Mereka Ada, Mereka Anak-anak Kita
Dunia anak adalah dunia bermain.
Belasan anak sedang asyik bermain sepakbola di sebuah gang sempit di daerah ”Riel” sebuah perkampungan tengah kota Solo, dengan antusias dan sangat senang hati. Sementara itu pemandangan lain dapat kita lihat keramaian jalan besar Solo, di sebuah jalan protokol kota solo anak-anak sedang asyik juga menyanyi di bawah terik matahari yang menyengat kulit sambil membawa alat sekadarnya ecek-ecek dari tutup kaleng sofdrink dan ada dari mereka bawakan hanya dengan tepuk-tepuk tangan. Baju mereka sangat dekil dan ini dapat langsung terbaca oleh setiap mata yang memandang atau bagi mereka yang berhenti di beberapa perempatan ”bangjo” mereka anak-anak jalanan.
Terlihat anak-anak ini sangat enjoy menikmati dunianya dan seakan-seakan tidak terusik dengan tatapan seribu mata yang memandang atau panasnya terik matahari. Ramenya lalulintas dengan kendaraan mulai dari becak, sepeda onthel, motor dan mobil, bahkan kalaupun hujun mengguyur dengan derasnya mereka tetap melenggang di jalanan.
Anak-anak menyanyi dengan nada yang kadangkala lari entah kemana nadanya, tak kalah dengan penyanyi profesional mereka dengan PDnya terus menyanyikan lagu-lagu dari band favortinya yang lagi HITS saat ini mereka mulai dari Ungu, ST12, D’MASIV, Raja, Peterpan, bahkan ada yang dengan sangat menghayati mereka menyanyi lagu seperti Tak Gendong, Bangun Tidur, Alun-alun Nganjuk yang Booming dan lagi digandrungi masyarakat. Sesekali senyum mereka merekah bangga dan senang setiap mendapatkan rupiah yang didapat, saling ”gojekan” dan berlarian sambil terus berharap mendapatkan recehan uang dari para pengendara tanpa menghiraukan keselamatan dirinya.
Tempat anak-anak tersebut dalam perjuangannya mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut dan bertahan hidup adalah di setiap ’bangjo” perempatan kota Solo, hampir setiap pagi, siang sore bahkan sampai larut malam kita bisa melihat aktivitas mereka di jalanan. Belum lagi kadangkala bagi mereka jalanan menjadi tempat bermain sepakbola, kejar-kejaran ataupun mencari makan untuk bertahan hidup.
Apa yang terjadi di beberapa perempatan, gang-gang kecil tersebut hanyalah contoh. Betapa sekarang Solo sebagai kota yang besar, berkembang dengan pesatnya dengan banyaknya hotel berbintang, mall-mall menjamur dan gedung-gedung mewahnya tidak ramah terhadap anak-anak.
Kembali pada permasalahan anak, sekarang mereka bermain di beberapa lahan yang tidak resmi “jalanan”, dengan semakin hilangnya lahan bermain anak di perkotaan (Solo khususnya) terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi perekonomian bawah, semua itu dikarenakan akibat arus Globalisasi dan Urbanisasi yang sangat pesat. Dan untuk masalah pembangunan hanya melihat dari sisi “Ekonomi dan Bisnis Semata”.
Perkembangan Kota Solo yang sedemikian pesatnya menyebabkan banyak masalah, salah satunya adalah terjadinya perubahan fungsi lahan yang sekarang dapat terlihat kebiasaan yang sering nampak masalah perpakiran, PKL, hunian liar dan yang tak kalah dengan semua itu adalah tempat bermain anak-anak. Biasanya dari pemerintah dan pihak swasta mengubah fungsi ruang terbuka yang hijau dan aman untuk bermain anak-anak menjadi ruang yang padat dengan bangunan-bangunan dan ini dapat terlihat dengan banyaknya bermunculan mall tersebut.
Meskipun kita tidak menutup mata mall-mall tersebut telah dilengkapi dengan fasilitas “bermain untuk anak-anak” tetapi bisa ”sepertinya hanya” diperuntukkkan bagi mereka yang berkantong tebal. Sekarang yang menjadi pertanyaan besar kemudian bagaimana dengan anak pinggiran?
