kencang dan beratnya tidak kurang dari lima
belas lembar atap!
Laengu : Tentu saja Aama! Bahkan lebih dari itupun aku sanggup! Sekarang biarlah aku
duluan mengambil daun sagunya!
Laengu buru-buru berangkat ke hutan sagu. Rupanya ia kesulitan juga mengumpulkan daun sagu sebanyak itu, karena ia kurang pandai memanjat. Belum beberapa lembar yang didapatkan, ia sudah kelelahan. Ketika sedang mengikat daun sagu, seseorang menghampirinya.
Orang itu : Apa yang sedang kamu lakukan Laengu?
Laengu : Aku sedang memperkirakan besarnya ikatan daun sagu yang kira-kira beratnya di
atas lima belas lembar atap.
Orang itu : Bagaimana caramu memperkirakannya?
Laengu : Kebetulan kamu datang! Aku berbaring di tanah kemudian kelilingi tubuhku
dengan daun sagu, lalu ikat dengan kencang, setelah itu kamu angkat. Coba
perhitungkan, apakah beratnya bisa lebih lima belas lembar atap atau belum!
Orang itu mengerjakan sesuai permintaan Laengu, kemudian mencoba mengangkatnya.
Orang itu : Aduh! Ini kelebihan berat!
Laengu : Ya, bagus! Sekarang tinggalkan aku! Biar aku keluar sendiri!
Orang itu pergi meninggalkan Laengu yang sedang dalam ikatan daun sagu. Tak lama kemudian, Aama muncul di dekat pohon sagu. Ia gembira setelah melihat hasil pekerjaan anaknya. Ia coba mengangkat daun sagu, “wah, ini berat sekali, kalau dijahit atap pasti banyak jadinya!” Bisiknya dalam hati. Laengu hanya tersenyum.
Aama mengerahkan segala kekuatannya memikul daun sagu itu, jalannya sempoyongan. Berkali-kali ia istrahat diperjalanan. “Daun sagu ini ikatannya kecil tapi beratnya luar biasa!” Aama menggerutu dan lansung membanting daun sagu itu. Laengu Yang berada di dalam sangat merasakan bantingan tersebut. Kepalanya pening dan terasa ingin muntah. Aama kembali berusaha memikul, tetapi kali ini daun sagunya tidak terangkat lagi. Aama mulai putus asa.
Aama : Mungkin daun sagu ini ada hantunya, lebih baik aku cincang-cincang saja!
Laengu : Jangan! Jangan dicincang! Aku ada di dalam!
Aama : Dimana kamu nak? (Aama melihat ke sekeliling)
Laengu : Aku ada diikatan daun sagu!
Aama : Haa...? kamu ada di dalam? Kurang ajar! Mau membunuh Aamamu, ya!
Laengu : Maaf, Aama! Aku sebenarnya sudah capek, tidak kuat lagi jalan.
Aama membuka ikatan daun sagu. Ternyata daun sagu hanya dibagian luarnya, sedangkan dibagian dalamnya adalah Laengu yang ingin menumpang dipikulan Aama, namun gagal lagi. Sejak saat itu Laengu mengalami sakit tulang akibat bantingan Aama.

