Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Lautku Hidupku Berita

 Mamuju 5 Desember 2013 - suarakomunitas.net
Indonesia dikenal dengan wilayah baharinya yang sangat luas. Salah satunya adalah provinsi Sulawesi Barat, sebuah propinsi muda yang berasal dari pemekaran Sulawesi Selatan. duapertiga wilayah provinsi ini merupakan lautan, dan penduduk didalamnya banyak menggantungkan hidupnya dari hasil dan kekayaan bahari yang ada.

Adalah Kab. Mamuju, sebuah wilayah yang secara administratif berperan sebagai ibu kota provinsi. Kehidupan social ekonomi di wilayah ini sangat bergantung pada sector kelautan. Ini terlihat dengan banyaknya penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Namun kurangnya pengelolaan dan perhatian dari pemerintah setempat, potensi kelautan yang ada menjadi tidak begitu berarti bagi peningkatan pendapatan daerah. Bahkan saat ini masyarakat mulai resah dengan kondisi kelautan yang dianggap mulai tidak bisa lagi menopang kehidupan ekonomi rumah tangga. Salah satu contohnya adalah kehidupan nelayan di lingkungan Tambi.

Menurut salah seorang nelayan lokal, Adi, mengatakan bahwa semakin lama hasil pendapatan mereka sebagai nelayan semakin berkurang. Hal itu disebabkan oleh rusaknya terumbu karang, munculnya penggunaan bom, dan racun (potas) yang telah mengakibatkan kerusakan serius pada ekosistem kelautan di wilayah mereka. Ia juga mengatakan jika dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu hasil tangkapan mereka sudah tidak sebanding dengan hasil tangkapan saat ini. Selanjutnya salah seorang tokoh masyarakat lain, bapak Itta yang berprofesi sebagai juragan dan pemilik bagan penangkap ikan, mengatakan saat ini operasional untuk melaut itu semakin besar sementara hasil tangkapan semakin sedikit.

Situasi ini mendorong kebutuhan hidup menjadi semakin tinggi dan dampaknya membuat kehidupan nelayan harus beralih menjadi buruh harian karena tidak dapat lagi menggantungkan hidupnya sepenuhnya dari laut.

“Laut saat ini sudah tidak ramah lagi sama kita para nelayan, sekarang kami harus melaut lebih jauh dan juga mengeluarkan lebih banyak ongkos dari pada hasil tangkapanta” ungkap Itta. “Ditambah lagi ada nelayan yang pakai bom, potas, pukat ini tentunya mempengaruhi tangkapan ikan kami” sambungnya.

Ia juga menambahkan, factor jarangnya peremajaan alat tangkap juga menjadi salah penyebab lain berkurangnya hasil tangkapan.

“Saya saja kapalku itu sudah sekitar delapan tahun, terus mau kuganti sementara harga kapal tidak sebanding dengan hasil ta melaut, jadi itu tommi yang membuat kami para nelayan semakin miskin, sementara jarang ki bisa dapat bantuan dari Pemerintah" timpal Bapak Adi dengan wajah tertunduk lesu.


Situasi ini pasti tidak akan lagi selaras dengan sepenggal lirik yang berbunyi “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala bisa mengghidupi mu” karena situasinya sangat jauh dari apa yang diharapkan dari tahun-tahun sebelumnya dalam kehidupan nelayan Tambi. Adi merasakan semakin lama semakin sulit untuk mencari penghidupan dilautan. “jika semua kekayaan bahari di Mamuju tidak perbaharuhi dari sekarang, maka generasi penerus tidak dapat lagi mendapatkan keindahan dari lautan di Mamuju khususnya di sekitar pantai lingkuan tambi dan sekitarnya" kuncinya. (SK, Sulbar).

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08732 seconds.