Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Mengais Ilmu di Tanah Suci Makkah Mukarromah Berita

Oleh : Sahlan Rafiqi Mashal

Makkah, suarakomunitas - Makkah Mukarromah merupakan tanah suci bagi ummat Islam, di kota inilah Nabi Muhammad saw dilahirkan. Di dalam kota Makkah ini terdapat kiblat kaum musimin yaitu ka’bah, masjidil haram. Di kota ini pulalah kaum muslimin menunaikan ibadah haji yang termasuk rukun Islam ke 5.

Kota Mekkah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut kota Jeddah. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung gunung dengan bangunan Ka'bah sebagai pusatnya 21°25′24″N 39°49′24″E. Dengan demikian, pada masa dahulu kota ini rawan banjir bila di musim hujan sebelum akhirnya pemerintah Arab Saudi memperbaiki kota ini dan merenovasi kota ini. Seperti pada umumnya kota kota di wilayah Arab Saudi, kota ini beriklim gurun.

Perkembangan kota Mekkah tidak terlepas dari keberadaan Nabi Ismail dan Hajar sebagai penduduk pertama kota ini yang ditempatkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Pada perkembangannya muncul orang orang Jurhum yang akhirnya tinggal di sana. Pada masa berikutnya kota ini dipimpin oleh Quraisy yang merupakan kabilah atau suku yang utama di Jazirah Arab karena memiliki hak pemeliharaan terhadap Ka'bah. Suku ini terkenal dalam bidang perdagangan bahkan pada masa itu aktivitas dagang mereka dikenal hingga Damaskus, Palestina dan Afrika. Tokoh sebagai kepala kabilah Quraisy adalah Qussai yang dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.

Pada tahun 571, Nabi Muhammad keturunan langsung dari Nabi Ismail serta Qussai, lahir di kota ini dan tumbuh dewasa. Pertama kali menerima wahyu dari Allah namun ajarannya ditolak kaumnya yang saat itu masih berada dalam kegelapan pemikiran (Jahilliyah) sehingga berpindah ke Madinah. Setelah Madinah berkembang, akhirnya nabi Muhammad kembali ke Mekkah dalam misi membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah yang dikenal dengan (Fathul Makkah).

Pada masa selanjutnya Mekkah berada di bawah administrasi Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah, serta para Khalifah yang saat itu berkuasa di Damaskus (Dinasti Ummayyah),Bagdad (Dinasti Abbasiyah) dan Turki (Usmaniyah). Kemudian setelah hancurnya sistem kekhalifahan, kota ini disatukan di bawah pemerintahan Arab Saudi oleh Abdul Aziz bin Saud yang kemudian menjadi pelayan bagi kedua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah.

Selain sebagai tanah suci, Makkah Mukarromah juga sebagai pusat pendidikan agama Islam selain Madinah. Banyak para pelajar dari berbagai penjuru dunia, berlomba-lomba untuk menuntut ilmu di tanah suci ini. Kita mengetahui bersama, sejak dahulu kota Makkah menelurkan banyak para ulama-ulama terkemuka di dunia.

Pelajar-pelajar dari Indonesia pun banyak yang menuntut ilmu di berbagai ma’had dan universitas di kota Makkah, selain itu ada juga yang talaqqi dengan para masyayikh Makkah Mukarromah. Ulama-ulama semacam KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), TGKH Zainuddin Abdul Madjid (pendiri Nahdatul Wathan), Syekh Yasin Padang, TGH Zainuddin Arsyad (pendiri Maraqitta’limat NTB) dan lain-lain merupakan lulusan madrasah-madrasah di tanah suci Makkah Mukarromah.
Saat ini di kota Makkah Mukarromah, ada beberapa tempat menimba ilmu yang diminati oleh para pelajar dari Indonesia, di antaranya :

1. Universitas Ummul Quro
2. Madrasah Ash-shoulatiyah
3. Ma’had harom al-Makkiy
4. Ma’had Darul hadits Al-khoiriyah
5. Darul Arqom li tahfidzil Qur’an

Di antara madrasah dan ma’had tempat menimba ilmu tersebut, madrasah tertua hingga saat ini adalah Madrasah Ash-shoulatiyah. Madrasah Shoulatiyah pertama kali didirikan oleh Syekh Salim Rahmatulloh yang sampai saat ini dipimpin oleh keturunan anak cucu beliau yaitu Syekh Majid Said Rahmatullloh. Murid-murid madrasah ini berasal dari berbagai Negara, diantaranya berasal dari Indonesia, Pakistan, India, Yaman, Oman dan lain-lain. Pengajar-pengajarnya pun demikian, beberapa pengajarnya berasal dari Pakistan, Yaman, Indonesia, dan India. Di antara pengajar madrasah tersebut yang dikenal di Indonesia adalah Syekh Majid Rahmatulloh, Syekh Sayyid Ayyub Abkar, Syekh Hasan Masysyath, dan Syekh Sayyid Muhammad. Dahulu, madrasah ini bertempat di daerah Shubaikah, hanya beberapa ratus meter dari masjidi haram, namun karena adanya proyek perluasan Raja Abdulloh untuk masjidil haram, maka madrasah ini dipindahkan ke daerah Ka’kiyah, kurang lebih 6 km dari masjidil haram. Ash-shoulatiyah menyediakan program pendidikan dari madrasah ibtidaiyah hingga aliyah dengan spesialisasi empat madzhab. Lulusan madrasah ini khususnya yang berasal dari Indonesia sudah banyak yang memiiki peranan penting di tanah air, sebut saja TGKH Zainuddin Abdul Madjid, yang merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (organisasi massa terbesar di NTB). Sampai saat ini pelajar dari Indonesia banyak yang berdatangan untuk menimba ilmu di madrasah tertua ini.

