Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Desa Klabat, Potret Kokohnya Gunung Klabat Pengalaman

Klabat. Desa Klabat berada di Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, adalah sebuah desa yang masih mempertahankan kultur budaya lokal. Penggunaan bahasa daerah “Tonsea” Minahasa kental terucap dari warganya. Desa ini berada di kaki Gunung Klabat yang merupakan gunung api setinggi 2.022 m/dpl. Gunung api yang sudah tidak aktif itu, berdiri kokoh membelah dua daerah tingkat dua yaitu Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung di Sulawesi Utara.

Kebanyakan orang mendaki puncak Klabat dari kawasan Airmadidi, sesungguhnya melalui desa Klabat akan terasa lebih lengkap menaklukan puncak tertinggi di daratan Sulawesi itu. Keberadaannya di kaki gunung, menjadikan Desa Klabat masuk dalam kawasan konservasi alam hutan Klabat.

Kegiatan sehari-hari masyarakat Klabat adalah berkebun atau bercocok tanam sawah ladang. Pada pagi hari sebagian besar warga sudah berangkat ke kebun dan nanti kembali saat matahari mulai terbenam. Aktifitas keseharian warga lainnya adalah buruh di pertambangan galian pasir yang marak di kawasan itu. Galian pasir disana sudah beroperasi puluhan tahun dan dikelola warga setempat dengan sistim bagi hasil bersama pemilik lahan.

Dalam sejarah Minahasa, desa Klabat tercatat kaya akan sumberdaya alam, dikenal sebagai salah satu desa penghasil Kopra (Kelapa) terbesar sejak zaman kolonial Belanda. Sekitar tahun 1990-an kawasan hutannya terdeteksi memiliki kandungan emas oleh sebuah perusahaan raksasa yang mengelola pertambangan emas di berbagai negara. Hutannya juga menjadi perkembangbiakan beberapa burung khas pulau Sulawesi serta tempat habitat asli Babi Rusa, Monyet, dan ragam jenis Tarsius.

Mengunjungi desa ini tak lengkap bila tak membawa jaket, sebab udaranya dingin menusuk. Jangan lupa juga membawa kamera saku untuk sekedar memotret aktifitas disana. Namun jangan berharap mendapatkan lokasi wisata atau area keramaian ditempat ini, selain harus mendaki puncak Klabat atau ketika momen ulang tahun desa. Kamera yang dibawa mungkin bisa digunakan sebagai sarana dokumentasi pribadi. Setidaknya terdapat pemandangan sedikit menggelitik, yaitu maraknya bangunan permanent yang dijadikan tempat usaha sarang burung wallet. Bahkan sebuah gedung Gereja di desa ini berhasil tergusur oleh gegap menjanjikan usaha sarang burung wallet, sehingga jemaatnya rela membangun kembali gedung yang baru tepat disamping bangunan sebelumnya.

Perekonomian warga desa terbilang bagus bila ditinjau dari sudut pandang perumahan. Bangunan rumah penduduk sekitar 80 persen terbuat dari beton permanen. Cerita warga setempat, rumah-rumah mereka itu dibangun ketika harga Kopra (Kelapa) melambung tinggi di pasaran dunia sekitar tahun 1970-1980-an. Setelah itu, harga komoditas andalan mereka ini anjlok atau tidak menentu. Akibatnya banyak pohon kelapa ditebang warga untuk dijual ke beberapa pengrajin kayu (meubel). Warga pun telah banyak yang beralih profesi menjadi tukang ojek (motor) memanfaatkan rute Klabat-Tatelu yang tidak terlayani trayek kendaraan umum. Sekitar 20 persen warga lainnya menjadi perantau yang bekerja di wilayah Papua dan Kalimantan.

Infrastruktur publik di desa juga terlihat mulai terlengkapi, dari bangunan kantor desa yang permanen hingga sarana jalan yang bagus. Kehidupan masyarakat nampak toleran, ramah dan bersahabat. Hampir semua denominasi gereja Kristen hadir disini serta sebuah bangunan Masjid besar berdiri melengkapi sarana peribadatan umat beragama.

Terpilihnya Drs. Sompie S.F. Singal, sebagai Bupati Kabupaten Minahasa Utara, kian mengokohkan Desa Klabat sebagai salah satu desa yang mampu mencetak kualitas sumberdaya manusia. Bupati kedua pilihan rakyat di Minahasa Utara itu adalah asli putra desa Klabat yang sukses berkarir di bidang pemerintahan (eksekutif). Di kalangan usahawan, Wanua (kampung) ini juga memiliki sederet nama-nama pengusaha sukses ditingkat lokalan Sulawesi Utara.

Namun hingga kini Wanua Klabat masih dalam lingkaran desa tertinggal. Pemanfaatan lahan pertanian belum sepenuhnya dikelola dengan sistem tepat guna. Ada banyak lahan dibiarkan kosong tak digarap. Sebagian besar kelompok tani hanya menghias struktur dalam antrian penerima bantuan dari dinas pertanian. Sejatinya tak terlihat gairah ekonomi di wilayah ini, sebab akses jalan menuju kawasan pertanian belum tersentuh perbaikan. Mengusung nama besar Gunung Klabat yang banyak menyimpan air, namun desa Klabat kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau tiba, padahal tak jauh dari desa ini yaitu kawasan Tatelu, terkenal memiliki sumber air bersih melimpah. Permasalahan ini akibat kian gundulnya hutan Klabat oleh penebangan liar serta kebakaran hutan. Terakhir, kebakaran hutan terjadi di tahun 1996 karena pola masyarakatmenggarap lahan yang salah, juga kurangnya kepedulian pemerintah mensosialisasikan pentingnya hutan bagi warga di pedesaan. Fungsi dinas kehutanan kabupaten tak nampak. Beberapa surat kabar lokal mengabarkan jika personil di Dinas Kehutanan masih kurang sehingga tidak mampu melayani seluruh wilayah kerja.

Demikian juga dengan akses informasi lokal, desa ini jauh dari semua itu. Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Manado, namun tak ada media cetak mampu hadir tepat waktu, masyarakatnya lebih sering menonton televisi nasional melalui jaringan TV Kabel. Wajar jika warga tidak menerima informasi konten lokal.

Saat JRK SULUT menyambangi desa ini, warga berharap, Desa Klabat bisa lebih dikenal luas. Mereka menginginkan adanya media yang mampu mengangkat spirit lokal, sebab kerinduan mereka yang lama terpendam, yaitu menjadikan desa Klabat sebagai lambang berdiri kokohnya Gunung Klabat, hingga kini belum kesampaian. Desa Klabat dan Gunung Klabat adalah paket wisata lokal yang harus diketahui publik. Semoga. (jrksulut).
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.60925 seconds.