Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Catatan Tentang Sawerigading Kisah

Nama Sawerigading, sampai saat ini masih membekas dalam ingatan cultural masyarakat,bukan hanya di Luwu,Sulawesi Selatan,namun juga di berbagai daerah di Nusantara ini bahkan sampai kemanca Negara.sosok lelaki ini dikenal sebagai manusia perkasa keturunan dewa yang memiliki kemampuan yang luar biasa.Ia mengembara keberbagai tempat dan kehadirannya kerap dikaitkan dengan benda atau berdirinya sebuah kerajaan.Namanya termaktup jelas dalam Sureq Galigo.

Meski nama Sawerigading sebagai sosok yang menyejarah sangat dikenal,namun masih banyak yang belum mengetahui nama lain dari tokoh heroik ini.Nama-nama Sawerigading dan artinya ini dijelaskan dalam Sureq Galigo.Pemberian nama /gelar kepada Sawerigading disebabkan kesaktiannya dan kepribadian yang dimilikinya.adapun nama/gelar yang dimilikinya yaitu:

 

1. Pati Ware pemberian nama pada waktu lahirnya.

2. La Maddukkelleng namanya di Wariwangeng.

3. Sawerigading namannya di Luwu.

4. La Tenritappu namanya di Toddattoja.

5. La Tenriwerru namanya di Peretiwi

6. Langi Paewa namanya di Boroliu

7. Pamadalette namanya di Angkasa

8. Opunna Ware namanya di Watampare

9. To Ampanyompa namanya di Bone.

Arti nama tersebut yakni :


1. Pati ware artinya Walikota


2. La Maddukkelleng artinya Sungguh Mulia.


3.Sawerigading artinya Mengembangkan Kemuliaan.


4.La Tenritappu artinya Mulia Asli.


5.La Tenriwerru artinya Mulia Sempurna.


6.Langi Paewa artinya Maha Perkasa.


7.Pamadalette artinya Mengatasi sesamanya Pahlawan. 9.To Ampanyompa artinya Menundukkan setiap pribadi dalam kebenaran.


Sawerigading adalah seorang Putra Mahkota Kerajaan Luwu yang dilahirkan di Kerajaan Luwu [Kabupaten Dati II Luwu] di salah satu Kampung yang bernama Pensiumuni [Ussu] wilayah Kecamatan Malili yang terletak +_ 170 KM dari Kota Palopo.[Daerah ini sekarang berada dalam wilayah Kabupaten Luwu Timur.Daerah Luwu sejak tahun 2000 telah dimekarkan menjadi 3 Kabupaten dan 1 Kota yakni Luwu,Luwu Utara,Luwu Timur dan Kota Otom Palopo].


Sawerigading terlahir dari seorang Ibu Maddaratakku bernama We Datu Sengngeng [dari Kerajaan Tompo Tikka] dan nama bapaknya ialah Batara Lattu yang merupakan Pajung/Datu yang ke II di Kerajaan Luwu.Sawerigading dilahirkan dalam keadaan kembar.Saudara kembarnya adalah seorang Putri yang diberi nama Etenri Abeng [We Tenri Abeng]


Sawerigading termasuk pemuda yang gagah perkasa dan tangkas.bentuk hidung dan sinar matanya yang menarik,bentuk gigi dan bibirnya yang kemerah-merahan yang sangat mempesona.seluruh pasangan anggota badannya sangat serasi.Begitulah yang diuraikan dalam Buku La Galigo; Mappuji Pujinna Panre Patangnga,mengatakan �Malebbi lingkajo La Tenri Tappu� .Artinya,Mulia asli keseluruhan anggota badan La Tenri Tappu [Sawerigading].


Sawerigading terkenal sebagai orang yang sakti di samping ahli di bidang perang dan pelayaran.Ia seorang kelana/pengembara yang gagah berani dan di segani dimana-mana.Sawerigading termasuk pengembara yang pernah berkelana ke seluruh negeri yang ada di Asia Tenggara dan Timur Jauh. Kesaktian yang dimiliki Sawerigading antara lain,dapat berperang melawan musuhnya di atas angkasa,dapat memindahkan Gunung,dapat menghidupkan kembali pasukannya atau pasukan musuh yang gugur dalam medan peperangan dan juga dapat menjadikan ayam putih menjadi ayam hitam dan lain sebagainya.seperti dalam syair lagu Tari Jaga Sulassana yang mengatakan: Sulassana napabongngo,panre napakawewe,rimannaungenna..yang artinya:Ahli hukum menjadi bodoh,cendekiawan tercengang,perlakuan yang di sertai mauna dari Tuhan [Hidayatu minallah].