Selain di madrasah Shoulatiyah, ternyata banyak juga yang ikut serta dalam pendidikan formal, di Ma’had Al-Haram. Ma’had ini termasuk pendidikan formal, letaknya di masjidil haram pintu Malik Fahad bin Abdul Aziz. Pelajar-pelajar dari berbagai negara seperi; Indonesia, Afrika, India, Pakistan, Thailand, Malaysia diterima belajar di sana. Bahkan, tidak sedikit dari warga Negara Arab Saudi sendiri yang ikut belajar di Ma’had al-Haram. Tentunya setelah melalui seleksi yang ketat serta mengikuti aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kerajaan. Pelajar-pelajarnya juga mendapat bantuan (beasiswa) setiap bulan dari pemerintah. Materi yang di ajarkan adalah ilmu hadis, seperti; Bukhori, Muslim agama, karena tujuan utamanya ialah melestarikan nilai al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw serta kitab-kitab klasik (turost).

Pada setiap pintu utama Masjidilharam, seperti; Abdul Aziz, Malik Fahad, Babu al-Salam, Bab al-Fattah, Bab al-Umrah. Di pelataran Masjidilharam, seperti; lurusnya Hijir Ismail, Rukun Yamani, biasanya menjadi tempat halakoh (pengajian rutin) setiap lepas sholat magrib dan subuh. Jadi, hampir semua kegiatan pengajian di Masjidilharam terus menerus. Pada abad 16-17 hingga abad 20-an, masih banyak ulama keturunan Indonesua yang mengajar di Masjidilharam. Tetapi, saat ini sudah langka. Kendati keturunan Indonesia sudah langka, tetapi kegiatan melestarikan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw melalui pengajian-pengajian masih berjalan dengan baik dan lancar. Ini juga menjadi bukti nyata, bahwa Makkah menjadi pusat kajian ilmu agama dari masa kemasa.

Di masjidil haram terdapat juga model pendidikan berbentuk halaqoh atau pengajian-pengajian, dimana semua santri mengelilingi gurunya. Masing-masing santri mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang Guru (Syeh). Adapapun materinya, seperti; tafsir, hadis (bukhori, muslim, sunan tirmidzi), fikih usul fikih. Sebagian santri membawa kitab, dan sebagian lagi hanya pendengar setia. Biasanya, santri-santri yang belajar pada masayih di Masjidilharam berasal dari berbagai Negara, seperti; Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Afrika, dan sebagian lagi daratan Jazirah Arabiyah.

Pengajian model halakoh ini biasanya dilakukan setelah sholat Magrib, Ashar, dan Subuh. Sebagian ulama-ulama Indonesia yang terkenal dan besar di tanah suci melakukan cara seperti ini. Imam Nawawi al-Bantani, Syeh Muhammad Mahfud al-Turmusi, Syeh Muhammad Yasin Al-Fadani, Syeh Abdul Karim al-Banjari, Syeh Abdul Qodir Al-Mandili. Kendati mereka belajar dengan cara klasik, mereka juga belajar model pendidikan clasikal (Formal Education). Beberapa halakoh yang masih berlangsung saat ialah, Halakoh yang di asuh langsung oleh Syeh Makky Al-Bakistani (di belakang Hijir Ismail). Setiap lepas sholat subuh, beliau mengajarkan dan menularkan ilmunya kepada santri-santr hingga waktu dhuha. Semua mengjarkan ilmu-ilmu agama, sebagaimana yang dilakukan pendahulunya. Kemudian halaqoh yang diasuh oleh Syekh Abdurrahman ‘Ajlan yang mengajarkan kitab Subulus Salam, Lum’atul I’tiqod, Faroidh, Tafsir Ibnu Katsir, Zaadul Ma’ad, dan Kitab Fiqh Imam Ahmad bin Hanbal. Ada pula halaqoh yang diasuh oleh Syekh Washiyulloh Abbas Pakistani yang mengajarkan kitab Sunan Abu Dawud, dan masih banyak lagi masyayikh yang lain.

Perlu juga diketahui, bahwa tidak semua madrasah ataupun ma’had di tanah suci Makkah ini menyediakan visa pelajar bagi yang ingin menuntut ilmu. Ada beberapa ma’had yang tidak menyediakan visa pelajar di antaranya Madrasah Shoulatiyah, Ma’had Harom Al-Makky, Darul Arqom. Sehingga bagi mereka yang ingin menuntut ilmu di madrasah tersebut, mereka harus menggunakan visa work (visa kerja).

Banyak sekali, mereka merindukan menuntut ilmu di tanah suci. Pekerja di Mekkah pun banyak yang memanfaatkan waktu luangnya untuk menuntut ilmu di masjidil haram. Selain menuntut ilmu di masjidil haram, ada juga pekerja yang menuntut ilmu bersma da’i dari Indonesia yang ditugaskan oleh Markaz Da’wah wal Irsyad Saudi Arabia.

Menarik juga untuk diketahui, para pelajar dari Indonesia membentuk sebuah organisasi untuk berbagi ilmu dan menyambung ukhuwwah, yang dinamakan dengan Forum Pelajar Indonesia Makkah Mukarromah (FORPIM). Forum ini diketuai oleh Abdurrahman As-Sundawy, pelajar asal Jawa Barat yang saat ini menimba ilmu di Ma’had Harom dan wakil ketuanya Abdur Rozzaq, pelajar asal Lombok Tengah yang saat ini juga menimba ilmu di Ma’had Harom.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.13315 seconds.