Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

KONSUMERISME, BUDAYA ATAU PENYAKIT (?) Pendapat

oleh : Roy Martin Simamora

Ketika penulis masih di Sekolah Dasar sering diajarkan guru pepatah "rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya". Pepatah ini mengajarkan cara menjadi kaya dengan cara berhemat. Gaya klasik menjadi kaya yang agak sulit dilakukan di masa sekarang karena budaya konsumtif yang mewabah di mana-mana. Dan jika benar bisa kaya dengan terus berhemat, kemudian gaya hemat itu berkelanjutan sampai tua, bisa terkena penyakit lain yang bernama penyakit PELIT. Merasa bahwa proses menjadi kaya itu susah lewat penghematan, sehingga sayang kalau membelanjakan apa yang telah dikumpulkannya itu, meskipun untuk keperluannya sendiri, apalagi keluarga, dan lingkungannya.
Namun, nampaknya pepatah diatas tidaklah berguna lagi di zaman sekarang. Fenomena yang terjadi saat ini yang kian hari tertancap tajam di benak kalangan masyarakat luas adalah budaya Konsumtif. Budaya konsumtif kian masif membuat masyarakat lupa dengan namanya berhemat. Penulis melihat kenyataan masyarakat sekarang semakin dihadapkan dengan gaya hidup instan. Kenapa tidak? Perilaku konsumtif yang menjangkiti masyarakat seakan jadi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Di sisi lain, menjamurnya pusat perbelanjaan semacam mall, industri mode, kawasan hunian mewah, kegandrungan terhadap merek asing, makanan instan (fast food), telepon seluler (hp) dan lain sebagainya. Dengan demikian, masyarakat terkondisikan untuk bergantung terhadap semua fasilitas yang disediakan. Parahnya, saat ini perilaku konsumtif tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi remaja sekarang lebih cenderung berperilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif para remaja justru tak terkendali saat ini dibandingkan orang dewasa. Jika dulu René Descartes menyatakan eksistensi manusia dengan jargon Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, maka remaja sekarang akan mengatakan Emo Ergo Sum, aku belanja maka aku ada. Belanja menjadi semacam eksistensi remaja untuk bisa diterima dikelompoknya.
Pola hidup konsumerisme telah terbentuk pada anak muda, bahkan sejak usia dini.Sejak mereka mulai berangkat remaja sudah dicekoki berbagai iklan, promosi soal gaul dan tidak gaul kalau tidak menggunakan merek ini atau itu. Ditambah tayangan film sinetron di televisi mengumbar kekayaan dan gaya hidup mewah mendorong anak-anak untuk menirunya.
Remaja ingin dianggap keberadaannya dan diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi lingkungan tersebut. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja mengikuti berbagai atribut atau produk yang sedang populer. Salah satu caranya, berperilaku konsumtif, seperti: memakai barang-barang yang baru dan bermerek, memakai kendaraan ke sekolah, pergi ke tempat-tempat mewah untuk bersenang-senang (diskotik, restoran, kafe dan tempat-tempat lainnya) di berbagai penjuru kota.
Momok “dunia instan” yang melanggengi perkembangan zaman memang menjadi ikon sekaligus ‘agama’ baru di masyarakat. Ketika suatu produk dikonstruksi serba instan, secara otomatis akan menggeser waktu konsumsi jadi makin pendek. Bertebarannya produk-produk sekali pakai yang terpampang di banyak media massa, menambah pendek rentang waktu pakai suatu produk.

Budaya atau Penyakit
Pada dasarnya konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkiti manusia dalam kehidupannya. (rilis Wikipedia.org)
Perilaku Konsumtif yang bisa kita lihat dengan jelas adalah waktu di penghujung tahun, tepatnya di bulan desember. Pusat perbelanjaan seperti mall akan dipadati oleh pemburu produk-produk penghujung tahun. Di pusat perbelanjaan semacam mall banyak sekali produk-produk yang ditawarkan. Diskon besar-besaran (Big Discount) yang ditawarkan membuat masyarakat tidak bisa membendung hasratnya untuk berbelanja. Mulai dari berbelanja pakaian, aksesoris, kebutuhan rumah tangga, barang-barang elektronik membuat masyarakat terhanyut dengan budaya konsumtif.
Disamping itu, media massa seperti media elekronik dan cetak merupakan salah satu penyokong perilaku konsumtif masyarakat. Media elektonik seperti televisi yang awalnya sebagai media hiburan dan rekreasi keluarga, kini telah berubah menjadi industri periklanan dan menampilkan berbagai produk-produk lokal maupun asing yang membuat masyarakat tergiur dengan pesonanya.

Waspada Perilaku Konsumtif
Budaya konsumtif telah jadi suatu budaya tersendiri di dalam masyarakat kita Bahkan akibat dari candu masyarakat yang berlebihan akibatnya menjadi suatu penyakit yang sulit diobati. Sebenarnya wajar saja jika manusia membutuhkan sesuatu dan berkeinginan memenuhinya, tetapi akan tidak wajar jika keinginannya tersebut tidak terkontrol dan bukan suatu yang dibutuhkan. Bahkan jika kebiasaan konsumtif dibiarkan terus menerus akan timbul masalah sosial dan cenderung matrealistis.
Sangat disayangkan, anak-anak kecil dan remaja saat ini sudah jadi konsumerisme.Memprihatinkan jika melihat budaya konsumerisme telah melekat ke dunia anak-anak dan remaja. Tidak hanya itu, budaya konsumerisme yang begitu akrab dengan perkotaan kini merambah ke pedesaan. Sungguh ironis jika melihat kenyataan saat ini. Bagaimana tidak? Budaya yang seharusnya baik tetapi mempunyai dampak yang negatif untuk masyarakat. Budaya konsumerisme menjadi suatu penyakit yang telah menjangkiti masyarakat kita. Perlu adanya penyembuhan yang pas untuk mengobati adanya konsumerisme.
Tidak ada salahnya jika kita waspada dengan budaya konsumerisme. Mulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita untuk menghindari budaya konsumtif. Menekan keinginan dengan memikirkan matang-matang kebutuhan yang ada kemungkinan menghindarinya. Kewaspadaan akan budaya konsumerisme diperlukan agar terhindar jadi masyarakat yang konsumtif. Budaya konsumerisme mungkin bagi sebagian orang menjadi kehidupannya yang tidak dapat dihilangkan, karena mengonsumsi suatu kebutuhan memang menjadi suatu kebutuhan sebagai manusia. Tetapi jika mengonsumsi sampai berlebih maka dapat berdampak buruk. Terutama di dalam lingkup sosial. Persaingan antar manusia pun tidak akan terhindarkan. Maka waspadalah terhadap pola hidup konsumerisme.*** (Penulis adalah mahasiswa PKn Unimed, aktif di Ikatan Penulis Muda PKn)

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.10684 seconds.