Kripik dari Desa Dopang
Selama ini Dopang, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat dikenal sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya sebagai petani dan tukang kayu, tak banyak yang tahu bahwa daerah ini juga merupakan sentra industri keripik. Usaha keripik ini sebenarnya belum lama berkembang di desa ini dan entah siapa yang memulai.
Menurut penuturan Kepala Desa Dopang "Munawir" industri keripik singkong ini dimulai oleh Pak Nasir. Berbekal kepandaiannya membuat keripik singkong Pak Nasir memulai usahanya sejak tahun 2005 yang lalu. Kini usaha keripik singkong ini diikuti oleh beberapa penduduk lainya di desa ini dengan bahan seperti singkong, pisang dan sukun. Pak Nasir merupakan perajin yang berhasil menjadikan usaha keripik singkong sebagai sandaran nafkah keluarganya dengan nama "Keripik Singkong Pandan Wangi".
Di rumah Pak Nasir nampak tiga orang perempuan sedang sibuk menggoreng keripik singkong. Di ruangan lain terlihat beberapa perempuan sedang memotong-motong singkong, dan ada pula yang sedang membungkus keripik untuk segera dikirim kepada beberapa pemesan dari luar Lombok. Keripik yang dibuat Pak Nasir umumnya dari bahan singkong karena singkong tidak terlalu sulit didapat dibanding pisang dan sukun serta harganyapun lebih murah. Harga singkong perkilonya Rp.1000. Ironisnya walaupun Desa Dopang merupakan daerah pertanian namun bahan-bahan pembuatan keripik ini banyak didatangkan dari daerah Lombok Utara. Pasalnya produksi singkong di sekitar Gunungsari tidak mampu memenuhi kebutuhan produksi perajin keripik.
Rata-rata perajin keripik seperti Pak Nasir dalam satu bulan memperoduksi…………ton keripik. Untuk mendapatkan
hasil satu ton keripik siap saji dibutuhkan singkong sebanyak………ton,………drum minyak goreng, disamping itu masih dibutuhkan bahan lain seperti kayu bakar dan bumbu.
Proses produksi singkong di tempat Pak Nasir dikerjakan oleh 10 orang karyawan yang semuanya ibu-ibu. Tetapi bila permintaan naik maka dibutuhkan tambahan karyawan.
Keripik singkong “Pandan Wangi” buatan Pak Nasir memiliki distributor bukan hanya di Pulau Laombok bahkan sudah merambah ke daerah lain seperti Kabupaten Sumbawa dan Bima. Dalam 1 bulan Pak Nasir melakukan 4 kali pengiriman. Masing-masing sebanyak………kuintal. Pesanan biasanya melalui telpon dan ada pula yang datang langsung ke rumah.
Perkembangan usaha keripik Pak Nasir ini cukup menggiurkan pengrajin lain untuk mencoba hal serupa. Kini di Desa Dopang sudah terdapat sekitar 6 orang perajin keripik. 1 perajin rata-rata membutuhkan karyawan 10 sampai 15 orang yang sebagian besar kaum ibu-ibu.
Sayangnya menjamurnya perajin keripik di Desa ini yang sebetulnya sangat membantu memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga dan mengurangi pengangguran rupanya belum menarik perhatian dari pemerintah daerah untuk memberikan bantuan dana dan pelatihan menejemen. Sehingga terjadi persaingan yang tidak sehat diantara perajin, yang menyebabkan harga lemah di pasaran “Ada perajin yang menurunkan harga supaya barangnya laku” ujar Pak Nasir. Biasanya perajin jenis ini tidak akan bertahan lama. Hal ini disebabkan kerugian yang diderita. Kerugian disebabkan oleh karga produksi yang lebih tinggi daripada harga jual.“Sangat disayangkan” ujar Pak Nasir. (Doll Kempes-GGTW)
- n/a
- Produk Komunitas
- dibaca 5902x
- [2] komentar




Lombok Tengah, Suarakomunitas.net - Angka kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah hingga saat ini masih cukup tinggi yakni mencapai 19,92 persen. Karenanya pemerintah setempat telah melakukan
MATARAM - Untuk mengakselarasikan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah telah mengembangkan pariwisata didaerah pesisir Lombok.
MATARAM - Bila dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), wilayah kepulauan, hingga saat ini masih cukup rendah, jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar di Indonesia.
Bogor, Jawa Barat- Peluncuran Pintu Gerbang Layanan Pesan Singkat (SMS Gateway) untuk kampanye Strategi-strategi Terhadap Munculnya Wabah Flu dalam mendorong terciptanya
MATARAM - Kongres Sunda Kecil dan Maluku (Sukma) yang dilaksanakan sejak tanggal 20-24 Mei mendatang, diharapkan dapat menghasilkan rumusan yang konstruktif sebagai pemecahan masalah
Cianjur (Suara Komunitas) - HAUS adalah salah satu ciri unggas yang sehat yang berarti Halal, Aman, Utuh dan Sehat, seperti yang diungkapkan Yuliana (38) selaku narasumber 



