Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Potret Para Pemancing Ikan di Kuala Ie Leubeue Kembang Tanjong Berita

Kembang Tanjong-suarakomunitas.net. Bila pasang naik datang menjelang senja, mereka akan memancing sembari menikmati semburat jatuhnya mentari di ufuk barat. Kala itu, air sungai nyaris berubah warna mengikuti rona merah atau kuning telur matahari menjelang malam.Dan manakala azan magrib terdengar sayup-sayup dari sejumlah menasah dan mesjid di kampung-kampung sekeliling, orang-orang yang memancing segera mengambil wudzhuk di sungai itu dan lalu meununaikan shalat magrib di atas batu-batu besar yang berpermukaan datar.

Di saat-saat seperti itu, hati acap berbisik, “Tuhan, di tempat-tempat orang yang kami kira sedang lalai dengan keasyikan membelai obsesi bersama mata pancing dan gagang kail, ternyata di situ pun parahamba masih mengingat akan Engkau. Tuhan, berkahi kuala ini dengan ikan-ikanMu yang ramah pada setiap yang datang untuk memancing.”

Kuala Ie Leubeu adalah pengakhiran sungai Tiro yang dulu tidak begitu populer sebagai tempat memancing. Namun setelah dibangun susunan batu-batu besar yang memanjang sebagai bronjong penahan abrasi di kedua sisi muara dua tahun lalu, kini muara itu ramai dikunjungi warga dari kecamatan-kecamatan tetangga untuk melepas hobbi memancing.

Dengan adanya batu bronjong itu para pemancing dengan nyaman dapat berdiri atau duduk di kedua sisi sungai sembari menunggu kail dihentak ikan.

Muara Ie Leubeue terletak di sebuah kawasan pertigaan antara Gampong Tanjong Krueng, Gampong Lancang Barat dan Gampong Pasi Ie Leubeue, atau persis di sisi jalan kabupaten satu-satunya di kawasan pesisir tersebut, yakni sekira empat kilometer ke arah utara dari pusat pasar Kecamatan Kembang Tanjong, atau sekira 17 kilometer ke arah timur dari Kota Sigli sebagai pusat Kabupaten Pidie.

Para pemancing biasanya datang dari kecamatan-kecamatan nonpesisir di Kabupaten Pidie seperti dari Kecamatan Mutiara Timur, GlumpangTiga, Mutiara Barat, Sakti, Indrajaya dan Peukan Baro.

Sementara untuk mendapatkan udang pancing, calon pemancing bisa memilih antara yang gratis dan beli. Untuk yang gratis, pemancing bisa memanfaatkan reuleue (jaring ukuran kecil berbingkai) yang mereka bawa untuk menjaring udang langsung di tepi sungai atau rawa dan alur-alur kecil di sisi kuala.

Untuk pilihan kedua, mereka bisa beli langsung pada kios/warung-warung kecil di kawasan itu yang khusus menyediakan udang pancing dengan harga minimal Rp5 ribu.

“Enak sekali memancing di sini, apalagi saat sore-sore begini,” kata Sofyan, 45 tahun, warga Garot Gampong Aree, Indrajaya, Pidie yang sempat ditemui suarakomunitas.net sedang memancing di Kuala Ie Leubeue,beberapa waktu yang lalu.

“Kalau kemagriban, kita mudah mengambil wudzhuk di tepi sungai dan langsung shalat di atas batu ini. Dan saat antara sore dan magrib, kita bisa memancing sambil menikmati pemandangan matahari merah yang seakan-akan berada persis di ujung sungai,” pungkas Sofyan yang mengaku suka memancing di Kuala Ie Leubeue tiap akhir pekan, terutama usai menutup kedai usahanya sebagai tekhnisi/reparasi alat-alat elektronik di pasar Garot. ( soel,s)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09032 seconds.