Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Perempuan Multi Guna Pengalaman

Perempuan Multi Guna,,,,,,,,,,,,,,

Yesti,,,,,,!!!!! itulah nama yang akrab disapa oleh teman-teman sejawatnya...Perempuan berusia 38 tahun ini dilahirkan dan dibesarkan dari sebuah keluarga sangat sederhana di sebuah lingkungan nan Jauh dari kebisangan hirukpikunya kendaraan dan keramaian kota, tepatnya di Desa Pahola. Pada masa kecilnya, Yesti adalah anak baik danpenurut. Sebagai anak yang baik dan penurut,,,,Yesti menyimpan cita-cita yang luhur yaitu memiliki harapan untuk Hakoala Bakul “Sebutan untuk Sekolah yang lebih tinggi dalam bahasa Wanukaka”, sebagaimana teman-temannya mewujudkan harapannya. “Maksud Yesti Ingin Memeluk Gunung, Apa Daya Tangan Tak sampai”, setidaknya pepatah ini, sedikit mengusik cita-citanya yang kandas namun tidak membuatnya patah semangat, tetapi sedikit menyimpan rasa kecewa yang dalam.

Pada usiaNya yang ke-25, Ia Memutuskan untuk mencari kehidupan baru di Negeri Jiran (Malaysia), sebagai salah satu cara untuk mengobati rasa Kecewanya. Di sana ia mencoba untuk berjuang dan bertahan. Terlahir sebagai perempuan dari 4 bersaudara, ia berjuang dan terus berjuang serta menanamkan sebuah komitmen dalam dirinya untuk menggapai masa depannnya. Enam Tahun di Negeri Jiran adalah waktu yang cukup lama untuk meninggalkan sanak saudara dan terutama ke dua orang tuanya. Yesti yang dikenal sebagai perempuan yang keras kepala, selama 6 Tahun di Negaranya para Pencari kerja, Ia berkomitmen untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam bekerja. Berkat komitment dan kerja kerasnya selama 6 tahun membuahkan hasil yang cukup membanggakan dan pada tahun 2006 Ia kembali di pangkuan kedua orang tuanya di Pahola. Dari hasil jerih payanya selama 6 tahun di Malaysia, Ia merintis sebuah Usaha Kios di kampung halamannya. Usaha yang dilakoni berkembang cukup pesat dan dapat mencukupi kebutuhan keluargganya dan bahkan menjadi salah satu tulang punggung keluarga. Selain melakoni usaha ini, Yesti juga terlibat dan bergabung dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan di desa, di sana ia hidup membaur dengan warga. Kisah sebagai perempuan perkasapun dimulai.

Karena keaktifanya dalam kegiatan di desa, pada Tahun 2007 Ia terpilih menjadi kader Posyandu dan Tahun yang sama puIa terpilih menjadi kader POSMALDES (Pos Malaria Desa). Terpilih sebagai pelaku pemberdayaaan di Negerinya sendiri, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dari ibu Yesti dan merupakan awal dari perjuangannya dalam dunia pemberdayaan dengan menjalani 2 peran sebagai kader desa dan Lembaran Baru sebagai perempuan Multiguna mulai lakoninya.

Walaupun dijuluki perempuan yang keras kepala dan suka mempertahankan pendapatnya (Ingin menjadi yang benar), namun Ia berhasil merebut perhatian dan kepercyaan para pemangku kepentingan di desanya. Dengan melihat potensi yang ada pada Yesty dan kerja keras serta komitmen yang dimilikinya, pada tahun 2008, Masyarakat memilih Yesti menjadi KPMD (Kader Pemberdayaan masayarakat Desa) dalam Program PNPM.MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan) dan pada tahun 2009 ia kembali terpilih sebagai Kapedes dalam program perencanaan dan penganggaran partisipatif yang difasilitasi oleh Yayasan Bahtera serta menjabat sebagai Sekretaris KGM pada tahun 2010 dari program NICE. Selain sebagai KPM, perempuan berambut ikal ini, juga sebagai pendidik yaitu Guru Sekolah Minggu di Gereja, anggota pemuda Gereja dan menjabat sebagai anggota Komisi Perempuan Jemaat.

