Padang Pariaman - Sungguh malang nasib seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini, sebut saja Erni (bukan nama asli). Erni bocah cilik yang tidak tahu apa-apa tentang perihal kekerasan dibawah umur sekarang terkapar tidak berdaya di rumah seorang Bidan untuk dapat perawatan yang intensif setelah melahirkan bayinya tanpa bantuan seseorang pun.
Saat ini Erni berada di rumah Bidan Desa di Dusun Tanjung Pisang, Sintoga. Erni yang saat ini terpaksa berhenti sekolah karna menanggung aib dari prilaku bejat yang dilakukan oleh Buyuang Tabak (43) yang merupakan tetangga korban sendiri. Saat Suara komunitas menyelidiki kebenaran berita ini ikut serta LSM LPKTPA (Lembaga Pelayanan Korban Tindak Kekerasan terhadap Perempuan/Anak) di bawah naungan Nurhayati Kahar turut terjun ke lapangan.
Anak dari keluarga tidak mampu pasangan Bapak "HS" dan Ibu "IY" menurut pengakuan Erni saat ditanyakan SK di tempat Erni dirawat saat ini Erni mengaku takut karna dengan modus tersangka selaku tetangga korban meminta tolong kepada Erni di rumah tersangka sendiri untuk membelikan rokok yang pada saat itu sedang kosong. Sesudah Erni membelikan rokok tersangka langsung menjebak Erni dengan mengunci pintu rumahnya, dan saat itulah tersangka mengancam korban akan membunuh Erni jika perlakuan tersangka diadukan kepada pihak keluarga atau siapapun.
Kejadian ini pun berulang kali dilakukan Buyung Tabak panggilan tersangka sehari-hari sebanyak tiga kali. Ketika dimintai keterangan didampingi Nurhayati Kahar selaku pimpinan lembaga yang melindungi korban, ayah korban HS tidak mengetahui kejadian anaknya itu, bahkan dirinya juga tidak tahu bahwa anaknya sedang hamil " tidak ada tanda-tanda kehamilan yang terjadi pada anak saya, hal ini terjadi begitu saja, saya baru mengetahui ketika Erni Rabu (9/5) jam 3 Pagi mendadak sakit perut dan dengan sendiri tanpa didampingi siapa pun Erni pergi ke belakang rumah. Ketika jam 4 pagi saya dan istri terbangun karna ada suara bayi tadinya saya kira suara kambing di belakang rumah, tapi lama kelamaan semakin kencang dan saya pun langsung kaget melihat ternyata Erni dengan keadaan lemah terkulai, kaki berlumuran darah dan posisi bayi miring di bawah batang pisang dan saat itu juga saya membangunkan kakak Erni yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD, agar membawa bayinya terlebih dahulu ke rumah bidan desa, dan berikutnya baru Erni dibonceng kakaknya." ungkap HS.
Pada tempat yang sama Ibu korban IY menjelaskan bahwa dirinya juga tidak tahu akan kejadian yang menimpa anaknya, dirinya baru menangis histeris setelah melihat anaknya melahirkan sendiri di dekat pohon pisang samping rumah mereka. IY menjelaskan bahwa tersangka telah mempunyai dua orang istri ketika tim LSM dan SK datang menemuinya. dan LPKTPA telah siap untuk membantu dan mendampingi korban untu menempuh proses hukum dan terapi phsykologis korban. Ketika dimintai keterangan pada IY dengan isak tangis Iy mengatakan Erni tidak pernah mengeluh pada saya dan keluarga selama ini dan tidak pernah mengatakan kalau dia sudah hamil. Yang anggapan kami Erni makin gemuk karena badan Erni memang berisi atau tembem untuk itu sulit menilai bahwa Erni hamil atau tidaknya." tutur IY.
Saat ini sang bayi yang mempunyai berat 1800 Gr atau 1.8 Kg ini berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman, Bayi dipanaskan dalam Inkubator dengan bantuan oksigen dan infus, krn berat badannya rendah dan perlu dirawat secara intensif waktu LPKTPA dan Sk datang bayi laki laki ini sudah mulai membaik dan tangisnya cukup nyaring.
Pihak LPKTPA memberi penjelasan pada keluarga korban tentang perlindungan anak dan kasus ini harus segera dilaporkan pada pihak yang berwajib, semula mereka menolak untuk melapor karena takut nanti kami terancam dari keluarga pelaku dan untuk melapor butuh biaya, kami orang miskin imbuh mereka. Berkat keterangan yang jelas dari Uniyet (pihak LPKTPA) akhirnya ayah korban bersedia melaporkan kasus ini ke kepolisian Padang Pariaman didampingi LPKTPA. Sampai berita ini dikirim pelaku belum tertangkap dan belum diketahui keberadaannya. (ID/Jrksb)