Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao Pendapat

 MUNA (SK) - Limbah tanaman pangan dan perkebunan memiliki peran yang cukup penting,dan berpotensi dalam penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau hijauan rumput terganggu pertumbuhannya sehingga pakan hijauan yang tersedia kurang baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Bahkan di daerah-daerah tertentu rumput pakan ternak akan kering dan mati sehingga menimbulkan krisis pakan hijauan. Selain itu, sistem pemeliharaan ternak ruminansia sebagian besar masih tergantung pada hijauan pakan, berupa rumput- rumputan dan pakan hijauan lainnya dengan sedikit atau tidak ada pakan tambahan.

Untuk mengatasi masalah kekurangan pakan hijauan, peternak bisa memanfaatkan limbah pertanian yang cukup banyak tersedia disekitarnya antara lain kulit buah kakao. Kulit buah kakao memiliki peran yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan ternak ruminansia, khususnya kambing terutama pada musim kemarau.Pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung setelah diolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah kakao segar yang dikeringkan dengan sinar matahari kemudian digiling selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Kulit buah kakao selain untuk pakan ternak juga sebagai bahan baku kompos, pupuk organic yang bagi petani ternak merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam proses produksi, karena merupakan investasi yang dapat dipergunakan pada kondisi krisis juga berfungsi sebagai sumber pupuk kandang.

Kulit buah kakao adalah merupakan limbah agroindustri yang dihasilkan tanaman kakao, Buah coklat yang terdiri dari 74 % kulit buah,2 % plasenta dan 24 % bij. Hasil analisa proksimat mengandung 22% protein dan 3-9 % lemak dengan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40 %. Sebaiknya sebelum digunakan sebagai pakan ternak,limbah kulit buah kakao perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh hewan dan untuk meningkatkan kadar protein dari 6-8 % menjadi 12-15 %. Pemberian kulit buah kakao yang telah diproses pada ternak sapi dapat meningkatkan berat badan sapi sebesar 0,9 kg/ hari.

Melalui proses fermentasi nilai gizi limbah kulit buah kakao dapat ditingkatkan sehingga layak untuk pakan penguat kambing maupun sapi bahkan untuk ransum ayam, Salah satu fermentor yang cocok untuk limbah kulit buah kakao adalah Aspergillus niger. Manfaat fermentasi dengan teknologi ini antara lain meningkatkan kandungan protein menurunkan kandungan serat kasar menurunkan kandungan tanin (zat penghambat pencernaan).
Sahabat tani dimanapun anda berada. Untuk memanfaatkan limbah kulit kakao menjadi bahan pakan ternak dengan nilai nutrisi tinggi diperlukan suatu proses pembuatan pakan ternak melalui fermentasi dengan menggunakan jamur Aspergillusniger dengan teknologi pembuatan pakan ternak sebagai berikut :

1. Kulit dicacah untuk memperkecil ukuran
2. Difermentasi dengan larutan aspergillus nigerselama 4 – 5 hari.
3. Dijemur hingga kering selama 2 – 3 hari
4. Digiling sampai menjadi tepung halus.
5. Dicampur ransum

Sebelum digunakan Aspergillusniger di larutkan dengan air steril tanpa kapori Seperti mata air atau air sumur yang bersih bisa menggunakan air hujan atau sungai tetapi harus dimasak lebih dahulu kemudian didinginkan, Kedalam air steril yang dingin dimasukkan gula pasir,urea dan NPK kemudian dilarutkan. Dengan fermentasi Aspergillusniger mampu meningkatkan nilai nutrisi limbah kakao sebagai bahan pakan ternak.
Adapun proses pengolahan limbah kakao tanpa fermentasi adalah sebagai berikut, Kumpulkan limbah kulit buah kakao dari hasil panen lalu dicingcang, Kemudian dijemur pada sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan cara mudah dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas. Setelah kering ditumbuk dengan menggunakan lesung atau alat penumbuk lainnya kemudian dilakukan pengayakan. Untuk meningkatkan mutu pakan ternak maka tepung kulit buah kakao dapat dicampur dengan bekatul dan jagung giling, masing-masing 15 %,35 % dan 30 %. Ini artinya bahwa ransum tersebut terdiri atas 15 % tepung kulit buah kakao. 35 % bekatul dan 30 % jagung

