Warga Miskin Berhak Dapatkan Jamkesmas
Kuota program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) masih perlu ditingkatkan. Hingga hari ini masih banyak warga miskin yang kesulitan mendapatkan layanan program ini. Ironisnya, banyak warga yang cukup beruntung secara ekonomi justru mendapatkan layanan Jamkesmas. Apa yang salah?
Sebagai pekerja medis di kelas III dan Jamkesmas, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. DR. Margono Soekarjo, Purwokerto, saya sering mendapatkan keluhan dari pasien atau keluarga pasien yang berlatar belakang ekonomi sulit. Meskipun miskin, mereka tidak terdaftar sebagai peserta Jamkesmas. Saya rasa pengakuan mereka jujur, dari cara berbicara dan penampilan mereka menunjukkan kemiskinan telah membelit hidup mereka secara permanen.
Sebaliknya, saya sering gregetan dengan pasien terlihat mampu secara ekonomi tapi justru menggunakan fasilitas Jamkesmas. Meskipun, saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai kebijakan itu, tapi hati nurani saya melihat ada ketidakadilan dalam pelaksanaan Jamkesmas, terutama pada pendataan peserta program.
Mandat rumah sakit jelas tidak sampai pada pendataan peserta Jamkesmas. Siapapun warga yang berobat ke rumah sakit akan dilayani dengan standar operasional yang sama, baik mereka yang menggunakan Jamkesmas ataupun tidak. Saya hanya bisa menyarankan pada pasien atau keluarga pasien miskin untuk berusaha mengakses layanan Jamkesmas nonquota. Meskipun bantuan yang didapatkan sangat terbatas dibanding biaya yang harus ditanggung pasien, langkah ini dapat mengurangi beban mereka. Sekadar informasi, Kabupaten Banyumas dan Brebes membantu pasien Jamkesmas nonquota hingga 1,25 juta rupiah.
Seharusnya kondisi ini tak perlu terjadi, bila pengemban mandat Jamkesmas bekerja secara jujur dan teliti. Jamkesmas adalah hak warga miskin, sementara untuk warga yang cukup mampu masih punya pilihan untuk yang lain. Tapi, ke depan Indonesia sebaiknya meniru kegigihan Presiden Amerika Serikat, Barak Obama, untuk memenuhi hak memperoleh jaminan layanan kesehatan bagi seluruh warganya.
Kapan itu yah?
- Pelosok Desa
- Pendapat
- dibaca 1388x
- [0] komentar




Lombok Tengah, Suarakomunitas.net - Angka kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah hingga saat ini masih cukup tinggi yakni mencapai 19,92 persen. Karenanya pemerintah setempat telah melakukan
MATARAM - Untuk mengakselarasikan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah telah mengembangkan pariwisata didaerah pesisir Lombok.
MATARAM - Bila dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), wilayah kepulauan, hingga saat ini masih cukup rendah, jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar di Indonesia.
Bogor, Jawa Barat- Peluncuran Pintu Gerbang Layanan Pesan Singkat (SMS Gateway) untuk kampanye Strategi-strategi Terhadap Munculnya Wabah Flu dalam mendorong terciptanya
MATARAM - Kongres Sunda Kecil dan Maluku (Sukma) yang dilaksanakan sejak tanggal 20-24 Mei mendatang, diharapkan dapat menghasilkan rumusan yang konstruktif sebagai pemecahan masalah
Cianjur (Suara Komunitas) - HAUS adalah salah satu ciri unggas yang sehat yang berarti Halal, Aman, Utuh dan Sehat, seperti yang diungkapkan Yuliana (38) selaku narasumber 



