Sumber Air Mbok Usreg Saingi Ponari
Bakung, Mbok Usreg, tidak pernah menyangka bahwa ladang jagung miliknya bakal menjadi berkah tersendiri. Kemunculan air sumber bertuah secara tiba-tiba di tanah yang tandus di daerah Bakung menjadi daya tarik magis karena keanehannya. Hingga tepatnya ada seseorang yang mengaku dari Wlingi yang dituntun ke lokasi sumber tersebut melalui mimpi yang menujukkan bahwa sumber tersebut adalah obat yang selama ini dicarinya. Kesaksian bahwa air sumber tersebut dapat menyembuhkan penyakit secara cepat, dalam kurun waktu 4 hari, langsung menyulap tegal sunyi tersebut menjadi lokasi yang didatangi ratusan orang setiap harinya.Mereka yang sudi mendatangi dan mengambi air adalah mereka yang berharap dapat sembuh dari penyakit yang bermacam-macam jenisnya. Hingga saat ini sumber ini telah memakan korban pingsan 4 orang.
Pada dasarnya mereka yang datang adalah mereka yang berharap dapat memperoleh kesembuhan secara murah. Kita patut berempati pada mereka yang datang. Mereka datang karena keputus-asa-an yang muncul karena sulit sembuh dari penyakit. Keputus-asa-an ini bisa berakar dari ketidak-ada-an biaya untuk menyembuhkan penyakit dan karena ketidak adanya jaminan kualitas pengobatan.
Kemiskinan menjadi kambing hitam munculnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan alternatif. Kemiskinan disini berarti masyarakat tidak dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang mahal harganya dan juga pemerintah yang dinilai gagal dalam memberikan fasilitas kesehatan untuk warganya terutama bagi mereka yang miskin. Keputus asaan inilah yang kemudian dapat digolongkan keputusasaan sistemik. Karena adanya struktur yang membuat mereka terpaksa mempercayai bahwa air sumber tersebut dapat menyembuhkan dari berbagai penyakit. Istilah lain adalah “ daripada tidak mungkin sembuh lebih baik mengupayakan untuk memungkinkan sembuh”. Kebijakan kesehatan dalam artian untuk mereka masyarakat miskin seharusnya memiliki tingkat perhatian yang lebih. Kita mengetahui bahwa banyak program kesehatan untuk masyarakat miskin namun berapa persenkah dari total penduduk miskin yang dapat mengakses dan berapa persenakah keringanan tersebut dapat benar-benar membuat mereka menjangkau fasilitas kesehatan. Jangan-jangan keringanan yang dimaksud adalah keringanan versi pemerintah yang tidak singkron dengan kondisi riil di masyarakat Bahwa masyarakat miskin masih terberatkan dengan kerinaganan tersebut. Belum lagi masalah korupsi yang menggerogoti bangsa ini yang tentu saja merugikan terhadap ketersediaan jaminan kesehatan untuk masyarakat.
Apa bukti pemerntah tidak serius untuk menngkatkan pelayanan kesehatan? Menurut saran standar WHO (World Health Organization) setidaknya 15% dari anggaran belanja sebuah negara diperuntukkan untuk masalah kesehatan. Namun kenyataannya dari APBN 2009 yang berjumlah Rp1.037,1 triliun, anggaran Departemen Kesehatan hanya Rp20,3 triliun atau 2,8 persen dari total APBN 2009. ini belum kita turunkan lagi terhadap efektifitas dan efisiensi program kesehatan itu sendiri. hanya sedikit alokasi kesehatan yang diperuntukkan untuk masyarakat terutama untuk mereka yang miskin.
Pendorong lain kepercayaan masyarakat terhadap air sumber ini, selain masalah kemiskinan adalah karena tidak adanya kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan itu sendiri. Walaupun seseorang memiliki cukup dana namun jika pelayanan kesehatan dianggap tidak dapat memberikan penyembuhan maka orang tersebut juga akan berputus asa. Keputusasaan karena kualitas kesehatan ini juga mendorong seseorang untuk memilih pengobatan alternative dengan daya tarik magis seperti sumber mbok usreg ini. Kualitas pelayanan, kualitas fasilitas dan juga kualitas tenaga medis meruipakan satu kesatuan bentuk kualitas kesehatan. Kualitas kesehatan yang kurang terpercaya menyebabkan sesorang tidak yakin akan tingkat kesembuhannya.
