Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Kerusakan Pulau Tikus Provinsi Bengkulu Berita

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Bengkulu ( WALHI ) Bengkulu. Dengan pemantauan langsung ke pulau tikus Bengkulu pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2013, dari laporan Bapak Adelbert gultom penjaga menara suar diwilayah pulau tikus. Luas ukuran Pulau tikus sekarang sekitar 81 x 80 atau ± 8.180 Meter Persegi, kurang dari 1 Hektar, Dari tahun 2012 ± 2 hektar dengan catatan Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Laut Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Periok. Dengan setiap per tiga bulan tingkat abrasi pulau tikus mencapai 1 meter, bayangkan kalau setiap tiga bulan 1 meter, kalikan setahun sudah berapa meter terjadinya abrasi pulau tikus tersebut, Itu sangat jauh sekali penyusutan dari tahun sebelum nya, kerusakan pulau tikus semakin lama semakin parah, dikarenakan tingginya tingkat abrasi mengancam keberadaan pulau tikus tersebut. Merobohkan rumah penjaga mercusuar dan Menumbangkan puluhan pohon kelapa, cemara dan ketaping diwilayah timur pulau, Wilayah timur pulau sangat parah, sehingga rumah penjaga suar dan menara terpaksa dipindahkan ke wilayah barat, dulunya terdapat lima bangunan penjaga mercusuar juga sudah lebih dari dua kali berpindah tempat akibat abrasi. Dan juga di keliling pulau tikus terumbuh karang sudah mati ekosistem nya, karena dampak muat batu bara, sehingga sisa-sisa batu bara menutup terumbuh karang, dan hancurnya terumbuh karang karena tergilas dari kapal-kapal tongkang.

Walhi Bengkulu, Dengan data dari Rafflesia Bengkulu Diving Club (RBDC) menyebutkan sekitar 30 persen terumbu karang di Pulau Tikus rusak akibat aktivitas bongkar muat kapal pengangkut batu bara. Dari 30 persen terumbu karang yang mengalami kerusakan, 95 persen diantaranya sudah tergolong mati sehingga sangat mengganggu ekosistem laut di sekitar Pulau Tikus.

Walhi Bengkulu, melihat sejauh ini, Nasib para nelayan akan merugi dalam mata pencarian mereka, Karena kenyamanan dari ikan laut di terumbuh karang telah rusak dan hancur diakibatkan dari muat batu bara tahun lalu. Hal ini yang paling mengakibatkan kerugian bagi para nelayan, karena ekosistem tempat berkembang biak nya ikan di terumbuh karang sudah punah, maka akibatnya nelayan akan merugi untuk penghasilan mereka mencari ikan, mayoritas sebagai nelayan tradisional di kota Bengkulu.

Walhi Bengkulu mendesak pemerintah Pusat maupun pemerintah Daerah khusunya provinsi Bengkulu, untuk mengambil sikap secepatnya, pulau tikus ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, semakin lama semakin berkurangnya luas wilayah pulau tikus, Dan mengurangi luas wilayah Indonesia. Dan juga untuk para nelayan jangan sampai hilang mata pencarian mereka untuk menghidupi keluarga dimana hanya dari hasil nelayan selama ini menghidupi keluarga mereka.

Pada Juli 2012 Plt Gubernur Bengkulu mengeluarkan surat penghentian muat batu bara di sekitar pulau tikus, dengan surat No.552.3/245/Dishub pada 18 Juli 2012 tentang penghentian kegiatan muat batu bara di perairan Pulau tikus. Dalam surat itu, pengusaha angkutan batu bara diminta segera menghentikan aktivitas di sekitar perairan pulau tikus mulai 26 Agustus 2012. Walhi Bengkulu sangat mengapresiasi sikap dan kebijakan yang di ambil oleh pemerintah Bengkulu, untuk menghentikan muat batu bara di sekitar pulau tikus, Dengan surat plt gubernur Bengkulu pihak perusahan batu bara dan pemilik kapal tidak lagi beroperasi di sekita pulau tikus, Apakah dengan demikian, Dengan abrasi yang mengakibatkan berkurang nya luas wilayah pulau tikus dan hancurnya terumbuh karang disekitar pulau tersebut, pihak perusahan dan pemilik kapal diam begirtuh saja, ini semua di akibatkan dari muat batu bara dari kapal tongkang ke kapal induk pengangkut batu bara, karena dengan hancur nya terumbuh karang maka ekosistem pertumbuhan ikan di sekitar pulau tikus akan punah .Tidak bisa di biarkan begitu saja dari pihak perusahan batu bara dan pemilik kapal tersebut, harus tanggung jawab dengan kondisi pulau tikus saat ini. Terutamanya pemerintah yang telah member izin pada pengusaha batu bara dan pemilik kapal tersebut.