Kesaktian dan kemampuan yang dimiliki Sawerigading ini dapat di kategorikan sebagai mu�jizat laksana Nabi.karenanya Sawerigading dapat di kategorikan sebagai Nabi tapi bukan Rasul.benar atau salah kita kembali kepada Tuhan.hal ini dapat dibuktikan ketika Sawerigading berusaha untuk lebih memantapkan /meyakinkan keyakinan-nya serta sumber pemberi kesaktian yang dimilikinya [Prilaku yang luar biasa],maka iapun menghadap kepada ayahnya Batara Lattu.


KETIKA SAWERIGADING MENCARI TUHAN


Dengan kesaktian yang dimilikinya. Sawerigading menanyakan tentang Yang Maha Kuasa Sang Pencipta Alam Semesta.Seketika itu ayahnya,Batara Lattu,menyuruh Sawerigading menanyakan selanjutnya ke ayah Batara Lattu yang bernama Batara Guru [Pajung/Datu I di Kerajaan Luwu] yaitu nenek dari Sawerigading.


Ketika bertemu dengan kakenya,Batara Guru,dan menanyakan tentang Yang Maha Kuasa,iapun lantas menyuruh Sawerigading agar menghadap kepada Patotoe [ayah dari Batara Guru] untuk menanyakan hal tersebut.Dengan kesaktian yang dimilikinya,Sawerigading pun berangkat ke Botting Langi [Duania Atas],menghadap Patotoe untuk menanyakan mengenai Yang Maha Kuasa.Namun,Patotoe menyuru cucunya Sawerigading naik lebihlanjut ke atas untuk menghadap kepada Dewata Matenru Alameng Massulengka untuk menanyakan hal tersebut.Pada akhirnya pula Dewata Matenru Alameng Massulengka memberitahukan kepada cucunya Sawerigading bahwa sebenarnya bukanlah saya Yang Maha Kuasa tetapi Tuhan Semesta Alam. Dikatakan dalam bahasa Galigo dengan sebutan Puang Palanro,Datu sanra Langi yang berarti Tuhan Pencipta,menguasai seluruh Alam Semesta.untuk mendapatkan petunjuk mengenai Puang Palanro Datu Sanra Langi,Sawerigading pun dituntun oleh Dewata Matenru Alameng Massulengka untuk melakukan Munajat. Dalam bahasa Luwu/Galigo disebut Mappinangrakka yang berarti Tafakkur/Berserah diri lahir dan batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.. Cara ini dilakukan dengan duduk Tarabu,melipat kedua kaki sambil memejamkan kedua mata.Berdasarkan petunjuk yang diberiakn oleh Datuknya / Datu Dewata Mattenru Alameng Massulengka,Sawerigading pun lantas melakukan proses Munajat untuk Mappinangrakka..Sesaat kemudian Sawerigading berada dalam ketidaksadaran diri,hilang diri dalam suasana Masiawallah yakni dalam wujud Allah semata-mata justru oleh karena telah beralih perasaan batin terhadap suatu keadaan yang tidak bersisi,tidak lagi kanan dan kiri,tidak lagi muka dan belakang,tidak atas dan bawah serta pada ruang yang tidak berbatas,tidak bertepi justru dimana pikiran hilang dayanya.Dia telah mencapai martabat Waliullah atas pertolongan Allah.Keadaan inilah yang disitir oleh syair dalam bahasa Luwu sebagai berikut:


Narekko maddiminni atae ripuanna


Maddimittoni puangnge ri atanna


Naripassampukini sampu apuannge


Nari pallingkajo lingkajo apuangeng


Artinya:


Bila hamba telah cinta Kepada Tuhannya,Maka Tuhan Cinta juga kapada Hambanya sehingga hamba diliputi dan dianugrahi rahmat Kekuatan.Dengan khasiat Munaja /Mappinagrakka tersebut Sawerigading semakin menunjukkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Sawerigading pun senantiasa mengucapokan doa:


Ulawengnga ri Nabie


Salakawa ri Malaikae


Intangnga Ri Allataalah


Artinya:


Ya Tuhanku berikanlah nilai Emas atas Nabi,dan Perak atas Malaikat,Serta nilai Intan atas Allah SWT.


