Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Ketika Allah Menjadi Penolong Sastra

 Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh…

Entah bagaimana aku harus memulai cerita ini…
Cerita yang bahkan aku sendiri masih selalu meneteskan air mata mengingatnya, cerita yang telah memberi pelajaran berharga bagiku…

Dengan kasih sayang Allah, Dia menyelamatkan agamaku ketika aku hampir jatuh putus asa menghadapi dunia ini….

Dunia ini begitu kejam pikirku. Aku dihantam dengan berbagai ujian hingga menemui titik ini.

Ketika itu, aku sedang menjalin kasih dengan seseorang yang sangat aku sayangi. aku kuliah di Banda Aceh setelah berhubungan dengannya beberapa bulan. orang -orang begitu khawatir aku akan selingkuh disini, namun aku bukanlah tipe orang yang suka berhubungan dengan yang lain jika memang sedang berhubungan dengan seseorang.

Ia seorang penyiar radio, dan seorang penyanyi yang lumayan berbakat. Aku terlena dengan lagu-lagu cinta yang ia buat dan ia nyanyikan untukku. sebagai seorang perempuan sepertinya tidak ada yang tidak terbuai dengan kata2 gombal yang 1 itu....

Begitulah hubunganku dengannya. kami bahkan sangat mengenal keluarga masing-masing. Namun karena cinta buta itu aku tak pernah memperdulikan sikapnya yang sering marah-marah padaku. Sikapnya yang sering membuatku menangis. Menuduhku selingkuh dan bahkan memfitnah orang tuaku. aku yang telah dibutakan cinta itu selalu menerima apapun yang dilakukannya. bahkan ketika ku mendapati sms masuk ke hpnya dari seorang wanita yang bukan gadis lagipun aku tetap percaya akan semua kebohongannya.

Dan aku mulai curiga, ketika ia sedang ada kegiatan di Banda Aceh ia menolak untuk ku pinjam hpnya. pasti ada sesuatu yang disembunyikan hingga dia tidak ingin aku melihatnya. dan ternyata dugaanku terbukti ketika seminggu setelah ia pulang aku membuka facebooknya. dan langsung berderai air mataku berjatuhan ketika ku baca pesan masuknya. Ya Allah, cobaan apalagi ini.
Aku menangis sejadi-jadinya, sungguh aku tak menyangka ia benar-benar memiliki hubungan dengan wanita itu. Astaghfirullah, aku benar-benar bodoh mempercayai semua kebohongannya.

Segera ku telpon adiknya, dan ia menangis padaku meminta maaf tak bisa melakukan apa-apa saat abangnya seperti itu bersama wanita lain. semakin sakit hatiku. Suara tangisan itu menunjukkan bahwa ternyata dugaanku adalah benar. Yaa Allah apa sesungguhnya yang terjadi. Aku benar-benar gak habis pikir. Wanita itu adalah orang yang cukup dekat dengan keluargaku, Ia seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya karena bencana Tsunami, Anak pertamanya teman adikku, dan anak terakhirnya adalah teman adikku yang terakhir. benar-benar dunia terasa runtuh di atasku. aku tak sanggup rasanya menahan semua ini lagi. Yaa Allah tolong aku....

Hari itu, terbayang wajah kedua orang tuaku. Astaghfirullah apa yang telah kuperbuat... :'(


Ku telpon seorang kakak yang ada di organisasi tempatku menorehkan tenaga dan pikiranku beberapa waktu lalu. entah karena kulihat sosoknya yang begitu bersahaja, aku langsung menangis ketika ia menerima telponku. kakak itu segera ke temat kostku ketika mendengar aku menangis seperti itu.

Dan Allah memang yang memiliki hidayah. Allah menguatkan aku seakan memberikan aku kekuatan 1000 bala tentara. Menguatkan diri, memulai membenahi diri, seraya meneguhkan hati mengucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Asyhaduallaa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullaah”

Hari itu, aku menutupi hari dengan menangis dan membaca Al-Qur'an. Tenang rasanya hatiku membaca Qalam Ilahi itu. tak tersadar aku terbuai dengan renungan hingga aku jatuh terlelap.

Pagi setelahnya aku bangun sangat cepat. pukul 5 subuh, setelah shalat shubuh terlintas bayangan kedua orang tuaku. segera ku telpon mereka. Yaa Allah air mataku langsung membasahi mukena yang belum sempat ku buka. mendengar suara tangisku ayahku langsung bangun dan bertanya ada apa sebenarnya. tak kuasa rasanya aku menjelaskan semua pada mereka. yang terucap saat itu hanyalah kata maaf dari diriku yang tiada terkira.

Setelah mengutarakan semua itu, alhamdulillah.... hatiku terasa plong... benar-benar lega...


Paginya ku teima 1 sms masuk dari ibuku. "Apapun yang terjadi, ikhlaskanlah nak. Allah memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya" itulah kalimat yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. dengannya aku merangkai kembali semangatku yang telah hancur. Dengannya aku pupuk kembali imanku yang telah pudar. Yaa Allah ampunilah dosa-dosaku.

Bermodalkan cinta, kasih sayang, dari Allah, orang tua, abang-adik, serta sahabat2ku, akhirnya aku mampu bertahan, menghujani diri sendiri dengan jutaan motivasi penguatan diri, akhirnya aku berhasil lepas dari keterpurukan itu…

Hari demi hari terus berjalan tanpa pernah telat 1 detik-pun….
Semakin hari, Allah semakin menunjukkan cinta dan kasih sayang-Nya…
Semakin hari, duduk perkara permasalahan yang aku alami selama ini satu persatu terkuak…
Satu per satu muncul solusi, aku semakin kuat dan mampu bertahan melewati semua itu…
Tiada yang sangka, Allah-pun menunjukkan cinta dan kasih sayang-Nya lewat tangan orang yang berada di sekitarku…
Aku memulai jalan menempuh perjuangan dengan sigap dan mantap untuk memperbaiki hijabku….

