Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Bukit Kontara Obyek Wisata yang terancam Mati Pendapat

NOKO (SK) - Bukit Kontara terletak kurang lebih 1,8 Km dari pinggir laut arah Selatan. Merupakan Bukit pembatas lahan perkebunan penduduk Perkampungn Ladianta dan perkampungan Noko. Bukit Kontara sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh para pelaut dari Desa sekitarnya sebagai kompas alam atau petunjuk jalan bila hendak kembali ke daratan setelah melaut. Dengan ketinggian kurang lebih 200 meter dari atas permukaan laut, bukit ini merupakan bukit terdekat yang merajai bukit-bukit lainnya di bagian pertengahan Kecamatan Wawonii Timur laut. Seseorang yang berada di puncak bukit ini akan menikmati pemandangan alam yang sangat menarik.

Kenampakan alam berupa deretan pegunungan di arah Selatan yang berderet-deret melintang dari Timur ke Barat. Posisi Timur dan Barat terhampar perkebunan rakyat dengan beragam jenis tanaman. Dari arah utara tampak jelas laut Banda membiru, sesekali perahu layar dan kapal laut besar dan kecil melintasi laut banda. Benar-banar sesuai dengan nama bukit ini, “kontara” yang berarti kelihatan atau terlihat. Kontara juga diartikan sebagai “pertahanan”, atau tempat yang kokoh untuk dijadikan pertahanan, karena bukit Kontara dahulunya pernah dijadikan benteng pertahanan oleh para penghuninya. Sayangnya flora di atas dan di kaki bukit sudah jauh berubah dari keadaan aslinya. Penebangan kayu bitti dan cendana secara liar, menyebabkan permukaan batunya ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan merambat yang berduri. Benar-benar nuansa alaminya mulai hilang. Tulang dan hampir ratusan tengkorak manusia sebagai bukti sejarah juga telah menghilang begitu saja. Yang tersisa hanyalah patahan-patahan tulang yang sudah tertanam di tanah pengikisan.

Batu hitam aneh dan misterius yang tertancap didekat kuburan tunggal juga telah raib entah kemana. Batu hitam ini diperkirakan sebagai sumber cahaya terang setiap malam Jum’at, dan sering disaksikan oleh para pencari ikan dimalam hari, juga oleh perahu layar atau kapal laut yang melintasi laut Banda.

Pada tahun 1981 batu hitam ini Pernah diusahakan untuk dicabut oleh dua orang pembuat papan perahu dari kayu bitti, yakni Abd. Razak Umar dan Hananu. Mereka menggali hampir ke ujung bawahnya, namun usaha mereka sia-sia belaka ,karena setelah bersusah payah mencabutnya ternyata tidak tercabut. Sayangnya batu hitam tersebut telah hilang atau dipindahkan ketempat lain. Seiring hilangnya batu tersebut, tak terdengar lagi khabar tentang adanya cahaya terang di bukit Kontara.

Batu hitam ini diperkirakan sebagi media ritual khusus penghuni bukit Kontara, yang memiliki kekuatan gaib dan dapat digunakan untuk mengelabui atau menjerat perahu-perahu layar yang melintasi laut Banda. Dalam ekspedisi kami pada tahun 1998, batu hitam tersebut belum lama hilang karena bekas tempatnya berupa lubang seukuran batu yang telah ditemukan itu masih ada.

Konon setelah berakhirnya aktifitas manusia di bukit kontara, bukit ini dihuni oleh makhluk halus dari bangsa Jin. Seperti telah disebutkan terdahulu bahwa di puncak, ujung bagian Selatan, terdapat sepetak tempat rata dengan luas kurang lebih 4 X 4 meter persegi yang disebut “sambahea’ano Dini” atau tempat sembahyangnya Jin. Pada waktu Tangkombuno masih menjadi pemukiman penduduk, ada cerita rakyat menyatakan bahwa sewaktu-waktu terdengar kumandang azan di atas bukit. Kata Abd. Razak Umar, sekitar tahun 1980 tempat ini sangat bersih, tak selembar daunpun atau rumput yang mengotorinya, sebagai pertanda adanya makhluk astral yang beraktifitas.

Dari tempat ini kita dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Melepas pandangan kearah Barat, sejauh 20 km masih terlihat jelas pasir putih di pesisir pantai perkampungan Kampa. Kearah Timur, terlihat lahan perkebunan penduduk di perkampungan Ladianta, yang dilatarbelakangi Bukit Wawobuku di pinggir perkampungan Dimba. Namun tempat ini sekarang terkesan mati, karena permukaannya sudah ditutupi rerumputan liar, dan ditumbuhi sebatang pohon. Ini suatu pertanda bahwa mahluk astral yang memelihara tempat ini sudah berpindah ke tempat lain. (M. Nasrun/Suara Wawonii)
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09365 seconds.