Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Tragedi Birahi Batu Besar Sastra

Oleh : M. Afandi

Di tulis di Desa Watotika Ile, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT
24 Januari 2014. Pukul 23.00 WIB

Selepas diskusi bersama dengan 5 kelompok pemuda/i utusan 5 Lewo dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 petang waktu Indonesia bagian Tengah di Balai Desa Ile, Flores Timur, saya bersama rekan-rekan dari Yogyakarta kembali ke rumah Kepala Desa Watotika Ile. Rasa penat yang menghampiri karena telah beraktivitas seharian penuh, coba saya kurangi dengan merebahkan diri di satu kamar yang disediakan oleh si Empunya rumah.

Beberapa saat setelah itu sebagian dari kami satu persatu menanggalkan pakaiannya untuk segera menuju sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat satu bak berisi air penuh. Setelah mandi dan makan malam bersama, kami disuguhkan minuman yang disebut dengan istilah “moke” oleh pak Kades . Minuman ini merupakan hasil sulingan dari pohon nira yang juga sering diolah warga menjadi gula merah. Jika meminumnya dalam ukuran banyak maka kita akan sedikit mabuk, kata pak Kades. Namun jika hanya sedikit itu bisa membantu untuk mengurangi rasa capek, sambungnya.

Benar adanya, saya menjadi sedikit mabuk setelah beberapa kali pak Kades memutarkan gelas berisi moke kepada saya dan seluruh rekan-rekan. Dalam kondisi yang demikian, tiba-tiba pikiran saya melayang-layang aneh. Saya memikirkan sesuatu hal yang pada awalnya tidak pernah terpikir sama sekali. Bahkan ini memaksa saya harus berpikir keras tentang sesuatu yang saya ketahui hanya secuil. Yaitu tentang mitos candi Sewu, yang konon katanya dibangun oleh seorang sakti sebagai salah satu syarat untuk melamar si gadis cantik jelita.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menceritakan seperti kisah pada umumnya. Hal itu karena disebabkan pengaruh “moke” telah membawa saya kepada sebuah percakapan gaib dengan lelembut yang mengaku tahu persis kisah candi Sewu sebenarnya.

Pada abad ke 8, hiduplah seorang gadis cantik jelita di sebuah perkampungan pulau Jawa. Kecantikan si gadis jelita telah menebar pesona yang luar biasa. Pesonanya bahkan mampu menjerat seorang sakti hingga jatuh cinta bukan kepalang. Datanglah kepadanya sang Sakti dengan niat mempersunting si gadis untuk menjadi istrinya. Si Putri mengajukan syarat jika sang Sakti harus membangun candi berjumlah seribu dalam waktu satu malam. Jika syarat itu terpenuhi maka si putri akan berkenan dipersunting. Mendapat respon dan peluang yang menjanjikan, kontan saja sang Sakti bersedia menuruti syarat yang diajukan. Kemampuan yang ia punyai dikerahkan secara maksimal, bahkan termasuk menggunakan kekuatan dari alam lelembut. Ribuan pasukan jin ia kerahkan untuk memenuhi ambisinya tersebut.

Pada awalnya si Putri tidak mengetahui jika si calon pelamarnya tersebut menggunakan kekuatan yang demikian. Namun saat malam tiba, sang putri tahu jika sang Sakti menggunakan pasukan Jin berdasarkan informan yang ia punyai. Ia tak menggubrisnya karena memang di dalam hatinya juga menaruh perasaan yang serupa kepada sang Sakti. Selain paras yang tampan, sang Sakti juga memikat dalam bertutur kata.

Hingga tengah malam menjelang, sang Sakti telah berhasil membangun lebih dari setengah candi yang harus dibangun. Bebatuan dari lereng merapi seluruh tanah Jawa ia pungut satu persatu dan selanjutnya diukir menjadi relief-relief bermotif indah. Sebagian pasukan jin menyusunnya dengan cukup berhati-hati. Sang Gadis juga telah mulai membayangkan jika esok hari akan menjadi pendamping hidup dari Sang Sakti, puluhan anak ia harapkan akan lahir dari kehidupan barunya tersebut.

Lelah pun menghampiri dirinya setelah lama berselancar di dunia khayal menjadi pendamping sang Sakti. Dan hal itu telah membuatnya menjadi tertidur. Di lain pihak, sang Sakti terus menerus tanpa lelah mengukir bangunan candi hingga tersusun rapi. Jumlah bangunan dihitungnya dan ia hanya membutuhkan sekitar 25 candi lagi untuk melengkapi syarat perkawinan. Tepat disepertiga malam, sang Gadis terbangun dari tidurnya. Ia sangat tidak sabar untuk menyambut pagi dengan segudang impian. Ia berharap siang hari telah resmi menjadi pasangan sang Sakti. Pesta besar akan ia siapkan bersama para penduduk di sekitar ia bermukim. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil beberapa ikatan padi untuk ditumbuk menjadi beras. Ini ia persiapkan sebagai bahan makanan pesta. Dengan suka cita ia sangat bersemangat menumbuk padi yang ada di hadapannya.

Ia tidak menyadari, ternyata aktifitas menumbuk padi mengundang para ayam jantan berkokok. Mendengar sautan ayam jantan berkokok kontan saja membuat para jin yang membantu sang Sakti kabur. Para jin berprasangka jika terang akan datang dan hal ini tentunya tidak baik bagi mereka, karena jin memang takut terang. Sang sakti terkaget-kaget karena ia merasa hari masih jauh dari terang. Candi hanya tinggal butuh satu bangunan lagi untuk lengkap berjumlah seribu. Namun, Ia sudah terlalu lelah untuk meneruskan pekerjaanya.

