Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Tulisan lainnya

  • 29 Agustus 2010

  • 29 Agustus 2010

  • 29 Agustus 2010

  • 29 Agustus 2010

  • 29 Agustus 2010

Pembangunan Prasarana Jalan Negara Ende-Maumere Memakan Korban Berita

Suarakomunitas.net - Pembangunan jalan negara jurusan Ende-Maumere di pulau Flores secara khusus dari kilometer 15 sampai dengan kilometer 18, yang dikerjakan oleh PT.Agogo, hampir 2 bulan ini sangat menghambat mobilitas dan arus transportasi dari Ende ke seluruh kecamatan bagian timur kota Ende serta menuju kabupaten Sikka. Dan lebih fatal lagi 2 minggu terakhir ini, reruntuhan batuan dan tanah dari proses pengeboman tebing batu selalu menutup badan jalan. Hari Jumat 25 Oktober 2013, reruntuhan batu merenggut nyawa salah seorang mahasiswa fakultas pertanian universitas Flores yang sedang melintasi jalan tersebut.

Sejak Senin 28 Oktober 2013-Kamis 31 Oktober 2013 jalan ditutup untuk umum, sehingga banyak penumpang selalu mencari alternatif jalan lain baik yang menuju Ende maupun yang keluar kebagian timur kota Ende. Namun alternatif yang dipilih ada 3 untuk jalan darat yakni alternatif  pertama jalan jurusan Aekipa-Puutuga-Roa. Alternatif ini sangat riskan dengan kecelakaan karena pendakian yang panjang dan jalannya rusak sehingga banyak mobil tidak mau melewati jalan tersebut. Lewat jalur ini dengan mobil Ende Detusoko dapat memakan waktu 2,5-3 jam, dibanding melewati jalan negara cuma 1 jam. Alternatif kedua jalan jurusan nangapanda-maukaro-welamosa-Detusoko, melewati jalur ini secara khusus Nangapanda-Maukaro sudah ada pendakian dan kondisi jalan rusak berat sehingga banyak mobil tidak mau melalui jalur ini dengan memakan waktu 4-5 jam. Alternatif ketiga adalah melalui jalur Ende-Mbai (Nagekeo)-Maukaro-Welamosa-Detusoko, jalur ini yang rusak parah dari desa Totomala menuju Maukaro walaupun agak rata dan melelahkan makan waktu perjalanan kurang lebih 7-8 jam (kami mengalaminya sendiri) dan bagi pengusaha/ pedagang lebih memilih untuk keselamatan dengan melalui alternatif ke tiga.

Selain memakan korban, memakan waktu juga memakan biaya. Biaya transportasi Ende-Detusoko. Biaya sewa mobil kalau melalui jalan negara perhari maksimal Rp.500.000,- namun malalui alternatif ke tiga harus merogoh kocek sampai dengan Rp.1.500.000,- Untuk para petani pedesaan sayur mayur sebagai barang jualan yang harus dijual kekota Ende juga banyak yang mengalami kerusakan ketiga mengantri atau tidak dapat melewati jalan karena ditutup. 

Kalau kejadian seperti ini di fasilitas jalan negara, apa rakyat harus menanggung deritanya? Dimana perhatian Pemda Propinsi Nusa Tenggara Timur, Pemda Kabupaten Ende dan Kabupaten Nagekeo terhadap jalur-jalur alternatif diatas? Sepertinya para Gubernur NTT & para bupati Ende sejak lama tidak memiliki sensitifitas terhadap berbagai jalur jalan alternatif, semuanya terninabobokan oleh jalur jalan Negara yang ada. Satu jalur jalan alternatif lainnya yang juga belum tersentuh adalah jalur Ende-Nangaba-Wologai-Buungenda-Detusoko. (HP)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08972 seconds.