Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Petani Cemas, Emas Coklat Itu Kian Terpuruk Berita

Manado, SK - Kecemasan petani cengkih di Sulawesi Utara (SULUT) khususnya di daerah Minahasa terhadap pergerakan harga komoditas cengkih mulai nampak. Dipasaran Manado, harga “Emas Coklat” ini menukik tajam, turun hingga ke level terendah Rp70 ribu - Rp85 ribu per kilogram kering. Perubahan harga menjelang panen raya ini menuai kekesalan dari para petani.

“Wilayah Minsel sudah masuk panen raya. Dengan harga begini, mana bisa kami petani dapat membiayai tenaga kerja pemetikan. Kami berharap harga bisa bertahan di Rp100 ribu per kilogram. Itu sudah cukup. Kalau boleh juga pemerintah dapat mengucurkan permodalan atau Kredit Panen Cengkih (KPC) kepada kami,” tutur Hendrik Poluan.

Masyarakat di wilayah Minahasa yang dikenal sebagai pemasok terbesar atau lumbung cengkih di Sulawesi Utara paling merasakan dampaknya. Tak heran bila mereka membanding-bandingkan kondisi saat ini dengan masa kejayaan cengkih disekitar tahun 1960-an sampai dekade 1970-an, dimana harga cengkih sangat berpihak kepada petani.

Tokoh masyarakat Minahasa, Wenny Lumentut, menilai, wilayah Minahasa sebagai daerah pertanian harus terus dikembangkan. Produktivitas cengkih didaerah ini kini terperosok jauh bahkan tertinggal dari daerah lain. Kini produksi cengkih Minahasa tinggal 200 kilogram kering per hektar, sedangkan daerah lain mencapai 800 kilogram kering per hektar, “Perlu segera mengadakan formula khusus yang ada efek multiplier dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani cengkih di Minahasa,” ucap Lumentut. (jrksulut)
 

Komentar (4)

Page generated in 0.09305 seconds.