Perempuan Multi Guna ini, dikenal sebagai perempuan yang cerewet, namun memiliki komitment dan semangat yang kuat dalam menjalankan misi pemberdayaan di tingkat desa. Dalam Menjalani peran sebagai Kader Pemberdayaan (KPM) dengan berbagai isu seperti Kader Posyandu, TBC, KGM, Perencanaan penganggaran partisipatif dan Posmaldes dari berbagai program, Yesti terus menempa diri untuk belajar dan terus belajar dengan mengikuti berbagai peningkatan Kapasitas diantaranya yaitu Pelatihan Advokasi HAM, Pelatihan Penyusunan RPJM-Desa, Pelatihan Kader Posyandu, TBC, Pelayanan Publik dan masih banyak lagi. Dengan banyak kegiatan pengembangan kapasitas yang diikutinya, tidak membuatnya merasa puas, karena ia menyadari bahwa, masih banyak hal yang belum ia ketahui dan paham karena tidak ditunjang dengan pendidikan yang memadai.
Perempuan dengan pendidikan Tamat SD ini, Menyadari benar bahwa, dalam menjalankan peran sebagai KPM adalah kerja tanpa upah. “Yang terpenting adalah apa yang saya lakukan dapat bermanfaat bagi banyak orang dan itulah upah saya” “kata Yesti”. Menurut kader mudah ini bahwa, yang terpenting dalam menjalankan tugas sebagai KPM adalah “ harus selalu semangat, rela berkorban, semangat berswadaya dan mengutamakan kepentingan bersama”. Dari apa yang disampaikan perempuan pemilik badan kurus dankecil ini, telah dibuktikannya dalam menjalankans etiap program dalam desa dan tidak pernah berpikir soal insentif, karena Dia tahu bahwa, Jika tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan dilakukan dengan baik, maka akan menuai hasil yang baik pula.

Waktu terus berjalan dan tenaganya terus dibutuhkan dalam pembangunan. Dengan berjalannya waktu, kapasitas dan pengetahuan yang didapatkannya dari berbagai pelatihan semakin banyak dan Ia Pun semakin kritis dalam berpikir dalam menjalankan Misi Pemberdayaan di desanya.
Dengan banyak proses belajar yang diikutinya, terutama dari Yayasan Bahtera dengan program yang cukup fokus pada perubahan perilaku dengan bekal Prinsip dan nilai TKLD (partisipasi, transparansi dan akuntabel, keadilan sosial dan gender, Asset basse) dalam pengelolaan pembangunan desa. Dengan bekal-bekal ini, Yesti mulai lebih percaya diri dan berani mengorginisir warga terutama perempuan untuk terlibat dalam kegiatan, memfasilitasi kegiatan serta melakukan Lobi dan negosiasi pada pemerintahan lokal, Selain itu Yesti juag semakin percaya unetu menjadi Pembawa Acara dalam kegiatan di desa, menjadi Notulen dan memimpin kerapatan di desa.

Dengan bekal sederhana yang dipadukan dengan semangat dan komitmnt yang tinggi, dalam melakoni peran sebagai fasilitator desa, Yesti selalu memotivasi dan mengorganisir Perempuan dan kaum Marginal lainnya untuk mengikuti setiap pertemuan di desa, dan selalu memberi ruang dan kesempatan kepada perempuan dan kaum marginal untuk mengeluarkan pendapatnya. Dampak saat ini sudah banyak perempuan Pahola yang beri berbicara dalam forum desa.

Selain itu, Perempuan berusia 38 Tahun ini aktif melakukan advokasi untuk kepentingan hak-hak warga miskin sebagai penerima manfaat program Raskin, Ia melakukan pendekatan dengan Pemerintah Desa Pahola tentang penerima Raskin yang tidak tepat sasaran, yang mana ada nama KK yang seharusnya tidak mendapatkan Raskin tetapi masih ada dalam daftar penerima Raskin. Contoh : Warga/KK yang sudah pindah tempat tinggal diluar desa atau warga luar desa ikut terdata dalam daftar penerima Raskin. Berkat perjuangang si Ka’a, dengan bukti data yang akurat hasil sensus rumah tangga dan data tersebut ditetpakan Oleh Pemerintah Desa sebnayak 206 KK.

Perjuang pemudi yang tidak mengenal lelah ini, tidak sebatas pada Raskin, dalam organisasi gereja ia mengambil peran cukup banyak, Ia mampu mengorganisir sesama muda mudinya dengan latar belakang model pergaulan berbeda, namun Ia seorang pemudi yang mampu menggkoodinir teman-teman pemudanya salah satunya adala Melki K. Nyuru yang biasa di sapa Melki.