Hampir dapat dilihat di berbagai wilayah di Indonesia tidak dirancang khusuus untuk ruang aman bagi anak-anak, akhirnya ketika anak-anak tumbuh remaja mereka menjadi generasi yang labil dan kerap melakukan tindak kriminal, kekerasan bahkan pengrusakan pada diri bahkan kepada oranglain, seperti menjadi pencandu narkoba, minum-minuman keras, pemalakan, tawuran, sex bebas bahkan ada dari mereka yang masuk dalam dunia prostitusi. Ini sangat mengkhwatirkan karena mereka masih anak-anak dan dunia mereka masih panjang selain itupun dari mereka masih dalam usia sekolah.
Semakin memprihatinkan kondisi mereka, di sisi lain anak-anak ini ”seakan-akan bangga” atau karena tidak ada sebuah pilihan dengan kelas ”imitasi” dari para tokoh idola mereka yang merupakan hasil rekayasa globalisasi dan paham kapitalis yang berkembang. Siaran TV yang kerap ”menyajikan menu” kekerasan, percintaan, menjadi santapan sehari-hari bagi anak-anak. Tayangan pronografi dan kriminal yang diilustrasikan dengan sangat gambalang ”mau tidak mau” harus ditelan mentah-mentah oleh anak tanpa menyaringan dan ini tentu hasilnya akan membawa mereka pada perkembangan jiwa yang tidak sehat dalam perkembangan hidupnya ke depan.
Siapa yang bertanggungjawab atas semuanya tersebut? Dalam hal ini bagaimanapun Negara dalam hal ini Pemerintah kabupaten (Pemkab) ataupun Pemerintah Kota (Pemkot) “bisa “ disalahkan sebagai perusak masa depan anak, begitu juga para inventor, penguasaha dan pebisnis yang “hanya” mengejar keuntungan mereka sendiri.
Berbicara tentang Pemerintah kadangkala yang terjadi dalam membuat kebijakan “tidak” berpihak pada masyarakat terutama anak-anak. Dalam hal ini tentunya kita bisa meilhat dari beberapa uraian di atas. Pemerintah masih sangat kurang dalam memberikan ruang/tempat bermain yang layak untuk anak.
Di Solo sendiri sebenarya untuk masalah kebijkan sudah “lumayan” bersperspektif pada anak tetapi pada tatanan implementasinya “:masih dipertanyakan komitmenya”. Ada forum anak Surakarta, tempat bermain bagi anak, rumah cerdas/baca untuk anak tetapi ini tidak melibatkan partisipasi anak-anak lebih pada persepektif orang dewasa dan cenderung tidak sebanding dengan jumlah anak yang ada di Solo, lagi pula semua itu “hanya bisa diakses” oleh mereka dari kalangan menengah ke atas.
Komitmen bersama antara Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dengan para pengusaha, masyarakat dan pelibatan anak-anak di dalamnya untuk mengembangkan potensi anak di mana depan dan tentunya agar terdapat tempat bermaian yang aman untuk anak dan baik untuk perkembangan ke depannnya, ini menjadi sangat penting dan harus segera dilaksanakan dengan demikian kita bisa “memberikan” kenyamanan dan kelayakan anak-anak dalam bermain dan mengakses apa yang menjadi hak-haknya secara maksimal.
Andy Susanto
Manager Progam
Yayasan gunungan SEHATI
Phone : 0271-718492, 081226350205
- n/a
- Pengalaman
- dibaca 1174x
- [0] komentar




JAKARTA, Suarakomunitas – Barisan Pemuda Adat Lombok – Sumbawa ( Baralosa) merupakan salah satu tamu special dalam konser Glenn Fredly di Senayan Fx Mall Jakarta pusat pada
Sesait,(SK),--Menjelang sore hari akan dilakukan persiapan Memajang atau Ngengelat yang akan dilaksanakan setelah sholat Asyar berjamaah sampai menjelang waktu sholat Magrib dan Isya
Sesait,(SK),--Kegiatan bisok menik (cuci beras) bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.Lokasi bisok menik ini tidak pernah diubah sejak zaman
Medan (Suara Komunitas.Net) Keberadaan KPID Sumut ke depan tidak hanya berkutat kepada persoalan perizinan. Tapi harus direvitalisasi termasuk keberadaannya guna menggali berbagai potensi ekonomi daerah.
Medan (Suara Komunitas.Net) KPID adalah polisi moral dalam bidang penyiaran, karena itu kehadiran KPID diharapkan mampu mengawasi isi siaran lembaga penyiaran sehingga dapat meminimalisir dampak yang 

-t.jpg)