Aku tau, konsekwensi dari semua ini, tapi aku tetap menguatkan diri, aku percaya Allah akan menolong aku, menolong aku mempertahankan semua ini….
Waktu berlalu, tepat seperti yang aku perkirakan…
Orang di desaku berkata bahwa aku hanya menjadikan jilbabku sebagai bungkusan sebuah kado yang tak ada harga…
Aku mengerti, bahkan dengan hijabku yang masih belum seberapa mereka sudah memperlakukan aku seperti itu, alangkah bahagianya hatiku saat itu, ternyata seperti inilah perjuangan meraih ridha Allah….
Melihat kenyataan yang seperti itu, meski aku bukanlah alumni sebuah pesantren, meski aku bukanlah seorang mahasiswa di jurusan agama, aku bulatkan tekat untuk memperbaiki penampilanku… (gamis + jilbab besar)
Seperti yang pernah aku bayangkan sebelumnya pula, bahwa aku akan menerima pukulan2 lisan yang tak terkira…
Aku di panggil ninja, ummi, ibu2, dan banyak sebutan lain yang tak pernah ku tanggapi skrg ini…
Aku hanya berpikir, jika semua ini ku kenakan karena perintah Allah, maka aku hanya akan melepas semua ini karena perintah Allah jua….
Gak apa2 aku di anggap ibu2, toh memang kita nantinya akan jadi ibu2 koq…
Terlebih lagi, aku seperti ini bukanlah suatu hal yang diharamkan Allah…

Waktu terus berlalu….
Satu hal yang sangat aku senangi ketika aku berpakaian seperti ini…
Tiap kali aku melintas, jika ada orang yang sedang melihatku, mereka tersenyum manis, tersenyum dengan tulus yang membuat kita senang…
Sampai suatu hari, ayahku bertanya siapa wanita tadi yang senyum dan bertanya jalan, aku dengan mata berair menjawab, “aku tidak tau ayah…”
Itulah sebuah hikmah yang sangat berarti bagiku, berpakaian seperti ini tak pernah membuatku kesepian, aku merasa selalu punya teman….

Hingga suatu hari, ada teman seperjuanganku marah, menyeramahiku habis-habisan, mengataiku bahkan hingga membuatku merasa ingin menangis, berteriak sekuat tenagaku…
Aku sadar, aku bukanlah wanita shalehah seperti yang mereka harapkan…
Akhlakku yang sangat tidak disukai mereka adalah karena aku dekat dengan seorang laki2 yang aku ingin dia menjadi suamiku…

Mereka bahkan tidak tahu,…
Aku menangis tiap hari membayangkan aku berhubungan segitu dekatnya dengan seorang laki2…
Aku menangis, aku bahkan menangis sebagai wujud bahwa aku juga sebenarnya tak ingin menjalani semua ini..
Aku mencintainya, aku bahkan tak mampu rasanya menjauhinya…
Aku ditentang habis-habisan…
Namun kami mencoba cari jalan keluar…
Tapi apa daya, mereka bahkan tak mau mendengarkan jawaban apa yang aku punya…
Ketika ada pengajian, bahkan sebuah pertanyaan akhirnya muncul tentang bagaimana jika seseorang yang hijabnya sudah bagus namun akhlaknya cukup jelek..

Hatiku teriris mendengar pertanyaan itu..
Tak kuasa rasanya aku menahan, ingin segera ku berlari, memeluk guling di kamarku, dan menangis….
Kenapa temanku bahkan menanyakan hal seperti ini…
Namun, sungguh sangat membuatku lega…
Jawaban ustad tersebut adalah “jika seseorang sudah berhijab dengan baik, apakah dia harus menanggalkan hijabnya hanya karena akhlaknya? Orang yang berhijab dengan baik, pahala karenanya, dan menerima dosa karena berakhlak tida baik. Dan yang berhijab gk menutup aurat, berdosa dan ditambah lagi dosanya karena akhlaknya buruk”
Mendengar jawaban tersebut hatiku sedikit lega, aku tau akhlakku sudah hancur, itulah sebabnya aku mempertahankan supaya setidaknya ada hijab yang mampu aku bela, yang mampu aku pertahankan…

Seiring berjalannya waktu, aku dan teman2 seperjuanganku mulai agak jauh…
Mereka tetap seperti biasa tidak mau menerima kehadiran seseorang yang dekat denganku itu…
Namun, sungguh sangat disayang…
Mereka satu persatu hijabnya mulai dibuka…
Bahkan astaghfirullaah, mulai lebih parah dari sebelum berhijab…
Aku mengerti, aku bahkan tak pernah mempermasalahkan hal itu dengan mereka…
Karena aku tau, mereka pasti punya alasan kenapa seperti itu, dan mereka bukannya tidak memiliki pengetahuan agama tentang semua itu..
Dan hidayah itu memang hanyalah milik Allah….

3 tahun berlalu….
Alhamdulillaah aku masih bisa mempertahankan hijabku, mudah2an aku bisa terus memperbaiki diri, hijab, akhlak, tutur kata, dan perangaiku menjadi lebih baik lagi…
Semoga Allah menyatukan kami dalam bahtera rumah tangga yang akan menghantarkan kami ke surga…

Rumah tangga yang menjadi pelipur lara bagi suami dan anak2ku…
Rumah tangga yang menjadi tempat bermain kesukaanku…
Rumah tangga yang didalamnya selalu dipenuhi dengan cahaya cinta Rabbana…
Rumah tangga yang akan menyejukkan setiap jiwa yang berada dibawah atap_a…
(Silvia)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0918 seconds.