Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Girindra: Lahir di Penghujung 2013 Sastra

Tulungagung (SK) - Sejarah Tulungagung tidak dapat dilepaskan dari sejarah Nusantara masa lalu, tegas Siwi Sang, penulis buku GIRINDRA: Pararaja Tumapel-Majapahit saat peluncuran buku tersebut hari Senin (30/12) lalu. Mengambil momentum akhir tahun, agar mudah untuk diingat oleh siapapun, terutama para pecinta GIRINDRA yang akrab dipanggil kelarga besar GIRINDRA.

Awalnya, peluncuran ingin diselenggarakan di ruang publik, yang terbuka, seperti di joglo Gedung Kesenian Tulungagung. Namun karena gedung ini baru selesai pembangunannya dan belum “ditumpengi”, maka masih belum dapat digunakan. Pilihan tempat akhirnya jauh di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung.

emang secara kuantitatif, kehadiran keluarga besar GIRINDRA belum sebagaimana yang diharapkan, namun secara kualitatif, yang hadir adalah benar-benar para pemerhati, pecinta sejarah, dan tentunya pelaku sejarah di masa kini. Bapak Untung Mulyono, yang lebih nyaman disebut seniman, ketimbang profesi formal yang ditekuninya, yaitu sebagai dosen ISI Yogyakarta, sejak awal menjelang penerbitan buku ini, telah intens melakukan diskusi dengan penulis dan penerbit. Beliau mengakui, sesungguhnya berat untuk memberikan pengantar untuk buku ini, bahkan sempat disampaikan ke penulis, akan menyerahkan amanah ini kepada professor sejarah, dosen UGM. Namun penulis bersikukuh agar pak Untung yang mengudar naskah ini dan kemudian mengantarkan buku ini kepada pembaca. Tak lain dan tak bukan harapannya adalah agar buku ini tak tampak hebat hanya karena pengantarnya seorang profesor, melainkan budayawan yang dekat dengan kita, dan kebetulan terlahir sebagai warga Tulungagung, dan cukup dekat pula dengan sejarah Tulungagung.

Mengapa Tulungagung? Siwi Sang memiliki alasan yang cukup kuat, dimana hingga saat ini, Tulungagung sebagai sebuah kota kecil yang jarang dikenal keberadaannya oleh bangsa ini. Terus mengapa? Itu karena bangsa ini juga tak pernah mengenal, betapa besar peran dan eksistensi Tulungagung di masa lampau. Siwi dengan gambling dan jelas memaparkan temuan prasasti dan dokumen sejarah yang menunjukkan fakta tersebut, sebagaimana di halaman 28-29 dari buku yang setebal 308 halaman itu.

“Peran Tulungagung memang dipaparkan dalam GIRINDRA, tapi GIRINDRA tidak hanya membicarakan tentang Tulungagung, tetapi lebih luas dari itu,” Drs. Untung Mulyono, M.Hum, pemberi pengantar buku dan sekaligus pengulas dalam peluncuran buku itu, menegaskan berulang-ulang. Tulungagung memang menyimpan sejarah yang luar biasa, dan GIRINDRA bukan hanya memaparkan data dan fakta, tapi juga melakukan analisa untuk menjawab pertanyaan mengapa beberapa leluhur Tumapel-Majapahit pada akhirnya menghabiskan masa akhir usianya, dan disemayamkan di Tulungagung.

Sejarah Tulungagung secara lebih jauh dan mendalam belum banyak diketahui, sebagaimana yang disampaikan Kolonel Purn. H. Komari, Pembina Dewan Kesenian Tulungagung, semisal tentang keberadaan kerajaan Lodhoyong dengan Dyah Tulodhong sebagai penguasa yang pernah menggempur Erlangga. Senada dengan itu juga disampaikan Setya Budi, dari PACIWISTU (Paguyuban Cinta Wisata Tulungagung), meski banyak generasi muda yang mulai peduli dengan wisata Tulungagung, namun sejatinya masih minim pengetahuan mereka tentang sejarah Tulungagung. Hingga muncul harapan untuk mendudahnya bersama dengan mengundang bapak Untung Mulyono dan Siwi Sang.

Para endorser buku GIRINDRA tampaknya senada melihat keberanian Siwi Sang dalam melakukan analisa yang menghasilkan antitesa dari sejumlah naskah sejarah yang sudah ditulis para sejarawan nasional. Dalam beberapa diskusi terbatas, ada proofreader yang bisa dengan terbuka menerima analisa dan menerimanya sebagai fakta yang lebih logis, namun ada juga yang memaparkan analisa yang berbeda.

“Itu wajar dan sah-sah saja. Sebagaimana yang juga saya tulis dalam prolog buku ini, dalam sejarah tidak ada tanda titik, masih berkemungkinan muncul penafsiran-penafsiran baru, seturut perkembangan ilmu sejarah atau penemuan-penemuan sumber terbaru. Jadi saya sangat senang dan terbuka terhadap masukan dan penafsiran yang berbeda dengan saya,” ungkap Siwi Sang dalam beberapa kesempatan, dan disampaikan pula saat peluncuran buku GIRINDRA.

Keterbukaan itu menginspirasi, dan memantik keyakinan penerbit, Pena Ananda Indie Publishing, yang saya kelola, untuk menerbitkan buku ini. Pena Ananda Indie Publishing yang selama ini fokus menerbitkan buku-buku bergenre fiksi, telah mengambil langkah berani pula untuk menerbitkan karya non-fiksi, khususnya bidang sejarah. Keberanian ini dilandasi keyakinan bahwa GIRINDRA merupakan karya yang akan menginspirasi untuk lahirnya karya-karya baru dalam beragam genre, baik dalam bentuk dokumenter maupun karya kreatif. Dan GIRINDRA bukanlah karya yang akan berakhir dengan titik pula, melainkan akan menjadi induk lahirnya karya-karya baru, baik dari Siwi Sang (yang tengah menyiapkan kelahiran novel silat berlatar sejarah, KERTABHUMI: Sunyi Menari di Atas Bumi), maupun dari tangan-tangan ajaib pecinta sejarah Nusantara. (Tuti, Al Azhaar FM)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09193 seconds.