Te Godek-godek (Si Kera) dan Te Tontel-tontel (Si Kodok)
Suatu ketika dahulu kala di zaman para hewan bisa bicara. Di sebuah daerah yang masih hijau dan jauh dari perkampungan manusia, hiduplah seekor kodok yang penyabar dan baik hati. Ia adalah Te Tontel-tontel tau dalam bahasa Indonesia Si Kodok. Tidak jauh dari tempat tinggal Te Tontel-tontel, hidup seekor kera yang pemalas, licik namun bodoh, ia adalah Te Godek-godek atau dalam bahasa Indonesianya Si Kera.
Suatu ketika, di langit awan terlihat hitam menggumpal dan akhirnya menutupi seluruh langit Negeri Rimba Lombok. Hujan turun sangat lebatnya. Guntur dan petir bersahut – sahutan, anginpun berhembus dengan kencang menggoyang pepohonan. Banyak pohon yang tumbang atau patah dahannya. Air mengalir dan tergenang di sana sini, selokan dan kali menjadi banjir.
Sementara itu di salah satu gundukan tanah basah yang kokoh, Te Tontel-tontel alias Si Kodok, duduk di dalam liangnya di bawah pangkal pohon asam di antara akar – akar pohon. Di situlah Te Tontel-tontel bertempat tinggal. Ia duduk memandang air curahan hujan sambil menghirup kopi hangat. Di pojok kamarnya ada tungku menyala untuk menghangatkan tubuhnya. Sebentar bentar ia memasukkan ranting – ranting kecil untuk umpan perapian agar tetap menyala.. Sudah menjadi tabiat bangsa kodok yang sangat senang melihat hujan turun.
Lain pula tabiat bangsa monyet. Te Godek-godek alias Si kera yang tinggal di dahan pohon asam itu menggerutu terus.
“Ah……hujan sialan. Saban hari turun terus. Macam ia yang punya dunia ini!” omelnya. Te Godek-godek berusaha berlindung di lubang pohon di antara cabang pohon asam asam. Tetapi bagaimanapun ia menyembunyikan badanya angin deras telah menyiramkan air hujan ke tubuhnya.
“Jadik jamak…..angin kurang ajar bikin baju mantel buluku jadi basah. Disangkanya ada tukang binatu yang gampang mau menyeterika mantelku”. Gerutunya lagi. Kemudian karena tak tahan kedinginan turunlah paman kera ke pangkal pohon.
“Cruk…cruk…..cruk..” bunyi kakinya menginjak tanah becek berlumpur.
“Assalamu’alaikum !” Sapanya kepada kodok.
“Alaikum salam !” Jawab Te Godek-godek..
“Silahkan masuk Nyet... Di luar cuaca sangat buruk nanti paman bisa sakit kehujanan”, Ucap Te Tontel-tontel penuh persahabatan.
“Ya ya benar, gara – gara hujan dan angin bandel ini penyakit encokku mau kambuh. Lihat mantel bulu buatan parsi yang ku pakai ini jadi basah dan kotor, ah…….aku benar– benar benci sama hujan macam begini!” Sumpah si kera. Kodok alias Te Tontel-tontel hanya tersenyum saja lalu mengambil secangkir kopi hangat.
“Ah……secangkir kopi di kala hujan, badan dingin menjadi segar. Petir dan guruh jadi gamelan…….ah seperti bunyi syair saja”, Celoteh si kera kemudian meneguk kopinya. Dalam perbincangan mereka sambil minum kopi itu mereka sepakat untuk pergi menghadang batang pisang yang hanyut di sungai.
“Batang pisang itu kita tanam sama – sama separuh. Nanti kalau berbuah alangkah sedapnya buah pisang yang masak di pohon” Kata Si Te Godek-godek berpromosi.
Tak lama pergilah mereka ke kali menghadang pisang yang hanyut.
“Tontel saya tugasnya untuk melihat dari sini ya, kalau-kalau ada pohon pisang yang hanyut. Nah ente yang nyebur kekali untuk mengambil. Aku alergi sama air lumpur, nanti kulitku gatal – gatal.” Kata Si Te Tontel-tontel.
“Baiklah… Godek, tahu saja kalu aku jago berenang.” Ujar Te Tontel-tontel setuju.
Beberapa saat menunggu, dari kejauhan tampak sesuatu hanyut terombang ambing derasnya air kali yang keruh. Semakin lama semakin mendekat.
“Na…lihat wahai Te Tontel-tontel, itu dia batang pisang yang kita tunggu-tunggu.” Teriak Te Godek-godek
“Mana-mana… hiaaat… .” Kecebuuur… demikianlah suara air kali tatkala Te Tontel-tontel segera menceburkan badanya ke kali hendak mengambil batang pisang yang dimaksud.