Kedua insan ini memiliki semangat yang sama dan memiliki rasa ingin tahu dan mencoba yang kuat, Berawal dari diskusi local di antara mereka berdua di Puskesdes Pahangu Ladi di Desa pahola, mereka menggagas sesuatu untuk melakukan perubahan di desanya. Terutama bagi pemuda-pemudi yang putus sekolah dan pengangguran. Mereka merancang sebuah wadah pembelajaran yang mana wadah ini akan mejadi tempat belajar bagi anak muda dengan mendorong perubahan perilaku yang positif. Mimpi di Puskesda Pahunguladi, akhirnya menjadi kenyataan, Sepaang Muda Mudi ini berhasil membentuk sebuah kelompok Pemuda “ kelompok Karang Taruna” yang fokus bidang kerohanian. Seiring berjalannya waktu, Yesti dan Melki terus bermimpi dan tidak pernah berhenti untuk bermimpi, mereka mulai memikirkan trategi untuk pengembangan Kelompok Karang Taruna yang telah terbentuk.

Pada suatu waktu, kedua pejuang desa pahola ini, tepatnya ± pukul satu (01) dini hari pada Sabtu 5 Mei 2012, Yesti dan Melki mendatangi kediaman pejabat teras Desa Pahola, kedua melakukanlobi dan negosiasi agar bantuan Dana Anggur Merah dialokasi untuk kelompok Karang taruna. Gayung bersambut, Figur No satu desa (Bernabas H. Lani) Desa Pahola pun merespon harapan harapan Yesti dan Melki. Lani, berkisah “Kadatangan Yesti dan Melki Ke rumah saya, Saya Merasa terharu, Mereka anak muda yang Memiliki hati untuk membangun desa ini, jadi saya menyetujui proposal mereka, selain itu juga saya melihat tanggungjawab mereka selama ini setiap kepercayaan yang di berikan, mereka sangat tanggungjawab dalam menjalankannya“, katanya.

Hasil kerja keras Yesti dan meliki, pada akhirnya Kelompok ini medapatakan suntikan Vitmn Multiguna sebesar Rp. 18.000.000-;. Anggaran yang cukup besar ini dikelola oleh kelompok karang Taruna dengan 3 jenis usaha yakni usaha Kios, Ternak babi dan simpan pinjam, dengan jumlah anggota kelompok ini 10 Orang yang terdiri dari anak putus sekolah dan pengangguran. Hingga saat ini, 3 jenis usaha yang dilakukan masih berjalan dengan baik dengan pengembalian cukup teratur dan kelompok ini sudah memiliki modal usaha sebesar Rp. 22.000.000-;. Capaian yang membagakan, jika dibandingkan kelompok usaha lain di desa lain dan bahkan dalam desa pengembaliannya belum berjalan dengan baik dan bahkan tidak ada pengembalian untuk digulirkan kepada yang membutuhkan. Namun sapa di sangak pada kelompok yang Dimotori Yesti dan Melki berhasil melampau modal sebesar Rp. 4. 000. 000,-.

Ahaaaaaa,,,,!!!!!!!!!!!!!! ternyata, Resep yang mereka gunakan dalam kelompok ini adalah resep TKLD!!!!!!. Melki dan Yesti sebagai jantung kelompok dan anggota kelompoknya aktif melakukan sharing pembelajaran dan peningkatan kapasitas serta peretemuan rutin kelompok dan evaluasi. Hal ini dilakukan, Karena kelompok ini juga, merupakan Ruang pembelajaran bersama bagi anak muda untuk membangun desa. Sekolah yang dilakukan adalah tentang system pembukuan dan pembuatan laporan pertanggujwaban. Hasil kegiatan dan laporan Kelompok dipublikasikan pada media informasi seperti papan Informasi desa sehingga bisa di akses oleh semua pihak.

Dengan tempramen yang keras mebuatnya menjadi pekerja keras, dengan kerja keras pula, Perempuan penyandang gelar lajang ini mampu membagi waktu dalam menjalankan peran dan tugasnya sebgai KPM Desa Pahola. Dengan watak yang keras dan komitmen yang tinggi juga membuatnya menjadi perempuan Perkasa dan penuh tanggungjawab atas tugas dan peran yang di embannya

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08925 seconds.