Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Sang Imam Sastra

Yogyakara (SK). Tanahnya gersang. Burung berkicau pada ranting pohon yang daunnya rontok dimakan hama. Hewan-hewan peliharaan mengembik minta pakan, sementara ayam masih menari-nari di atas tanah. Mencoba menemukan cacing yang barangkali masih bertahan hidup. Rumah-rumah berdebu, lantai teras dipenuhi dedaunan yang menolak untuk terbakar. Sementara pemilik rumah-rumah bagus itu lenyap entah ke mana.

Kabar mengudara menyampaikan pesan bahwa orang-orang pemilik rumah itu sedang mencari seorang imam. Awalnya, hanya satu orang saja yang menghilang. Kemudian disusul oleh lelaki-lelaki lain hingga benar-benar tak tersisa. Setelah genap 35 hari, senyaplah kampung itu dari suara para lelaki. Hanya tertinggal perempuan-perempuan penggendong bayi dan nenek renta yang mengunyah kinang.

Tidak ada anak laki-laki yang tampak keluar dari pintu rumah. Karena setelah kejadian menghilangnya imam, lelaki menjadi benda yang paling dicari. Maka, ibu-ibu segera menyembunyikan anak laki-lakinya agar tidak diketahui oleh siapapun. Anak laki-laki itu dibiarkan hanya berkeliling di dalam rumah dan tidak ada kegiatan apapun yang berarti.
Berbulan-bulan lamanya desa itu hidup tanpa seorang lelaki. Akhirnya para perempuan mulai resah karena tidak ada yang menafkahi. Satu per satu dari mereka pergi dan tak kembali. Tak ada surat yang ditinggalkan. Juga tak ada satu barang berhargapun yang menjadikan jejak. Semuanya musnah beriringan dengan hilangnya para lelaki.
Beberapa dari mereka ada yang ke kota untuk kemudian menjadi pengemis. Beberapa perempuan yang lain menikah dengan lelaki lain meskipun status mereka belum cerai, baik cerai hidup ataupun cerai mati. Akhirnya, beginilah keadaan kampung yang dulunya makmur, ramai dan disebut kota yang tak pernah tidur.

Menghilangnya imam berawal dari perenungan seorang lelaki berpeci dan berbaju koko. Pecinya putih, kokonya putih, dan sarungnya berwarna hitam yang sudah agak memudar sehingga warnanya mirip dengan abu-abu. Dari matanya mengalir tetes-tetes kesedihan yang sudah terpendam sejak lima atau beberapa tahun yang lalu. Kesedihan yang berasal dari keimanan yang sudah melekat dan dilekatkan oleh kedua orangtuanya sejak ia bisa mulai mendengar bisikan azan.

Angin menerpa wajah lusuhnya dengan belaian paling menyakitkan. Lebih menyakitkan dari seribu cambukan seorang pezinah, lebih menyakitkan dari tusukan seribu jarum di ulu hati. Pepohonan menyenandungkan lagu paling memilukan. Lebih pilu dibandingkan bencana Tsunami yang merenggut ribuan nyawa manusia, hewan, dan tumbuhan, lebih memilukan dari tangis ratap seorang pengemis jalanan yang kedua orangtuanya terlindas kereta api yang melintas.
Di dalam sebuah masjid yang sepi, dan di antara Al Quran-Al Quran yang lama tak tersentuh, udara bertiup sepoi, tapi tak memiliki arti karena tak pernah ada insan yang memenuhi setiap deret sajadah. Maka, kesepianlah masjid itu, maka berdukalah sajadah-sajadah yang siap menampung segala sujud, dan maka, semakin sepilah masjid itu. Catnya memudar, lantainya mengotor, dan jendela-jendela membuka dan menutup dengan sendirinya.

Belum juga selesai keadaan masjid yang tidak layak untuk dijabarkan dalam kata-kata yang pantas, harus dikatakan bahwa kran tempat berwudu tidak pernah menyediakan air suci. Di dalam sebuah kamar mandi yang sederhana, hanya terdapat sebuah ember berisi bayi nyamuk yang terus bertingkah sehingga seolah ember itu berisi ribuan makhluk aneh. Setiap ada orang asing yang hendak menitipkan hajat, pasti akan mengurungkan niatnya. Lebih memilih untuk menahan sakit daripada harus menanggung penyakit lain disebabkan sentuhan hewan-hewan kecil yang super aktif itu.
Apabila mata berpergian barang sepuluh meter dari masjid, akan terlihat deretan rumah dengan cat ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan warna-warna lain sehingga terkesan bahwa pemilik rumah itu tentulah para manusia-manusia pencari kebahagiaan dan kehormatan. Di depan setiap rumah akan terjejer mobil-mobil dengan model terbaru dan selalu berganti setiap tahunnya. Dan di antara mekarnya bunga-bunga, akan tersibak sebuah rumah kecil yang bercat menarik dan bergambar bebungaan.