“Eeeek… Bukan, ternyata itu hanya Te Aaa Iiii...” Teriak Te Godek-godek, ternyata yang dikira batang pohon itu kotoran manusia yang kuning dan panjang.
Beberapa saat kemudian…
“Na…lihat Tontel, itu dia batang pisang yang kita tunggu-tunggu.” Teriak Te Godek-godek.
“Mana-mana… hiaaat… .” Kecebuuur… demikianlah suara air kali tatkala Si Te Tontel-tontel kembali segera menceburkan badanya ke kali hendak mengambil batang pisang yang dimaksud.
“Eeeek… ternyata bukan, itu hanya sebuah sandal putus.” Ujar Te Godek-godek setelah tahu ternyata yang dikira pohon pisang itu hanya sebuah sandal putus yang hanyut.
Beberapa saat kemudian…
“Na…lihat yang itu wahai Te Tontel-tontel, itu dia batang pisang yang kita tunggu-tunggu.” Teriak Si Paman Kera tahu yang kita sebut Te Godek-godek
“Mana-mana… hiaaat… .” Kecebuuur… demikianlah, kembali suara air kali tatkala Paman kodok atau yang kita sebut Te Tontel-Tontel .. lagi-lagi segera menceburkan badanya ke kali hendak mengambil batang pisang yang dimaksud.
“Eeeek… ternyata bukan, itu ternyata pohon pinang…..”
“Arrroooo Lasing…matamu itu kurang tajam paman kodok, sandal. Kotoran, pohon pinang macam-macamlah dikau kira pohon pisang… Arrrowww side enne beremmmbeee…” Gerutu Paman Kodok.
Begitulah seringkali Paman kera salah mengira sesuatu yang hanyut merupakan batang pohon pisang. Sesering itu pula Paman Kodok Kecebuuur menceburkan diri hendak mengambil pohon pisang yang dimaksud. Dan akhirnya…
“Na…… lihat itu paman kodok, itu jak pasti pohon pisang yang hanyut… dari sini sudah terlihat daunya… ayo paman kodok menceburlah….”
Kecebuuuurrrrrrrrrrr…… Suara air terbelah oleh tubuh paman kodok yang mencebur kekali.
“Ya sekarang Paman kera benar, ini dia yang namanya pohon pisang.” Ujar paman kodok, setelah dilihat ternyata itu benar-benar pohon pisang.
Setelah batang pisang dibawa ke darat, mereka lalu memotongnya menjadi dua bagian. Kera mengambil bagian pucuknya dan kodok diberinya bagian pangkal. Pada pikiran si kera tentulah bagian pucuknya itu akan lebih cepat berbuah. Mereka pun menanam pisang masing – masing. Paman kodok menanam pisangnya di dekat rumahnya. Dibuatnya lubang besar lalu diisinya dengan pupuk kandang. Sedangkan si kera menggantungkan pisangnya di pucuk pohon asam. “ah biar kalau berbuah aku sendiri yang bisa memetiknya”, katanya dalam hati.
Setelah beberapa hari ditanam mulailah batang pisang paman kodok keluar daunnya. Pada suatu pagi datang paman kera bertanya:
“Hai kodok sudahkah tumbuh pisangmu?”
“Baru berdaun dua” jawab kodok
“Ah aku juga begitu”. Kata kera.
Bagitulah ia saban hari datang bertanya kepada kodok.
“Bagaimana pisangmu kodok?”
“Baru keluar bunganya”, jawab kodok
“Ah aku juga begitu” kata kera berdusta karena sebenarnya batang pisangnya sudah kering. Suatu pagi datang lagi ia lalu bertanya :
“Bagaimana pisangmu kodok?”
“Sudah berbuah”, jawab kodok.
“Aku juga begitu” kata kera.
Akhirnya pada suatu hari masaklah pisang paman kodok. Bernas bernas dan besar buah pisangnya. Tangkai buahnya panjang hampir semeter. Kuning ranum rupa buah pisang itu menerbitkan selera. Paman kodok sangat ingin mencoba merasakan buah pisangnya. Dipanjatnya pohon pisang yang licin besar itu.
“Cangklekk…..cangklek…….. prruuuutt.cangklek……. pruut…!” selalu saja ia tergelincir jatuh. Dicobanya berulang – ulang tetapi tak berhasil juga. “Cangklek…….cangklek.prruuuttt!” ia melorot ke pangkal pohon. Tiba – tiba :
“Ehm…..ehm….assalamu’alaikum !” datang si kera.
“Ha…kodok rupanya pisangmu sudah masak. Akujuga begitu tetapi aku belum mau memetiknya. Aku masih menunggu tamu agungku si Raja Paung Jontot untuk mula merasakannya.
”Ucap kera penuh dusta. Karena paman kodok tidak pandai memanjat, maka ia minta tolong kepada kera.