Sawerigading memandang Nabi laksana Emas,dalam arti memiliki nilai dan Kemuliaan.Malaikat dipandangnya laksana Perak dalam arti putih dan bersih mengkilat dan menarik.Seterusnya keberadaan Allah SWT,dipandangnya sebagai Intan yang berarti Putih bersih lahir dan batin yang memiliki Sinar / Cahaya untuk suasana yang gelap gulita.


Pencapaian yang dialami oleh Sawerigading terhadap KeEsaan Tuhan membuat Datu Dewata Mattenru Alameng Massulengka pun bertanya :


Apakah engkau telah melihat


Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mulia


Sungguh dia Sang Pencipta yang tidak


Ada Serikat baginya


Jawab Sawerigading:


Jikalau ditanyakan,Tuhan Yang Maha Kuasa


Tidak ada Duanya yang Mencipta,


Nanti manusia itu telah mati,


Tenggelam seperti Air/hancur lebur


Baru akan melihat Tuhan


Secara syariat, kalimat tersebut dapat diterjemahkan bahwa;Untuk melihat Tuhan terlebih dahulu harus melalui prosesmati.Melalui mati baru akan bertemu dengan Syurga.Sedangkan bila dikaji secara mendalam menurut Ilmu Tasauf,maka kalimat tersebut dapat dipahami maknanya bahwa;Mati/fana�hilang diri[insun] lenyap dalam Tuhan baru bertemu dengan penyaksian suci murni tiada taranya dan sesamanya..Berdasarkan pengertian/pemaknaan inilah yang dicapai oleh Sawerigading.Akan tetapi pengertian ini tergantung tingkat Ilmu Pengetahuan yang dimiliki seseorang.


Ada empat tingkatan pengetahuan yaitu:


1.Tingkatan pengetahuan Ilmu Yakin.pada tingkatan ini,manusia dapat memahami/menerima sesuatu meskipun ia belum pernah melihat atau merasakan sesuatu tersebut.sebagai contoh tingkat Ilmu Yakin; Apabila seseorang mendengarkan/memperoleh Informasi bahwa di Masjidil Haram Mekkah terletak Baitullah yang merupakan tempat Ibadah bagi ummat Islam,maka penyampaian/Informasi itu dapat ia yakini kebenarannya sekalipun ia belum pernah melihat langsung.


2.Tingkat Pengetahuan Ainul Yakin.Tingkat Ainul Yakin;Yaitu sudah pernah melihat Baitullah namun bersifat sambil berlalu saja.


3.Tingkatan Pengetahuan Haqqul Yakin.Tingkat Haqqul Yakin;yaitu disamping sudah melihat,juga diperhatikan serta mengetahui bentuk,warna,ukuran Tinggi,panjang dan lebar [bertawaf].


4.Tingkat Pengetahuan Kamalul Yakin. Tingkat Kamalul Yakin;Adalah tingkat yang sudah mencapai kesempurnaan yaitu disamping sudah melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri,juga telah pernah merabah dan mencium dan merasakan �HAJARATUL ASWAD� yang ditancapkan pada Baitullah dimana batu tersebut berasal dari Syurga yang dapat menjadi saksi kelak di hari kemudian bagi ummat yang telah pernah Menziarahi,baik yang langsung maupun dengan isyarat melalui tangannya.


SAWERIGADING MENCARI CINTA


Dalam kitab Galigo bahwa pengembaraan Sawerigading kerap mengguanakan perahu [Wakkang].oleh masyaraka,keberadaan perahu Sawerigading tersebut hingga sekarang masih ada dan terdapat di hulu sungai Malili dan Hulu sungai Masamba.Meski demikian perahu ini sudah menjelma menjadi Batu,tetapi wujudnya masih menggambarkan bentuk perahu.Ketika Sawerigading hendak menuju ke Negeri Cina,Sawerigading mulai berlayar dari Kecamatan Malili melalui Teluk Bone sampai di Pulau Selayar dan mengganti perahunya disana.


Konon bekas perahu Sawerigading itu ditinggalkan di pulau Selayar dan tetap dipelihara baik dan dijadikan barang sakti oleh Masyarakat Pulau selayar dan di pulau Selayar terdapat juga suku Luwu sejak zaman Sawerigading.perjalanannya pun diteruskan ke barat mengarungi Laut Jawa dan singgah di Pulau Bali dan mendapat tantangan yang pertama dalam perjalanannya dan berhasil di kalahkan oleh Sawerigading.Dari peristiwa itulah penamaan Bali diberikan dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Luwu, Bali berarti Lawan. Seterusnya Sawerigading melanjutkan perjalanannya melaluiLautan Tiongkok dan tiba di Benua Cina.


