Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Laporan Khusus: Aksi Penolakan Pembangunan Pabrik Semen Rembang Berita

Dimulainya pembangunan pabrik semen di kawasan karst Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, merupakan bukti ketidakpekaan pemerintah dan korporasi besar akan dampak sosio-ekologis bagi warga di kawasan tersebut. Terancamnya sumber-sumber mata air yang menjadi kebutuhan dasar, bukan hanya bagi petani namun juga bagi warga secara keseluruhan. Maka sangat beralasan jika warga bergerak melakukan aksi penolakan atas pendirian pabrik semen tersebut.

Tidak banyak media massa yang mengulas secara detail mengenai apa yang terjadi di sana. Suara Komunitas sebagai media warga mempunyai tannggungjawab untuk mengabarkannya kepada masyarakat luas. Berikut adalah kronologi peristiwa penolakan pendirian pabrik semen di Rembang yang berhasil dihimpun jurnalis warga Suara Komunitas yang secara khusus berada di lokasi aksi bersama warga:

Kronologis Aksi Penolakan Terhadap Pendirian Pabrik Semen Indonesia di Rembang 15-18 Juni 2014

Minggu, 15 Juni 2014
Pada hari minggu, warga Desa Tegal Dowo dan Timbrangan, Kecamatan Gunem yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng-Rembang (JMPPK Rembang) mendapatkan informasi bahwa akan ada acara peletakan batu pertama pendirian pabrik Semen Indonesia di dekat lokasi desa mereka. Isu yang didapatkan warga, peletakan batu pertama akan dilakukan pada hari senin, 16 Juni 2014. Mendapatkan kabar ini, warga berencana akan mendatangi lokasi pendirian pabrik semen pada keesokan harinya.

Senin, 16 Juni 2014
05.30 WIB : Warga secara berkelompok mulai mendatangi lokasi tapak pabrik dan selanjutnya hendak menggelar aksi jika isu peletakan batu pertama benar-benar terjadi. Setibanya di dekat lokasi, warga dihadang oleh aparat kepolisian dan menyatakan bahwa kedatangan dan rencana aksi mereka tidak boleh dilakukan karena tidak menyampaikan surat pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak kepolisian. Menghadapi situasi ini warga tetap menjalankan rencana berupa tetap berusaha untuk melihat acara peletakan batu pertama. Aparat kepolisian menyatakan bahwa tidak benar adanya kegiatan peletakan batu pertama, melainkan hanya kegiatan doa bersama untuk kesuksesan dan kelancaran operasi pendirian pabrik semen.

06.00 WIB : Saat hendak menuju lokasi tapak pabrik, tampak aparat TNI mulai berdatangan. Melihat situasi demikian, tim dokumentasi warga mulai merekam peristiwa yang terjadi.

07.30 WIB : Satu truk TNI kembali ditambahkan untuk menghadang dan membubarkan aksi warga. Hal ini direspon oleh warga dengan tetap bertahan di jalan dekat lokasi pabrik berdiri.

08.30 WIB : Warga lain mulai berdatangan dan ikut melebur dengan barisan massa yang sudah berkumpul sebelumnya. TNI dan Polri kembali membentak dan menginstruksikan agar warga pulang ke rumah masing-masing karena aksi yang dilakukan tidak sesuai prosedur yang berlaku.

08.45 WIB : TNI-Polri membubarkan paksa aksi warga. Dalam kejadian ini 4 orang “tim dokumentasi warga” yang sedang merekam peristiwa pembubaran tersebut ditangkap oleh polisi dengan alasan tidak memiliki kartu pers. Bahkan menuduhnya sebagai jurnalis palsu. Mereka selanjutnya ditahan di mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari lokasi kejadian. Dalam kejadian ini, satu orang “tim dokumentasi warga” berhasil lolos dari penangkapan dan selanjutnya memberikan informasi tentang kejadian tersebut kepada rekan-rekannya yang lain.

09.00 WIB : Pembubaran ini mengakibatkan 2 orang warga (ibu-ibu) pingsan karena diseret dan dilempar oleh polisi. TNI juga tetap melakukan intimidasi dengan pernyataan “warga bisa dihukum karena aksi yang dilakukan tidak sesuai prosedur”.

09.30-10.30 WIB : Tidak ada tim dokumentasi yang meliput kejadian pembubaran.