h. Laengu Pergi Merantau
Adik Laengu batal disunat tempo hari. Kali ini persiapan sunatannya direncanakan lebih meriah. Pisang yang disiapkan untuk baca-baca do’a, diperam di lumbung padi agar Laengu tidak melihatnya. Namun Laengu tidak mau diakali. Ia tau kalau pisang tersebut ada di lumbung. Ia mencari akal untuk mendapatkan pisang tersebut.
Laengu : Aama! Aku sangat kasihan melihat adikku, pada saat disunat nanti dia tidak akan
memakai kalung. Bagaimana kalau aku pergi merantau ke negeri seberang dan
kubelikan kalung emas?
Aama : Wah, bagus juga rencanamu nak! Aku izinkan kamu pergi merantau demi adikmu!
Laengu pergi merantau diantar oleh keluarganya sampai dipinggir kali. Setelah keluarganya pulang, ia segera berlari kearah lumbung dan masuk ke dalamnya. Di dalam lumbung, Laengu melihat semua pisang sudah masak. Ia makan pisang sambil merantai kalung dari tahi tikus.
Selama tiga hari Laengu berada di lumbung, pisang masak persiapan sunatan adiknya telah habis. Kini ia bersiap-siap pulang ke rumah dengan membawa seuntai kalung buatannya. Ketika ia berada di depan rumah, Aama melihat lebih dahulu.
Aama : Laengu! Laengu! mana kalung adikmu?
Laengu : Ini! (ia mengeluarkan dari dalam sakunya) Kalung ini harus dibuka kalau adikku
akan mandi, sebab nanti warnanya akan luntur!
Aama : Nah, ini adikmu, coba pasangkan kalungnya!
Laengu memasangkan kalung itu ke leher adiknya. Orang tuanya sangat gembira melihat anaknya yang akan disunat telah memakai kalung. Aama menepuk-nepuk pundak Laengu sebagai tanda salut dan bangga pada anaknya. Pada malam harinya, Laengu bercerita kepada orang tuanya tentang pengalaman-pengalamannya selama berada di perantauan. Laengu mendapat pujian dari Aama dan Iina.
Pagi-pagi sekali, Iina pergi ke kali untuk memandikan anaknya, sedangkan Aama pergi ke lumbung untuk mengambil pisang, karena sebentar sore adik laengu akan disunat.
Iina memandikan adik Laengu lupa membuka kalung di lehernya. Setelah selesai mandi, anak itu menangis karena kalung di lehernya tinggal tali. Iina sangat menyesal telah melalaikan nasehat Laengu. Iina buru-buru pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, ternyata Aama sedang marah besar, karena pisang di lumbung telah habis. Laengu datang mendekat dan melaporkan bahwa tadi malam ia melihat orang hitam yang mencari lawan. Katanya orang itu ingin makan pisang dan tebu.
Aama : Wah! Orang itu sangat berbahaya! Jangan-jangan dia yang makan pisang kita!
Laengu : Ya, bahkan orang itu, sewaktu-waktu akan datang lagi mencari lawan! Aama tidak
usah takut! Nanti aku yang melawannya!
Aama : Bagus nak! Lawan orang itu! Bunuh dia!
Laengu : Baiklah, Aku akan membunuhnya!
Sebenarnya Laengu dicurigai oleh Aama kalau ia yang menghabiskan pisang di lumbung, namun setelah Laengu menceritakan tentang orang hitam yang mencari lawan, perhatian Aama tertuju pada orang berbahaya itu.
i. Orang Hitam Mencari lawan
Tebu di depan rumah sudah panjang-panjang, Laengu ingin sekali makan tebu. Aama dan Iina melarang karena tebu akan dibikin gula madu. Padahal Laengu sudah capek berjaga-jaga sejak pagi hingga malam dari serangan orang hitam yang mencari lawan. Laengu segera memanfaatkan cerita bohongnya. Malam itu ia minta izin untuk pergi mencari orang hitam tersebut.
Laengu : Lebih baik aku cari sendiri orang itu dan dibereskan cepat, dari pada menunggu
lama seperti ini!
Aama : Jangan nak! aku tau kamu berani, tapi bagaimana kalau dia mengalahkanmu?
Laengu : Tak usah kuatir Aama! Tanganku sudah gatal ingin memenggal kepalanya!
Aama : Baiklah! tapi hati-hati, orang itu sangat berbahaya!
Laengu mencium tangan kedua orang tuanya karena ia akan pergi berperang melawan orang hitam. Ia berangkat lewat belakang rumah, kemudian memutar kearah lumbung padi. Di bawah lumbung ada setumpuk arang bekas pembakaran. Ia menghitamkan dirinya dengan arang itu, lalu kemudian berbalik pulan. Laengu mendekati rimbunan tebu kemudian mulai memaras.
Laengu : Tangteng-tanteng umpa kato pekaabatu!(tanteng-tanteng turun kita baku potong).
Aama : Adu! Kalau Laengu ada di rumah, pasti dia akan menghabisi orang ini!
Laengu : Tanteng-tanteng, turunkan Laengu!
Aama : (Berteriak) Laengu tidak ada di rumah! Nanti lain kali kamu datang lagi!
Laengu : Baiklah! Aku akan pergi, tetapi tebu yang sudah terbanting akan kubawa semua!
Aama : Bawa saja! Asal kami jangan diapa-apakan!
Laengu pergi dengan memikul tebu yang telah dipotong-potongnya dari tadi. Setelah tiba di semak-semak, ia memakan semuanya, lalu pergi mandi di kali. Laengu pulang dengan berpura-pura kaget.
Laengu : Aama! Aama! siapa yang melakukan semua ini?
Aama : Aduh nak! Orang hitam itu telah datang mencarimu!
Laengu : Beruntung sekali orang itu! Kalau aku ada, pasti dia suda kucincang- cincang!
Aama merasa bangga dan kagum akan keberanian anaknya. Ia menepuk-nepuk pundak Laengu. “Ternyata kamu mewarisi keberanian Aamamu ini pada masa mudanya!”

 


 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09091 seconds.