Walhi Bengkulu, "Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret penyelamatan Pulau Tikus dan meminta pertanggungjawaban korporasi yang menyebabkan kerusakan salah satu asset bangsa ini, Dan juga Pemerintah Provinsi Bengkulu harus memangil pihak perusahan dan pemilik kapal pengangkut batu bara, harus bertanggung jawab atas kerusakan pulau tikus tersebut, karena pemerintah yang mengatur negara dan daerah ini, bukan pengusaha yang mengatur Negara ini, para pengusaha yang kapitalisme, yang masih berpijak di bumi Rafflesia yang kita cintai ini.

Walhi Bengkulu, “Pihak Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Bengkulu harus memikirkan nasib penjaga mercusuar bapak Adelbert Gultom, Karena keberadaan Pulau yang hanya berpenduduk 2 kepala keluarga ini sangat penting untuk memandu lalu lintas kapal-kapal yang melintasi pulau tersebut. Bapak gultom menceritakan saat mercusuar tertembak petir beberapa waktu lalu, hanya dalam waktu satu malam saja ada beberapa kapal yang kandas, dan tersesat tidak tentu arah. Itu akan mengakibatkan dampak buruk bagi pengguna kapal, di lain sisi juga, dengan peralatan yang sangat tidak memadai yang di miliki bapak gultom untuk berkomunikasi dengan pihak pemerintah maupun pihak armada kapal yang seketika ada hal-hal yang tidak kita inginkan, dan juga pemerintah harus memikirkan keselamatan keluarga bapak gultom yang ihklas menjaga pulau tikus, karena hal ini nyawa taruhan nya untuk menjaga pulau tikus yang di miliki bangsa Indonesia ini, pemerintah jangan melihat hal yang baik nya saja, akan tetapi di fikirkan ketika ada hal-hal yang tidak kita inginkan, ketika gelombang besar maka keluarga pak gultom akan hilang nyawa demi menjaga pulau tikus salah satu aset yang dimiliki bangsa ini.

Walhi Bengkulu, Dengan secara tegas dan mengencam sekali lagi baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mencari langkah penyelamatan pulau tikus tersebut. Dan pemanggil pihak perusahan batu bara dan pemilik kapal pengangkut batu bara untuk bertanggung jawab atas kerusakan pulau tikus tersebut, karena dari kerusakan selama ini yang dilakukan ketika muat batu bara ekosistem terumbuh karang dan ekosistem ikan terganggu.

Solusi dari Walhi Bengkulu, “Untuk penyelamatan pulau tikus, Terumbuh karang harus di hidupkan kembali, sebagai tempat kehidupan ekosistem ikan di dalam laut, agar penghasilan para nelayan bisa bertambah, membuat beronjong keliling wilayah pulau tikus untuk penahan ombak, dan dibangun pelabuhan tempat kapal khusus bagi yang mau berwisata ke pulau tikus, agar pulau tikus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan bisa menghasilkan PAD Daerah khususnya provinsi Bengkulu. Dan juga ada pengawasan rutin untuk mencegah para nelayan menggunakan alat-alat tembak dan tawas mencari ikan, karena merusak ekosistem ikan disekitar pulau tikus, dan juga untuk mengatisipasi jangan terulang lagi kapal-kapal pengangkut muat batu baru di sekitar pulau tikus lagi. Dan bagi pencari ikan menggunakan tawas dan tembak.

Dan juga hal yang paling terpenting untuk saat ini adalah, yang membuat permasalahan yang sebenar nya, perusahaan batu bara yang ada di hulu sungai bangkahulu dan sungai bengkulu di kabupaten bengkulu tengah dan perusaahaan batu bara di bengkulu utara, karena perusahaan batu bara telah membuat dampak yang sangat merugi bagi masyarakat bengkulu utama nya, seperti jalan lintas provinsi telah rusak, dan juga kapal muat batu bara selalu bersandar di dekat pulau tikus, hal ini tidak akan di biarkan begitu saja, pihak pemerintah provinsi khusus nya harus bertanggung jawab dengan permasalahan ini, dengan koordinasi dengan pihak pemerintah kabupaten tengah dan kabupaten bengkulu utara.

Walhi Daerah Bengkulu
FERI VANDALIS 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08728 seconds.