Ia menyerah, dan terlelap tidur dalam letih yang cukup panjang. Sang gadis masih saja meneruskan kegiatannya menumbuk padi. Saat terang telah tiba, ia menuju ke sebuah tempat dimana sang Sakti membangun candi. Ia melihat calon kekasihnya tertidur di sela-sela batu yang terserak. Ia berusaha untuk membangunkan sang Sakti dari tidurnya sembari menebar senyum karena ia pikir hari itu akan menjadi hari resminya menjadi pasangan sang Sakti. Dalam sadarnya, sang Sakti mengucapkan maaf dengan kesedihan hati yang mendalam “Maafkan saya Jelita, candi itu tidak sempurna, tidak lengkap seperti apa yang kamu inginkan”.

Sang Jelita menangis sepanjang hari dan menyesali perbuatannya. Menyesali telah membuat syarat yang begitu berat. Menyesali telah menumbuk padi di sepertiga malam yang membangunkan ayam jantan berkokok. Mereka telah terikat sumpah untuk tidak dapat bersatu.

Sesampai disini, tiba-tiba lelembut yang menjadi informan saya berkata “Ini ceritaku, bagaimana dengan ceritamu ? Silahkan kamu buat cerita sendiri tentang candi Sewu”. Ia menghilang ditelan malam yang panas. Tiba-tiba saya ingin mengganti alur cerita ini menjadi cerita yang lain. Ocehan pak Kades tentang ritual kampungnya mulai tidak saya dengarkan secara serius. Namun suguhan moke yang ia tawarkan secara rutin tetap saja saya terima karena memang cukup tidak pantas menolak minuman yang telah membuat saya menjadi liar.

Saya membayangkan sang Gadis pada mulanya memang memiliki ketertarikan yang sama pada sang Sakti saat ia hendak dilamar olehnya. Sang Gadis tetap menawarkan persyaratan yang serupa. Membangun candi sebanyak seribu dalam waktu satu hari, sebelum ayan jantan berbunyi sebagai tanda pagi telah datang. Peluang dan kesempatan ini tentu saja harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh oleh sang Sakti.

Sang Sakti sadar, walaupun ia memiliki kesaktian namun tetap saja ia membutuhkan manusia lain untuk membantunya. Setidaknya untuk pekerjaan jenis tertentu, misalnya membuat ukiran ataupun mengangkut bebatuan dari pinggiran sungai sekitar. Kesaktian yang dimilikinya, ia gunakan untuk memaksa orang-orang lain membantu proyek seribu candi. Tidak semua orang ingin membantunya. Namun karena takut akan dibunuh, para manusia lain dengan segala keterpaksaan harus ikut membantunya.

Menjelang malam, jumlah candi masih mencapai setengah, sang Sakti mulai panik. Melihat kenyataan bahwa tenaga para manusia mulai melemah, serta jumah yang diharapkan tidak memenuhi target sang Sakti mencoba mencari tambahan manusia lain dari beberapa kampung yang tersebar di sekitar candi. Namun kampung terlihat sepi, sebagian penduduk telah pergi mengungsi agar tidak dipekerjakan dalam proyek birahi tersebut.

Tidak habis akal, ia melakukan sihir dengan membuat suara-suara yang menakutkan di beberapa kampung. Sebagian penduduk kampung yang tersisa dan bersembunyi di dalam rumah sontak berhamburan keluar rumah karena ketakutan. Suara menakutkan yang ia ciptakan berhasil membuat penduduk kampung menuruti kehendaknya. Mereka digiring menuju candi untuk selanjutnya bekerja sesuai dengan keinginan si Sakti. Sebagian memecah batu, sementara yang lain mengukirnya secara berhati-hati tapi penuh dendam.

Beberapa orang mencoba mengukir relief dengan motif yang tidak dianjurkan, yaitu mengukirnya dalam bentuk banyak orang yang mati saat mengangkat batu. Bahkan motif-motif binatang yang mati kelelahan menarik material lain juga diukir di beberapa bebatuan. Sang sakti murka karena perbuatan diam-diam tersebut telah mencoreng estetika yang ia tawarkan. Ia mengikat manusia-manusia lemah tersebut dan selanjutnya ia kubur hidup-hidup ke dalam sebuah lubang di pinggir candi.

Malam semakin larut, mendekati sepertiga malam. Ia mengerahkan semua kesaktiannya untuk mengubah bebatuan menjadi seribu candi. Tepat di sepertiga malam, candi dihitungnya telah genap berjumlah seribu. Kegirangannya ia kabarkan kepada sang Gadis. Esok pagi akan menjadi hari yang penuh keringat birahi pikirnya.

“Tuanku putri yang jelita, lengkap sudah persyaratan yang kamu ajukan. Maka bersiaplah engkau untuk menyambut pagi nanti”. Kata sang Sakti.

“Aku cukup terharu dengan usahamu yang benar-benar sempurna dalam mewujudkan keinginanku. Namun aku rela untuk dikutuk menjadi batu karena telah melanggar sumpah menjadi pendampingmu daripada hidup di kemegahan candi yang bau amis darah manusia yang mati sia-sia karena ulahmu dan cinta yang salah”. Tutup sang Gadis.


Catatan Kaki :

Lewo : Kampung

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08945 seconds.