Di situlah biasanya orang-orang pemilik rumah itu melampiaskan kelelahan dan menumpahkan kasih sayang yang meruah. Setiap pagi mereka akan menuangkan makanan yang berbau amis, dan sesekali mengajak kawannya itu untuk berjalan santai untuk menyapa senja yang selalu menghadirkan hiburan paling bermakna.
Ya, kurang lebih begitulah keadaan lingkungannya ketika itu. Kekontrasan benar-benar terbentuk serupa siluet hitam dan putih. Keduanya menyatu dalam satu bingkai yang dinamakan individualisme.

Tidak kuat menahan perbedaan itu, Sang Imam memilih untuk merenung di tempat lain. Mencoba untuk mencari guru yang paling bijak dengan cara berjalan ke arah barat. Ya, ketika senja begitu sempurna untuk dinikmati, dan ketika orang-orang asyik dengan pemandangan itu, dia berjalan mendatangi bulatan emas. Dia berjalan sepanjang waktu dan berharap akan segera sampai ke ujung untuk mengambil benda yang paling indah itu. Meskipun dia sendiri tahu bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi dan bahkan keindahan akan segera meninggalkannya jika ia lengah.

Di desanya, tidak ada yang sadar bahwa Sang Imam telah pergi. Tidak ada yang sadar bahwa azan telah menghilang dari pendengaran. Semuanya berjalan dengan normal sampai pada suatu tanggal di bulan Agustus terdengar takbir di seluruh penjuru. Menggema bagaikan sangkakala yang ditiup dari setiap lubang di dunia. Bedug bertalu-talu dan suara kaki berderap-derap tanpa tahu sumber suaranya dari mana.

Masyarakat di desa Sang Imam menjadi geger karena masjid mereka sepi. Masjidnya kotor dan tidak terurus. Meskipun semua warga tahu bahwa masjid itu sepi, kotor, dan tidak terurus, tidak ada yang berinisiatif untuk membersihkan dan mengumandangkan azan. Sangat tidak sulit untuk dijawab apabila ada pertanyaan ‘mengapa?’. Karena jawaban satu-satunya yang akan muncul dari setiap mulut adalah mereka sudah menyerahkan seluruh urusan kepada Sang Imam.

Variasi jawaban lain yang muncul dari bisik-bisik ibu-ibu adalah karena Pak Itu sudah lama tidak ke masjid, Pak Ini sudah lama tidak azan, dan Pak Yang Lain sangat sibuk dengan perusahaannya sehingga tidak sempat menyambangi masjid. Namun, pada dasarnya semua itu hanya alasan dari Ibu Ini, Ibu Itu, dan Ibu Yang Lain. Karena semua sebenarnya sudah saling tahu bahwa semua-semua dari mereka sudah tidak ada yang hafal bagaimana bacaan azan yang benar. Semua-semua dari mereka sudah tidak ada yang hafal dengan baik bagaimana bacaan shalat yang benar.
Para lelaki masih terus mencari Sang Imam dan para perempuan semakin melupakan suami-suami mereka.

Di akhir Agustus yang berhawa panas, Sang Imam memutuskan untuk kembali ke kampung asalnya. Dia merasa sudah menemukan apa yang dicari selama ini. Pencerahan datang di dalam hatinya sehingga dengan penuh percaya diri dia berjalan ke timur. Di belakang punggungnya, senja selalu menemani Sang Imam sehingga tampak pemandangan yang bagus. Semakin terlihat bahwa Sang Imam telah membawa cahaya itu pulang.

Sesampainya di gerbang kampung, terlihat pemandangan yang sangat ganjil. Jalanan sangat kotor, tidak ada petugas kebersihan yang dulu rutin merapikan jalan. Tidak ada mobil mewah yang berjalan keluar dan masuk. Tidak ada penjual kelontong yang berteriak-teriak sepanjang gang. Semuanya sepi, semua rumah kusam. Senja menyisakan gelap yang pekat di dalam dada.  Karang Duwet II, 2013. Kartika Violina (Wijaya FM) 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.21907 seconds.