Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

ROMADLON DORONG KEDERMAWANAN Pendapat


Oleh : Drs. H. Yusuf Wibisono, M.Si.
Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa. Wajar, jika umat Islam memanfaatkan hadlirnya bulan suci Ramadlan untuk melakukan berbagai amal kebajikan. Salah satu fenomena khas, hadiranya bulan Ramadhan dijadikan sebagai bulan untuk berbagi. Maka banyak kegiatan yang dilakukan untuk bersedekah atau membayar zakat. Walaupun setiap waktu sebenarnya merupakan saat berbagi, namun suasana Ramadhan memang membawa suasana berbeda, sehingga mampu menggairahkan umat untuk bershadaqah dan berzakat selama bulan Ramadhan.


Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kesadaran bershadaqah dan berzakat itu tidak hanya berhenti pada bulan Ramadlan saja ? Sebab, zakat terutama, saat membayarnya tidak selalu ditunaikan pada bulan Ramadlan, tergantung pada haulnya. Untuk zakat profesi, dapat di takjil (disegerakan) dengan membayarnya setiap menerima gaji bulanan. Untuk zakat zuru’ zakatnya ditunaikan setiap panen, dan lain sebagainya.


Jujur saja harus diakui, selama ini, zakat belum mendapatkan perhatian yang semestinya dari umat Islam. Baik dalam tataran pemahaman maupun pelaksanaannya. Beda dengan amal ibadah lainnya. Dengan kata lain, seolah zakat menjadi ibadah yang kurang atau tidak begitu populer. Zakat bernasib kurang mujur dan kurang populer, akan ramai dibicarakan jika sudah datang bulan Ramadhan, terjadi setahun sekali. Ini jelas sebuah kesalahan. Bukan kesalahan orang lain, tapi kesalahan umat Islam sendiri, sebab mereka telah melakukan 'diskriminatif' terhadap rukun Islam yang satu ini.


Mengapa bisa terjadi kesalahan seperti itu ? Jika direnungkan secara mendalam, ada beberapa faktor penyebabnya, sehingga menimbulkan sikap 'diskriminatif' terhadap pelaksanakan zakat. Pertama, lemahnya pemahaman umat tentang ajaran Islam secara kaffah, termasuk di dalamnya tentang zakat. Kedua, lemahnya dakwah dan sosialisasi tentang zakat di tengah masyarakat.


Ketiga, tidak adanya sanksi bagi orang yang enggan membayar zakat, meski sudah ada dasar hukum (Islam) dan Undang-Undang tentang Zakat. Jadi sifatnya, hanya menunggu kesadaran masing-masing. Keempat, masih lemahnya kesadaran dan dukungan terhadap peran lembaga-lembaga amil zakat yang amanah dan profesional.


Zakat yang marak ditunaikan di bulan Ramadhan seolah menggambarkan bahwa zakat itu masih sekedar mendompleng pada ibadah puasa Ramadhan. Padahal jika boleh menggunakan istilah dompleng-mendompleng, semestinya zakat itu mendompleng pada shalat. Karena dalam Al-Qur’an maupun Hadits, zakat hampir selalu digandengkan penyebutannya dengan shalat. Misalnya, dalam Al-Qur’an saja kurang lebih ada 28 (dua puluh delapan) ayat yang menggandengkan antara shalat dan zakat. Logikanya, perhatian terhadap zakat, sama seperti terhadap shalat, seharusnya bersifat harian, dan sepanjang masa. Sehingga, jika umat Islam sudah mengamalkan shalat setiap hari, mestinya zakat juga sama seperti itu.


Contoh terbaik ada pada Rasulullah saw. Beliau begitu sangat dermawan. Akan lebih dermawan lagi jika sudah masuk bulan Ramadlan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Rasul saw sangat dermawan, orang yang paling dermawan. Tidak ada yang lebih dermawan lagi dari Rasulullah saw, paling dermawan dan tidak pernah mengatakan "TIDAK" pada orang yang memintanya.


Begitulah kedermawanan Rasulullah saw. Dan, kedermawanan beliau ini lebih meningkat lagi di bulan Ramadhan. “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi apabila pada bulan Ramadhan”, demikian penuturan Ibnu Abbas sebagaimana termaktub dalam HR. Bukhari Muslim. Kedermawanan Rasulullah saw di bulan Ramadhan ini, sampai digambarkan - dalam riwayat Bukhari - laksana angin yang berhembus, tidak pernah berhenti, dan senantiasa memberikan kedamaian, kenyamanan dan kenikmatan bagi para penerimanya.


Mari kita luruskan cara berfikir kita, bahwa kedermawanan di bulan Ramadhan itu sangat baik, tetapi kedermawanan bukan hanya di bulan Ramadlan saja. Maka, tunaikanlah zakat, infaq dan shadaqah sebagai bukti kedermawanan bukan hanya di bulan Ramadlan. Tunaikanlah zakat sesuai dengan masa (waktu)-nya. (arsya)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09387 seconds.