Dalam perjalanan Sawerigading kembali ke tanah kelahirannya banyak menurunkan anak buahnya di daerah Palu Sulawesi Tengah karna daerah tersebut sangat subur yang dialiri sungai yang sangat jernih dan kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke Luwu.Disinilah pertama-tama Sawerigading melihat Etenri Abeng,adik kandung-nya yang memiliki paras wajah yang sangat cantik serta menawan hati dan Sawerigading langsung terpesona sekaligus jatuh cinta dan ingin mempersunting adik kandungnya.


Karena Sawerigading ingin mempersunting adik kandungnya,maka ayah Batara Lattu dan ibunya We Datu Sengngeng merasa susah memecahkan persoalan ini. Maka kedua orang tua Sawerigading memanggil Rajeng Maddopa yang dianggap berpengalaman dan di segani di Negeri Luwu. Namun,Sawerigading yang sudah begitu mendalam cintanya kepada adiknya tidak menghiraukan nasehat Rajeng Maddopa.


Melihat kekerasan pendirian kakanya,Etenri Abeng kemudian memohon kepada ayah serta ibunya untuk mencoba memberi pengertian terhadap kakanya Sawerigading,akan tetapi sebelum Etenri Abeng memberikan petunjuk,ia meminta agar semua sepupu sekalinya sebanyak 40 orang ikut hadir menyaksikan di Istana Luwu.setelah berkumpul,Etenri Abeng keluar dari Guarinya [Kamar] sambil menuju tempat diaman sawerigading duduk dan langsung memberikan peringatan serta petunjuk kapada Sawerigading sebagai berikut:


Sayangilah saya kakak Dukelleng [Sawerigading],Supaya engkau jangan memperhatikan aku,Dan saya tunjukkan seorang kesayangan yang tak ada saingan kecantikannya dimana-mana.


Hanya satu cetakan dari Yang Maha Kuasa,Kami di ciptakan berdua.


Sawerigading menjawab: Dimana ia berada sedangkan ia tidak pernah di sebut-sebut di Luwu.


Kemudian Etenri Abeng menjawab:


Dia berkedudukan di tanah Bugis, Kampung Cina,Binti Lasattungpugi,Yang bernama We Cudai,Alias Daeng Risompa,mempunyai kekuasaan di Daerah Tanete, Bila engkau melihatnya lantas tidak sama kecantikannya dengan saya, kembalilah kemari dan kawinilah saya.


Mendengar pernyataan adiknya, Sawerigading lalu bertanya,� kalau demikian perahu mana yang saya gunakan? �. Maka Etenri Abeng memberikan jawaban dengan petunjuk: Ada kayu di Mangkutu,kayu Betao yang tumbuh sendiri,yang dijadikan tempat agung Ular Sawah menrelli,beserta Lipan bersusu-susun,dan menjadi tempat bersarang berbagai macam burung.


Kayu inilah yang dibuat perahu untuk di pakai berlayar menuju ke tanah Cina untuk memperistri-kan We Cudai.Ketika pohon ini di tebang menimpa gunung dan mengakibatkan gunung tersebut terbelah dua. Dan akhirnya diberi nama Bulu Poloe yang artinya Gunung Patah yang terletak di Wilayah Malili.akan tetapi jika melalui jalur ini harus lebih berhati-hati sebab,konon jalur tersebut di kramatkan oleh sebahagian Masyarakat Luwu.


Dalam pelayarannya mempersunting We Cudai, Sawerigading beberapa kali mendapatkan rintangan/tantangan yang selalu dilaluinya dengan peperangan,ia menghadapi musuh tujuh kali, meski demikian kesemuanya dapat di lumpuhkan/dikalahkan dan musuh yang terakhir ialah Sattia Bonga alias Lompeng Rijawa yang juga bermaksut memperistrikan We Cudai.Sawerigading lalu mengajukan pertanyaan kepada Settia Bonga sebagai berikut:


Apaka masih ada pahlawan saudara yang akan mengadakan perlawanan ?


Jawab Sattia Bonga:


Engkau wahai Tuan laksana angin sedang kami laksana daun Kayu.dimana angin bertiup disitulah kami terdampar. Pengakuan kekalahan Sattia Bonga kepada Sawerigading yang akhirnya Sawerigading memberikan bantuan kepada sattia Bonga untuk mengangkut pasukannya kembali di pangkalannya semula. Setelah semua musuh yang menantang Sawerigading dikalahkan, perjalanan pun diteruskan dan akhirnya tiba dengan selamat di Cina dan kemudian berhasil menikahi We Cudai.