11.00 WIB : Beberapa tim dokumentasi warga yang “baru” mulai masuk ke lokasi kejadian, dan situasi di lapangan masih mencekam. TNI-Polri masih tetap melakukan razia terhadap orang-orang yang dianggap sebagai tim dokumentasi warga.

14.00 WIB : Tim dokumentasi warga yang ditangkap dilepaskan pihak kepolisian.

14.30 WIB : Situasi di lapangan masih dalam keadaan panik dan mencekam. Para ibu-ibu merawat 2 orang peserta aksi yang belum sadarkan diri.

15.00 WIB : Mendapatkan kabar bahwa rekan-rekan mereka mengalami bentrokan dengan TNI-Polri, warga yang berasal dari Desa Tegal Dowo dan Timbrangan mulai berdatangan untuk melebur dan ikut bersolidaritas. Namun aksi ini kembali dihalang-halangi oleh pihak TNI-Polri. Posisi mereka ditahan untuk tidak boleh mendekat dan melebur dengan rekan-rekan mereka.

18.00 WIB : Warga Desa Tegal Dowo dan Timbrangan berniat untuk mengirimkan logistik berupa makanan dan alat penerangan kepada peserta aksi. Namun saat hendak mengantarkan ke lokasi aksi, TNI-Polri melarang pengiriman logistik tersebut. Selanjutnya tim pengirim logistik kembali ke desa dan menaruhnya di rumah Kepala Desa Timbrangan.

18.30 WIB : Tim JMPPK Rembang yang lain kembali mendatangi lokasi kejadian dan melakukan perundingan kepada TNI-Polri agar logistik diperbolehkan masuk. Namun TNI-Polri meresponnya dengan kalimat “kami masih menunggu perintah dari atasan”. Dalam situasi ini para ibu-ibu peserta aksi melakukan zikir dan doa bersama. Situasi perundingan ini berjalan pelik, namun pada akhirnya logistik diperbolehkan masuk dan selanjutnya peserta aksi mulai mendirikan tenda.

20.30 WIB : Bantuan dan solidaritas dari warga Rembang mulai berdatangan. Salah satunya berupa bantuan kesehatan.

Selanjutnya warga tetap bertahan di lokasi aksi dengan mendirikan tenda sebagai tempat istirahat. TNI-Polri masih berjaga hingga keesokan harinya.

Selasa, 17 Juni 2014

07.00-12.00 WIB : Warga masih tetap bertahan di lokasi aksi, dan tetap menuntut agar rencana pendirian pabrik semen dibatalkan serta alat-alat berat yang beroperasi di tapak pabrik segera ditarik keluar. Pada hari kedua aksi ini, TNI-Polri masih berjaga di sekitar lokasi aksi.

12.00-18.00 WIB : Aksi ini mendapatkan simpati dan dukungan tambahan dari banyak komunitas dan organisasi dari luar Rembang. Tampak hadir di lokasi aksi beberapa perwakilan ataupun individu dari beberapa daerah, seperti Pati, Blora, Semarang dan Yogyakarta.

20.00-23.00 WIB : Warga masih tetap bertahan di lokasi aksi walaupun dalam kondisi hujan. Kegiatan pengajian, doa bersama dll masih terus dilakukan.

23.00 – 24.00 WIB : Saat menjelang tidur, beberapa orang warga merasa terganggu oleh teriakan beberapa orang aparat kepolisian yang masih berjaga di sekitar lokasi aksi. Teriakan tersebut berbunyi “tidak ada pabrik semen disini”.

Rabu, 18 Juni 2014

07.00-12.00 WIB : Warga masih tetap bertahan di lokasi aksi, dan tetap menuntut agar rencana pendirian pabrik semen dibatalkan serta alat-alat berat yang beroperasi di tapak pabrik segera ditarik keluar. Pada hari ketiga aksi ini, TNI-Polri masih berjaga di sekitar lokasi aksi.

12.00-14.00 WIB : Hujan kembali datang, namun warga masih tetap bertahan di lokasi aksi.

18.00-20.00 WIB : Warga menggelar pengajian dan doa bersama di lokasi aksi.

20.00-22.00 WIB : Camat Gunem mendatangi warga di lokasi aksi. Kedatangan ini mengundang perdebatan sengit antara peserta aksi dan Camat Gunem.

23.00 – 24.00 : Warga masih tetap bertahan di lokasi aksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09031 seconds.