Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Sejatinya Mencekam, Inilah Potret Paska Bencana di Manado Pendapat

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kota Manado, Sulawesi Utara, Rabu (15/1/2014) merupakan yang terparah dibanding kejadian serupa tahun 2012. Hujan deras intensitas tinggi dan ringan mengguyur sejak lepas tengah malam pada tanggal 14/1/2014. Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 Wita air sudah mencapai satu meter. Selanjutnya air tiba-tiba menghujam sebagian besar wilayah Manado diikuti arus yang kuat. Banyak warga tak dapat menyelamatkan diri, apalagi harus menyelamatkan harta benda, sangat mustahil. Akibatnya banyak warga terjebak di rumah mereka.

Kejadian yang begitu cepat itu, mengakibatkan kerusakan dimana-mana. Puluhan ribu warga harus mengungsi dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Tak hanya rumah penduduk, sejumlah hotel, pasar tradisional, rumah sakit, puskesmas, pertokoan, dan gedung pemerintah lainnya ikut terendam dan terbawa banjir. Bahkan kantor Walikota dan DPRD Kota Manado tertutup air setinggi empat meter, demikian pula kantor Dewan Provinsi dan Gedung KONI. Kota Manado seketika porak-poranda. Denyut nadi pemerintahan dan bisnis terhenti.

Disaat bersamaan bencana juga melanda sejumlah wilayah di Indonesia, tetapi di Sulawesi Utara kejadian ini tidak seperti biasanya, sebab wilayahnya makin meluas dan debit air meninggi. Disebut “Banjir Bandang” karena air berlumpur mengalir kencang menghantam siapa saja yang dilaluinya, terjangan air yang tak terkendali akhirnya menelan korban jiwa.

Sejatinya bencana di Sulawesi Utara ini mencekam, apalagi angin barat terus bertiup kencang mematahkan ranting-ranting pohon dan menumbangkan pohon-pohon besar serta sejumlah papan reklame. Itu baru di Kota Manado! Ditempat lain seperti di Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Tomohon, Bolaangmongondow, dan Kepulauan Sangihe Talaud, juga mengalaminya.

Paska banjir bandang dan tanah longsor tersebut pemerintah lokal mengeluarkan instruksi Darurat Bencana Siaga Satu. Seketika bantuan datang silih berganti, mulai dari organisasi setingkat arisan kampung sampai sang wakil Presiden ikut berbela peduli, menyalurkan bantuan dan melihat langsung bekas-bekas reruntuhan yang ada. Jalanan Kota Manado akhirnya ramai oleh lalu-lalang mobil-mobil pejabat, ramai oleh mobil-mobil relawan, dan ramai oleh Posko-posko bantuan dadakan.

Ditengah kondisi warga yang tercabik oleh bencana, bantuan kebutuhan hidup para korban tak nampak dinikmati warga. Di beberapa kawasan, warga harus menjadi ‘pengemis’ meminta-minta sumbangan di pinggir jalan. Akses informasi untuk kebutuhan mereka tidak ada, apalagi disaat bersamaan sinyal telepon seluler ikutan padam, jelas kebingungan mendapatkan lokasi dapur umum tak bisa ditelusuri.

Pernyataan petinggi-petinggi pemerintahan di berbagai media, jika seluruh kebutuhan pengungsi terlayani sepertinya tak terbukti, warga tetap terlihat menderita. Pemulihan menyeluruh akibat terjangan bencana ini diperkirakan menyita waktu cukup lama.

Kini kota Manado bagai kota sampah dan lumpur, kota ‘pengemis’, kota penuh kemacetan, dan bagai kota mati di malam hari karena tanpa arus listrik. Warga juga belum bisa tidur tenang sekalipun di tempat aman sebab cuaca buruk terus mengintip dibalik awan.

Komentar (1)

  • 27 Jan 14 16:35 wib Sarwono

    tetap jaga kesehatan dlm membantu kondisi warga yg sedang dalam musibah ya kawan....

Page generated in 0.08862 seconds.