CINRELLANA SAWERIGADING


Cinrellana berasal dari bahasa Luwu yang terdiri dari dua suku kata yakni Cinre dan Lana yang berarti,� Ada dan Tidak ada �. Jadi apabila kata Cinrellana ini ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia adalah kurang lebih artinya adalah sesuatu yang di asingkan. Jadi,misalnya,seseorang yang di asingkan,seakan berada di antara ada dan tidak ada.


Cinrellana adalah peristiwa yang terdiri atas diri Sawerigading bersama istrinya We Cudai setelah tiga tahun lamanya bersama istrinya hidup berkasih sayang di Cina.Ketika rombongan Sawerigading tiba di Luwu mereka disambut dengan meriah dan penuh keakraban oleh Masyarakat Luwu hingga memasuki istana ayahnya [Batara Lattu] dalam keadaan yang aman dan tentram.


Ketika tiba dihadapan Batara Lattu,Sawerigading pun menghaturkan sembah,kemudian Batara Lattu [Pajung Luwu] mengajukan pertanyaan kepada anaknya [Sawerigading] tentang hal sumpah Sawerigading yang tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di tana Luwu [Dalam bahasa Galigo dikatakan Maccucu Piu. Sumpah tersebut memang pernah diucapkan oleh Sawerigading ketika ia harus meninggalkan Tana Luwu,untuk meminang We Cudai Wanita yang di tunjukkan adik kandungnya.


Mendengar pernyataan ayahandanya itu, sawerigading lalu menjawab,�Terserah ayahandah terhadap hamba.Apa kehendak ayah-handa itulah yang terjadi.� Mendengar jawaban anaknya itu,Batara Lattu tidak langsung memberikan keputusan.Ia pun mengambil kesimpulan untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Datu Dewata yang akan berkumpul di Luwu,baik Dewata dari Langit maupun Datu/Dewata dari Boroliu. Para Dewata ini akan berkumpul untuk membicarakan mengenai akan turunnya Al-Qur�an diDunia ini.Pada saat itulah baru akan dibicarakan persoalan Cucu Piu atau sumpah yang sawerigading telah ucapkan.


Setelah berkumpul Datu Dewata di Watang-pare ][Ibu kotra Kerajaan Luwu] akhirnya merekapun mengambil keputusan sebagai berikut:


1.Dunia akan dibersihkan.


2.Pemerintahan di dunia akan diadakan perobahan.


3.Dalam bahasa Galigo dikatakan:


4.Maeloi Ritu Ri Anipperi Engkaukengnge Ri Ale


5.Lino�,sebab Al-Qur�an akan di turunkan yang sudah seribu tahun diciptakan oleh Yang Maha Kuasa Allah SWT.


6.Sawerigading harus menigglkan Tanah Luwu dengan jalan diasingkan ke daerah Datuknya Guru Riselleng di Toddattoja.


Setelah Datu Dewata kembali ke daerahnya masing-masing,Datu Dewata Patotoe kembali ke Werewangeng [Langit] dan Datu Dewata �Guru Riselleng� kembali ke Toddattoja [Boro Liu] sambil menyusul Sawerigading bersama dengan Istrinya dan beberapa orang pengiringnya.


Rombongan ini melalui daerah antara lain,yaitu,Marapetteng,Peretiwi,dan Boro Liu,hingga akhirnya Sawerigading bersama rombongan pun tiba di daerah perasingan yakni Toddattoja.Daerah ini merupakan tempat tinggal Datuknya yakni Guru Riselleng.


Sejak tenggelamnya Sawerigading bersama rombongannya ke Boro Liu itu hingga sekarang keadaan Sawerigading tidak di ketahui.Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal.Pada saat Sawerigading di tempat perasingannya itulah Al-Qu�an baru di Nuzulkan dengan perantara Malikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira {Makkatul Mukarramah].

 


SUMBER: Buku Karangan KH.Siodja Dg.Mallonjo DI TERBITKAN OLEH PUSTAKA SAWERIGADING PALOPO BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH KOTA PALOPO {Editor Buku Idwar Anwar}Yang berjudul :� CATATAN TENTANG SAWERIGADING,SISTEM PEMERINTAHAN LUWU DAN MASUKNYA ISLAM�.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09325 seconds.