Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Catatan Gerilya Media Pendapat

Acara gerilya media yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 13-17 September 2012 memang telah lama berlalu. Namun, ada beberapa catatan yang tak dapat diabaikan begitu saja. Catata ini penting bagi penyusunan konsep, arah dam tujuan yang akan dicapai pegiat media komunitas dan kepewartaan warga.

Bertemunya “gerilyawan media” di Yogyakarta tersebut memberikan banyak pengetahuan dan ide yang dapat direalisasikan menjadi strategi bagi pewarta warga untuk berintegrasi dengan gerakan sosial. Batapa tidak, “gerilyawan media” menyuguhkan rentang semangat yang besar untuk mewartakan asprisasi dan kepentingan masyarakat termarjinalkan dan menggerakan masyarakat untuk berubah di desa-desa walapun berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan dan biaya untuk sekadar mengunggah berita ke internet.

Beragam isu mengemuka, mulai dari pengabaian peran negara mensejahterakan masyarakat, kemandirian masyarakat marjinal, hingga rakusnya pemilik modal disuguhkan “gerilyawan media” melalui portal suarakomunitas.net. Tentu saja isu-isu tersebut tak akan kita temui di media niaga.

“Gerilayawan media” seolah memberitahukan bahwa pewarta warga adalah aset gerakan sosial. Dan, dedikasinya tak kalah heroik dibanding dengan pegiat ormas yang sering turun ke jalan menyuarakan tuntutan perubahan melalui aksi.

Dengan luwes “gerilayawan media” memberitahu kita bagaimana cara menyerap aspirasi dan kepentingan masyarakat, meramunya menjadi isu, mengemas dan menyebarluaskannya, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama bergerak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan lugu, “gerilayawan media” mengajak semua pihak untuk bersinergi membangun gerakan sosial tanpa harus dibatasi sekat arogansi dan eksistenai organisasi.

Dengan penuh semangat “gerilyawan media” terus berjuang merebut kedaulatan rakyat atas informasi yang selama ini dimonopoli korporasi media. Bagi “gerilayawan media” hal ini lebih penting dari laba yang didapat dari meningkatnya oplah cetak dan rating.

Dengan slogan “saatnya rakyat bersuara, tidak hanya disuarakan”, “gerilyawan media” mengajak masyarakat untuk mandiri dan berdikari untuk meperjuangkan aspirasi dan kepentingannya tanpa harus dititipkan ke pihak lain. Hematnya, “gerilyawan media” menolak politik atas nama yang selama ini ada di Indonesia.

Dalam hal lain, “gerilya media” memberikan gambaran bahwa informasi dapat dikelola sendiri oleh masyarakat dan dipergunakan untuk memperbaiki kondisi kehidupannya. Tanpa bermaksud bersaing dengan media niaga, “gerilayawan media” menyatakan bahwa media komunitas adalah salah satu pilar perubahan sosial di Indonesia. (Rifky)

Tulisan ini juga dipublikasikan di http://jrklampung.org/?p=515

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08931 seconds.