ENANO DI TANGKENO (SK) - Bermain dengan teman sebaya merupakan kebiasaan yang lazim kita dapatkan pada anak-anak. Lain hanya dengan Azil Fahran. Bocah ke lahiran Desa Lengora Kec. Kabaena Tengah (11 februari 1996) ini memiliki kebiasaan yang unik dan berbeda dengan teman sebayanya. Kebiasaan yang menjadi hobynya ini adalah mendaki gunung.
Bocah berusia 15 tahun ini sekarang sedang menemupuh pedidikan di bangku kelas III SMP satu atap Desa Enano di Tengkeno Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (SULTRA). Meskipun usianya masih sangat belia, bocah ini telah enam kali mendaki Gunung Sabampolulu. Gunung tertinggi yang ada di Pulau Kabaena (Tokotua), dengan ketinggian 1700 M. waktu yang di butuhkan untuk bisa mencapai puncak gunung ini kurang lebih lima jam dari pemukiman warga (Desa Tengkeno di Enano).
Dalam penuturanya, bocah yang akrab di panggil Azili ini pertama kali mendaki gunung sabampolulu pada usia lima tahun. Pada saat itu dia bersama beberapa temanya yang sudah dewasa melakukan pendakian untuk sekedar refresing. Berawal dari pendakian pertamanya ini, anak pasangan Usman dan Reni ini sering menjadi penunjuk jalan bagi mahasiswa pecinta alam dan turis luar negeri yang melakuka ekspedis di gunung tersebut.
Pendakian terakhir Azili dilakukan pada bulan Mei 2012. Saat itu dia menemani tim Pemetaan Partisipatif yang melakukan pendakian di gunung ini. Saat itu Azili bersama dua orang anggota tim pemetaan partisipatip (Adri dan Masruli) melakukan pendakin selama satu malam di puncak gunung sabampolulu.
Kebiasaan menemani para pendaki gunung yang memiliki latar belakang akan keperdulian terhadap kelestarian lingkungan, membuat Azili banyak mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang ditemaninya mendaki. Hal ini menunbuhkan kesadaran pada dirinya akan pentingya menjaga kelestarian lingkungan yang ada di sekitarnya.
Sahrul Gello (LSM Sagori) menuturkan “Anak seusia Azili butuh diperhatikan dan di kembangkan terutama menyangkut pendidikanya, karena pada usia yang masih belia telah memiliki kesadaran akan pentinya menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan yang dilakukan selama ini meskipun hanya sebagai penunjuk jalan bagi para turis local dan luar negeri yang datang berkunjung di kampung Adat Kabaena (tokotua), namun secara tidak langsung telah menberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkingan di sekitas daerah ini. Apalagi saat in pulau kabaena saat ini semakin terancam dengan maraknya Eksploitasi pertambangan, jadi dibutuhkan generasi yang sadar terhadap pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan .” Tuturnya.
Meskipun sering melakukan pendakian, namun dia mengaku kebiasaany ini tidak mengganggu aktifitas pendidikanya, karena rering dilakukan di saat liburan. Kegiatan ini pula dilakukannya dengan ihklas karena didarkan pada hobynya. Kadang-kadang dia diberikan imbalan kenang-kenangan dari orang-orang yang di temaninya, namun bukan imbalan itu yang membut dia merasa sangat senang menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang akan melakukan pendakian di gunung sabampolulu. Namun, dari hobynya ini dia memiliki banyak teman dari kalangan mahasiswa dan para turis luar negeri yang pernah dia temani mendaki. (Ibe JRK Sultra)