Walaupun pada kenyataan tehnologi kesehatan semakin beragam, tingkat pertumbuhan dokter spesialis semakin tinggi namun jika pelayanan tersebut tidak dibuat dalam sistem yang terpercaya maka masyarakat juga makin optimis terhadap kualitas tehnologi kesehatan itu sendiri. kita bisa lihat bahwa dugaan malpraktek banyak terjadi dinegeri kita tercinta ini. Selain keberadaan malpraktek sistem pelayanan kesehatan yang kurang memuaskan mengakibatkan pasien semakin tidak yakin dengan kesembuhannya. Kita bisa menilai sendiri seperti apa pelayanan kesehatan yang ditentukan dari kelas kamar menginap. Semakin rendah kelas maka semakin tidak ramah pelayanannya. Lebih daripada itu, untuk mereka yang mampu membayar mahalpun belum tentu terpuaskan dengan fasilitas kesehatan yang ada di seantero Blitar ini yang menyebabkan mereka harus berbondong ke rumah sakit di Malang atau Surabaya.
Bagi masyarakat yang merasa putus asa, tentunya sangat bersyukur dengan adanya air sumber di bakung ini. Mahalnya biaya kesehatan dan biaya obat yang rata-rata berkisar 25-50 ribu untuk sekali pergi kedokter bisa disaingi hanya dengan sumbangan sukarela dan parkir 1000 rupiah saja. Seharusnya ini adalah pukulan telak bagi pemerintah bahwa masyarakatnya ternyata lebih memilih pengobatan yang murah dan tidak pasti hasilnya daripada mengakses rumahsakit dan puskesmas yang ada di daerahnya. Pemerintah diharapkan mampu untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang terjangkau dan berkualitas bagi warganya.
Munculnya kepercayaan masyarakat pada sebuah mitos kesehatan bermula pada realitas yang mereka hadapi. Tidak serta merta mereka mempercayai air sumber tersebut tanpa adanya keterkaitan struktural kebijakan pemerintah, kemiskinan dan keputusasaan yang mereka idap. Bagaimanapun juga fenomena ini menimbulkan keprihatinan kita terhadap mereka yang berputus asa yang pada saat krisis mempunyai kepercayaan pada air tersebut. Dan keprihatinan berikutnya kita tujukan kepada kualitas kesehatan yang ada di Blitar ini khususnya untuk masyarakat miskin. (Muslikah, JRK Blitar)
- JRKB
- Artikel
- dibaca 1371x
- [1] komentar
Script timer: 0.342574 seconds.




JAKARTA, Suarakomunitas – Barisan Pemuda Adat Lombok – Sumbawa ( Baralosa) merupakan salah satu tamu special dalam konser Glenn Fredly di Senayan Fx Mall Jakarta pusat pada
Sesait,(SK),--Menjelang sore hari akan dilakukan persiapan Memajang atau Ngengelat yang akan dilaksanakan setelah sholat Asyar berjamaah sampai menjelang waktu sholat Magrib dan Isya
Sesait,(SK),--Kegiatan bisok menik (cuci beras) bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.Lokasi bisok menik ini tidak pernah diubah sejak zaman
Medan (Suara Komunitas.Net) Keberadaan KPID Sumut ke depan tidak hanya berkutat kepada persoalan perizinan. Tapi harus direvitalisasi termasuk keberadaannya guna menggali berbagai potensi ekonomi daerah.
Medan (Suara Komunitas.Net) KPID adalah polisi moral dalam bidang penyiaran, karena itu kehadiran KPID diharapkan mampu mengawasi isi siaran lembaga penyiaran sehingga dapat meminimalisir dampak yang 

-t.jpg)
