Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Mayoritas Perempuan Gampong Busong Kembang Tanjong Perajin Tikar Pandan Berita

Kembang Tanjong.(SK)-Barangkali dan hanya barangkali, segenap warga Kabupaten Pidie mengira bahwa tikar pandan alias tika seukee hanya diproduksi di Gampong Peukan Baro, Rawa Gampong dan Gampong Pasi Rawa, ketiganya berada dalam Kecamatan Pidie dan Kota Sigli.Ternyata tidak samasekali. Paraperempuan tua-muda warga desa pedalaman Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, umumnya juga perajin tikar pandan di mana rata-rata setiap hari puluhan lembar beragam motif dan ukuran tikar tradisional itu, diproduksi dari gampong pesisir yang nyaris terisolir ini.

Cuma yang membuat Gampong Pusong hanya dikenal sebagai desa nelayan dan kurang diketahui sebagai desa perajin tikar pandan juga, itu karena wilayah pemasaran tikar produk gampong ini nyaris sepenuhnya ke wilayah Pidie Jaya, yakni ke pasar Luengputu, Ibukota Kecamatan Bandar Baru.

Nah, kenapa tikar bikinan paraperempuan Gampong Pusong tidak justru dipasarkan ke ibukota kecamatannya sendiri, pasar Kembang Tanjong? Rupanya ini terkait dengan letak desa tersebut yang secara geografis nyaris terkesan tak ada hubungan samasekali dengan wilayah daratan kecamatannya.

Desa Pusong terletak di garis pesisir Utara batas Timur Laut Kabupaten Pidie, di garis perbatasan antara Pidie-Pidie Jaya. Dibandingkan dengan sederetan gampong pesisir wilayah Kembang Tanjong seperti Gampong Lancang Barat, Lancang Timu, Pasi Lhok, Pasi Lancang, Jeumeurang, maka Pusong yang letaknya segaris-pantai dengan sejumlah desa itu, justru dipisahkan oleh muara Kuala Tari yang lebar.

Keterpisahan akibat muara sungai itu membuat jarak perjalanan darat antara Pusong dan Pasar Kecamatan Kembang Tanjong hampir mencapai lebih 25 kilometer. Sementara tempuhan darat antara Desa Pusong dan Luengputu, pusat Pasar Bandar Baru, Pidie Jaya hanya terpaut sekira 5 kilometer.

Maka tidak heran, secara kewargaan, masyarakat Gampong Pusong hampir tidak memiliki hubungan moril dan psikhologis dengan orang-orang Kembang Tanjong. Padahal mereka adalah warga sekecamatan

Orang Pusong kalau berbelanja, misalnya, dari belanjaan berat seumpama barang-barang elektronik dan bahan bangunan bahkan sampai ke sekeping sabun mandi, ya, membelinya ke Pasar Bandar Baru, Pidie Jaya.

Sementara, bila mereka hendak ke Pasar Kembang Tanjong, itu hanya untuk kepentingan administratif seperti mau bikin Kartu Tanda Penduduk (KTP) di kantor camatnya atau akta nikah di kantor Kuakecnya yang keduanya terletak di pusat pasar.

Maka al-hasil, jika mau membeli sebatang pipa saja enaknya di Keudee Luengputu, yang lainnya pun seperti, misalnya, menjual/memasarkan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di gampong ini, juga ke Luengputu.

Nah, begitu juga wilayah pemasaran tikar-tikar pandan hasil kerajinan ibu-ibu dan gadis-gadis Desa Pusong, justru bukan ke Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Tapi ke Bandar Baru, Pidie Jaya.

Kira-kira begitulah romantika kehidupan parawarga yang berkampung di garis tapal batas. Lebih bersaudara dengan tetangga dibandingkan berkasih-sayang dengan keluarga.

Padahal tika seukee bikinan Jamaliah Banda, 50 tahun, salah seorang dari sejumlah perajin tikar pandan Gampong Pusong, rajutannya sangat halus, rapi, lembut dengan bahan baku dedaunan pandan berduri yang terkenal memiliki tingkat porositas yang tinggi hingga membuat tikar tersebut bersifat kondisioner di mana dalam cuana panas dia akan mengeluarkan hawa dingin dan dalam cuaca menggigil dia akan menghawakan kehangatan.

Namun apa hendak dikata. Semua karya dari kearifan tradisi Gampong Pusong justru dinikmati sepenuhnya oleh parakonsumen Bandar Baru dan kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya. Bukan menjadi asupan kenyamanan bagi warga Kembang Tanjong dan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Pidie.  (soel)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09081 seconds.