Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Tragedi Moral Di Wajo Kisah

Salah satu kelebihan sejarah di Wajo adalah mengisahkan secara terbuka masalah moral para bangsawan dengan tujuan untuk dijadikan contoh bahwa hukum tidak pandang bulu. Saya mencoba mengutip sepotong sejarah wajo (bahasa Bugis) dengan meringkas alur sejarahnya.

Tersebutlah Bata Wajo ke-3, La Pateddungi Tosamallangi (1466-1469). Baginda hanya memerintah selama 3 tahun karena diturunkan dari jabatannya dan dihukum mati oleh masyarakat Wajo lantaran perbuatannya yang tidak bermoral.
Salah satu kebiasaan buruk La Pateddungi adalah meniduri perempuan-perempuan yang bukan isterinya, termasuk isteri-isteri orang lain. Bahkan konon pernah meniduri sekaligus ibu dan anak gadisnya.

Untuk mengatasi kelakuan bejad Batara Wajo, La Pateddungi, maka Arung Saotanre mengumpulkan masyarakat Wajo untuk musyawarah. Akhirnya, La Taddangpare Rimaggalatung (sebelum menjadi Arung Matowa Wajo) menyanggupi untuk menasehati Batara Wajo agar merubah kelakuannya.
Kehadiran La Taadangpare diterima baik oleh Batara Wajo (La Pateddungi), tetapi disertai ejekan yang menyebut La Taddangpare sebagai " Arung topole-pole " (Mengapa La Taddangpare diberi gelar Arung topole-pole?.Perlu diskusi secara ilmiah).
Berkali-kali La Taddampare datang untuk memberi nasehat, namun La Pateddungi tidak menghiraukannya. Akhirnya diadakan lagi musyawarah dengan keputusan menurunkan La Pateddungi dari jabatannya dan menjatuhi hukum mati.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1469 yang merupaka sebuah tragedi sejarah di mana seorang raja dijatuhi hukum mati (mirip dengan nasib Saddam Husein). Semenjak itu terjadi kekosongan pemerintah di Wajo selama 5 tahun dan baru pada tahun 1474 dinobatkan La Palewo To Palippu menjadi Arung Matowa Wajo-I (1474-1482). Sedangkan La Taddangpare Rimaggalatung baru memerintah sebagai Arung Matowa Wajo ke-4 (1491-1521). Jika dilihat dari priode sejarah, maka usia La Taddangpare bisa mencapai 80 tahun.

Sumber : Lontara Attoriolongge ri Wajo. Disalin ke dalam huruf latinSalah satu kelebihan sejarah di Wajo adalah mengisahkan secara terbuka masalah moral para bangsawan dengan tujuan untuk dijadikan contoh bahwa hukum tidak pandang bulu. Saya mencoba mengutip sepotong sejarah wajo (bahasa Bugis) dengan meringkas alur sejarahnya.

Tersebutlah Bata Wajo ke-3, La Pateddungi Tosamallangi (1466-1469). Baginda hanya memerintah selama 3 tahun karena diturunkan dari jabatannya dan dihukum mati oleh masyarakat Wajo lantaran perbuatannya yang tidak bermoral.
Salah satu kebiasaan buruk La Pateddungi adalah meniduri perempuan-perempuan yang bukan isterinya, termasuk isteri-isteri orang lain. Bahkan konon pernah meniduri sekaligus ibu dan anak gadisnya.

Untuk mengatasi kelakuan bejad Batara Wajo, La Pateddungi, maka Arung Saotanre mengumpulkan masyarakat Wajo untuk musyawarah. Akhirnya, La Taddangpare Rimaggalatung (sebelum menjadi Arung Matowa Wajo) menyanggupi untuk menasehati Batara Wajo agar merubah kelakuannya.
Kehadiran La Taadangpare diterima baik oleh Batara Wajo (La Pateddungi), tetapi disertai ejekan yang menyebut La Taddangpare sebagai " Arung topole-pole " (Mengapa La Taddangpare diberi gelar Arung topole-pole?.Perlu diskusi secara ilmiah).
Berkali-kali La Taddampare datang untuk memberi nasehat, namun La Pateddungi tidak menghiraukannya. Akhirnya diadakan lagi musyawarah dengan keputusan menurunkan La Pateddungi dari jabatannya dan menjatuhi hukum mati.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1469 yang merupaka sebuah tragedi sejarah di mana seorang raja dijatuhi hukum mati (mirip dengan nasib Saddam Husein). Semenjak itu terjadi kekosongan pemerintah di Wajo selama 5 tahun dan baru pada tahun 1474 dinobatkan La Palewo To Palippu menjadi Arung Matowa Wajo-I (1474-1482). Sedangkan La Taddangpare Rimaggalatung baru memerintah sebagai Arung Matowa Wajo ke-4 (1491-1521). Jika dilihat dari priode sejarah, maka usia La Taddangpare bisa mencapai 80 tahun.

Sumber : Lontara Attoriolongge ri Wajo. Disalin ke dalam huruf latin oleh H.Palippui.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 1.00873 seconds.