Cara menggunakan limbah kulit buah kakao yaitu;
1. Pada awal pemberianbiasanya ternak tidak langsung mau memakannya. Karena itu berikanlah pada saat ternak lapar dan bila perlu ditambah sedikit garam atau gula untuk merangsang nafsu makan.
2. Tepung limbah hasil fermentasi bisa langsung diberikan kepada ternak atau disimpan. Penyimpanan harus dengan wadah yang bersih dan kering.
3. Untuk ternak ruminansia (sapi, kambing) limbah kakao olahan bisa dijadikan pakan penguat untuk mempercepat pertumbuhan atau meningkatkan produksi susu.Bisa diberikan sebagai pengganti dedak yakni sebanyak 0,7-1,0 % dari berat hidup ternak.
4. Pada ayam buras petelur pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak hingga 36 % dari total ransum dapat meningkatkan produksi telur.
5. Pada ternak kambing menunjukkan bahwa ternak nampak sehat, warna bulu mengkilat dan pertambahan berat badan ternak dapat mencapai antara 50-150 gram per ekor per hari.

Limbah kakao juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Pupuk merupakan hal yang penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya tanaman. Dengan pemberian pupuk yang cukup pada tanaman maka tanaman tersebut akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan tercukupi ketersediaan unsur hara dan bahan organik yang dibutuhkan di dalamnya. Kita tahu bahwa saat ini petani kita sering mengeluhkan dengan harga pupuk yang melambung. Belum lagi kelangkaan pupuk yang terjadi. Semua akibat para petani masih banyak mengandalkan pupuk yang tersedia yang terbuat dari bahan kimia untuk tanamannya. Oleh karena itu kita harus memikirkan untuk membuat pupuk yang murah. yang selalu tersedia bahan bakunya efisien serta dapat menghasilkan tanaman yang bermutu tinggi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pupuk terdiri dari bermacam-macam jenis. Pupuk dari bahan kimia yang kita kenal misalnya urea, ZA, NSP, pupuk yang terbuat dari kotoran hewan atau yang disebut dengan pupuk kandang sedangkan pupuk yang terbuat dari tanaman yang telah membusuk yaitu pupuk kompos dan sebagainya. Tetapi bagaimana dengan pupuk yang terbuat dari limbah kulit kakao. Masih asing di telinga kita, ada juga yang mungkin bertanya apa dan bagaimana pupuk itu dihasilkan oleh limbah kulit kakao serta bagaiamana efisiensi dan dampak bagi tanaman yang diberikan pupuk yang terbuat dari limbah kulit kakao. Oleh karena itu dibutuhkan penjelasan secara rinci tentang pembuatan pupuk dari limbah kulit kakao

Pembuatan pupuk yang terbuat dari kulit kakao sendiri tidak jauh berbeda dengan pembuatan pupuk kompos lain. Kulit kakao yang ada dikumpulkan dalam satu lubang tanah lalu dicampur dedaunan, batang pisang dan jerami yang kemudian ditimbun selama kurang lebih 60 hari. Agar hasilnya maksimal, timbunan tersebut tidak boleh dibuka selama proses berlangsung,selain itu bisa ditambahkan mikro organisme pengurai atau cacing tanah agar bisa mempercepat penggemburan. Setelah itu, lubang bisa digali dan kulit kakao akan berubah menjadi gembur.Lalu pupuk kompos yang sudah jadi diangkat dari lubang.
Selanjutnya pupuk kompos yang kasar disaring supaya menghasilkan pupuk kompos yang halus maka pupuk siap digunakan. Secara ekonomi pupuk dari bahan dasar kulit kakao bisa menghemat biaya hingga 50 persen, sehingga petani tidak susah lagi dengan kelangkaan pupuk yang sering terjadi belakangan ini. karena unsur hara yang ada di dalam pupuk yang terbuat dari kakao telah mencukupi. Agar unsur hara pupuk kompos dari kulit kakao mencukupi bisa ditambahkan dengan pupuk ZA dan NSP.

Selain menghemat biaya, pupuk dari kulit kakao tersebut sangat ramah lingkungan, karena tidak mengandung zat asam berlebih, sehingga tidak membuat struktur tanah menjadi keras. Tanaman yang diberikan pupuk dari limbah kulit kakao sangat baik pertumbuhannya. Biasanya para petani menggunakannya untuk memupuk tanaman kakaonya kembali atau digunakan untuk memupuk tanaman lainnya. Dengan pemberian pupuk yang terbuat dari limbah kulit kakao itu dapat meningkatkan produktivitas tanaman kakao dan tanaman tanaman-tanaman lainnya. Dengan demikian petani tidak perlu lagi terlalu tergantung dengan pupuk yang terbuat dari bahan kimia yang dijual dipasaran. Sumber Naskah,Wa Ode Aljumiati, S.Pt. (Darwin/Kantorana FM)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09164 seconds.