“Biarlah anda yang memanjat, nanti buah pisangku kita bagi dua” kata kodok.
“Beres……beres….!” jawab kera. Sangat senang hati kera menerima tawaran itu.
Dalam beberapa langkah saja sudah sampailah ia di atas tandan pisang itu. Paman kera duduk dengan santai, matanya berkedip kedip dan mulutnya tersenyum lalu mulailah ia memilih buah yang paling besar :
“Nyam……nyam” dimakannya pisang yang manis harum itu.
“Hai kera berilah aku sebuah” pinta kodok.
“Ah belum keruan rasanya” jawab kera sambil memetik pisang yang lain.
“Nyam nyam nyam”
“Hai.. kera berilah aku bagianku” pinta kodok lagi.
“Ah belum keruan rasanya…..” jawab kera.
Begitulah kelakuan kera seterusnya. Ia memakan buah pisang itu dengan lahapnya. Bila si kodok meminta selalu saja di jawabnya dengan ucapan
“Belum keruan rasanya”.
Lama kelamaan jengkel hati paman kodok. Ia merasa telah diperdaya oleh temannya sendiri yaitu si kera. Karena marahnya kodok pun menyembunyikan kain si kera di bawah batok kelapa. Ketika kera melihat ke bawah tak tampak olehnya si kodok di situ. Kainnya juga tak ada lagi.
“Nah… pasti kodok telah menyembunyikan kainku” pikirnya
“Hai…. kodok dimana kau?” teriaknya. Diam dan tak ada yang menjawab.
“Hai… kodok dimana engkau ?” teriak nya lagi. Kodok diam saja bersembunyi di bawah tempurung kelapa.
“Hai… kodok ini pisangmu, mana kainku. Aku malu pulang telanjang tanpa kain. Ayo kembalikanlah kainku !” pintanya dengan beriba. Kodok diam saja tak mau menyahut. Karena tak ada yang menyehut turunlah kera dari atas pohon pisang. Dicarinya paman kodok kesana kemari sambil berterak – teriak.
“Hai kodok ini pisangmu, mana kainku ?” dicarinya kodok di semak – semak tetapi tak dijumpainya. Dicarinya di pinggir kali kalau kalau sedang mandi, disitu tak ada juga. Dikelilinginya pohon asam itu sambil memanggil manggil, tak ada.
Setelah capai mencari cari tak bertemu duduklah paman kera di atas batok kelapa dengan putus asa. Lalu ia memanggil lagi. Suaranya diperhalus dan memelas.
“Hai… saudaraku kodok yang baik hati, ini pisangmu, mana kainku ?” ia memanggil lagi.
“Kuk tul…. !” jawab kodok. Kera menoleh kebawah lagi. Ia sangat curiga kepada tititnya. Disangkanya yang menjawab itu adalah tititnya sendiri.
“Hai…. kodok dimana engkau. Ini pisangmu mana kainku ?” Tanya kera.
“kuk tel…” jawab kodok lagi persis dibawah tempat duduk kera.
Sangat geram hati si kera karena menyangka tititnya yang memperolok olok dia. Ia turun mencari batu besar lalu duduk kembali pada batok kelapa itu.
“Awas sekali lagi kau menjawab akan ku hantam kau dengan batu besar ini !” ancam kera kepada kemaluanya sendiri.
“Hai… kodok dimana engkau. Ini pisangmu mana kainku ?” Tanya kera. “kuk” jawab kodok. Lalu..
“Pok !” dihantamnya tititnya dengan batu di tangannya itu.
“Aaaaaaa..duuuuhhh…. aaaaaaaaakkkkk” Teriak si kera, dan sesaat kemudian suasana menjadi hening Kera pun matilah seketika itu juga, kodok segera keluar dari bawah tempurung kelapa.
Nah anak – anakku begitulah balasannya kalau orang suka berhati culas.
Sumber Cerita : Para Tetua Sasak yang diwawancarai Tim Kreatif Talenta Fm
- Talenta FM
- Sastra
- dibaca 1881x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.Net)-Anggota DPD RI, DR.H.Rahmat Shah berharap pelaksanaan E-KTP, sebagai salah satu pelaksanaan Undang-undang dapat dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, khususnya ketelitian
Medan (Suara Komunitas.Net)- Anggota DPD RI DR. H. Rahmat Shah menilai pelaksanaan Elektronik-KTP (E-KTP) yang ada hendaknya disempurnakan, baik dari jumlah peralatan maupun kesiapan sumber daya manusia
JAKARTA, Suarakomunitas – Barisan Pemuda Adat Lombok – Sumbawa ( Baralosa) merupakan salah satu tamu special dalam konser Glenn Fredly di Senayan Fx Mall Jakarta pusat pada 



