Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

"Aku Masita" Seri 5 "Munculnya Setan Wenue" Oleh : M. Nasrun Sastra

Mbolia yang berada di perantauan telah mendapatkan sedikit uang untuk pernikahannya dengan Masita. Berhari-hari mencari tumpangan hendak pulang, akhirnya ia dapatkan juga. Perahu yang ditumpanginya adalah perahu layar dari Binongko yang akan singgah sebentar di pulau Wawonii. Perahu tersebut tiba di muara Ladianta pada malam hari. Nakhoda perahu telah melarang penumpang turun ke kampung sebelum pagi hari. Namun Mbolia tidak mengindahkan larangan itu, karena ia telah membeli beberapa ekor ikan sejak tadi siang diperjalanan. Ia berenang ke darat pada malam itu, kebetulan terang bulan.

Setelah sampai di darat, tak membuang waktu ia langsung menuju ke lembah Mata meo-meo untuk segera menemui orang-orang yang sangat dirindukannya selama ini, yaitu orang tua dan kekasihnya Masita. Sepanjang jalan ia menghayalkan tentang Masita yang sedang bernyanyi-nyanyi menidurkan anaknya. Hampir setengah berlari ia mempercepat langkahnya sehingga ia tiba di depan rumah lebih cepat dari biasanya.
“Bu...! Ibu...!” Mbolia memanggil.
“Ia, tunggu!” Jawab orang di rumah.
“Siapa di dalam? Tolong buka pintu! Mbolia tak sabar lagi.
“Aku, Masita!” Jawab orang di dalam sambil membuka pintu.

Mbolia merasa senang karena sesuai dugaannya, Masita pasti ada di rumahnya. Ia naik tangga dan masuk ke rumah. Tetapi anehnya, Masita tidak menjabat tangannya, ia malah pergi ke tempat anaknya ditidurkan. Mbolia memperhatikan sekeliling.
“Mana ibu?” Tanya Mbolia.
“Mereka bermalam di Tangkombuno!” jawab Masita.
“Tapi....! Panjang sekali rambutmu! Jangan biarkan rambutmu menutupi wajahmu, itu pemali, kata orang tua, menguraikan rambut seperti itu mengundang hantu!” Kata mbolia sedikit heran.
“Ah, tidak apa-apa, itu perasaan kakak saja.”
“Ini ada ikan, tolong masakkan kita, aku lapar sekalia!” Kata Mbolia.

Masita bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Yang paling mengherankan, selama Mbolia berada di rumah ini, belum pernah ia melihat wajah Masita karena selalu ditutupi rambutnya. Pelan-pelan ia angkat kepala dan memperhatikan Masita yang mengerjakan ikan, astagaaa...! Masita membersihkan sisik ikan dengan kuku yang panjang. Pelan-pelan ia menoleh kearah anak yang sedang tidur, Masya Allaa..h! Anak itu berbaring digenangan darah segar. Mbolia mulai sadar bahwa yang ada di rumah ini sebenarnya adalah hantu. Mbolia pura-pura berdiri hendak lari, “aku cari angin dulu, ya!”
Setan itupun langsung berdiri, “mau kemana kamu?” Katanya sambil mengulurkan tangan hendak mencakar Mbolia.Mbolia melompat dari pintu ke bawah rumah tanpa mengikuti tangga.
“Hih! Untungnya kamu lari!’ Kata setan itu.

Mbolia terus berlari tanpa henti sampai ia tiba kembali di pinggir pantai. Ia berenang ke arah perahu tumpangannya.
Keesokan harinya, orang perahu turun ke darat. Barulah Mbolia diberitahukan bawa Masita telah meninggal dunia waktu bersalin sekitar enam bulan yang lalu.

Berita tentang peristiwa yang dialami Mbolia telah tersebar luas. Setan yang dilihat Mbolia adalah Wenue. Setan Wenue telah menjadi bahan pembicaraan warga setiap hari, terutama para petani ladang yang bermalam di kebun. Setan itu sering datang menakut-nakuti mereka dengan penampakan atau dengan suara yang sangat menyeramkan.

Pada suatu malam, seorang petani mendengar suara aneh di belakang rumah. Ia bangun dari pembaringan dan mengintai lewat celah dinding yang terbuat dari daun sagu. Suara itu tetap terdengar namun tak ada sesuatupun dilihatnya. Ketika ia membalikkan badan, terlihat sesosok perempuan berdiri di pintu, rambut panjang menutupi wajahnya sambil menyodorkan anak bay berlumuran darah di tangannya.“Aku Masita,tolong sentuh pusat anak ini agar dia bisa hidup!” Katanya.

Petani itu langsung melompat menerobos dinding rumahnya sambil berteriak histeris, “toloo...ng! Wenuee...! Wenuee...!” Kemudian pingsan.
Keesokan harinya, seorang petani lain bercerita bahwa, semalam ia juga didatangi setan wenue. Setan itu mengobrak-abrik api unggun yang ada di depan rumahnya. Ia berwujud perempuan berambut panjang. Di sela kedua pahanya tergantung anak bay yang keluar separuh. Namun ia berhasil mengusirnya dengan mantra pengusir setan yang dipelajarinya dari seseorang.
Demikianlah peristiwa dari tahun ketahun. Setan wenue beraksi di pulau Wawonii terutama dibagian Utara dan Timur laut, tidak hanya puluhan tahun, bahkan mungkin sampai ratusan tahun.
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09613 seconds.