Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Serba 'Ekstrim' di Kota Tomohon (Bag.3 - Industri Rumah Panggung) Pengalaman

Wisata Sulawesi Utara - Semenjak aktifitas Gunung Lokon meningkat di pertengahan tahun 2011 lalu, Kota Tomohon menjadi icon media sebagai kota Sigap Bencana. Setiap hari berita mengenai Tomohon muncul di berbagai media hanya untuk meng-update kondisi terakhir Gunung Lokon. Seakan-akan Tomohon adalah gunung Lokon. Padahal di kota ini terdapat begitu banyak aktifitas yang menjadi icon sesungguhnya masyarakat Tomohon. Tertarik? Ikuti perjalanan Suara Komunitas di kota yang terus dilanda bencana letusan gunung Lokon ini… Ayo kita ke Tomohon…

Kali ini kami mengajak anda untuk melihat dari dekat aktifitas masyarakat dalam pengembangan Industri Rumah Panggung (IRP). Inilah salah satu industri terbesar karya anak bangsa dari Tomohon yang telah mendunia. Kerajinan rumah panggung bergaya Minahasa Kuno ini telah diekspor ke berbagai negara di dunia. Tujuan ekspor diantaranya ke negara ASEAN, Amerika, Perancis, Itali, Australia, Jepang dan beberapa negara di benua Afrika.

Industri Rumah Panggung di Tomohon ini bisa kita jumpai di Desa Woloan. Sebuah desa kecil berpenduduk 984 jiwa. Namun penduduk desa ini terbilang sangat kreatif dan mampu mempertahankan budaya Minahasa. Mata pencaharian mereka umumnya sebagai pengrajin kayu yang di implementasikan menjadi rumah panggung, meubel, alat dapur, alat makan, souvenir, dan lain sebagainya.

Tak ada yang tahu pasti kapan kerajinan masyarakat ini tercipta. Sejarah pembuatan rumah panggung di Minahasa sendiri masih menjadi polemik para budayawan setempat sebab mata rantainya terputus ketika para tokoh adat satu persatu telah tiada. Dokumentasi tersisa hanyalah dari beberapa cerita rakyat Minahasa. Namun di beberapa kesempatan hal ini terus di bahas.

Rumah panggung buatan masyarakat Woloan telah memiliki akreditasi dari Kementerian Perdagangan dan beberapa Kementerian terkait. Jadi bagi anda yang ingin membelinya tak usah ragu atau khawatir akan kualitasnya. Harga per unit mulai dari Rp 8 juta sampai Rp 500 juta. Harga tersebut bervariasi sesuai tipe dan jenis bahan baku, “Ada juga tipe-tipe khusus sesuai pesanan yang harganya lebih dari itu,” ujar Johny, salah satu pengrajin.

Pembuatan rumah panggung ini ternyata tidak mudah, pengrajin harus memiliki ketekunan, kreatifitas dan imajinasi yang tinggi. Walau disebut industri kecil, namun penggunaan alat keselamatan kerja menjadi prioritas, “Kebutuhan itu pasti ada supaya pekerja terhindar dari ancaman bahaya besar,” sambung Johny.

Rumah kayu ini kebanyakan di borong oleh pengusaha yang bergerak dalam bidang perumahan atau penginapan berupa bungalow atau cottage. Selain itu instansi pemerintah di Kota Tomohon telah menggunakan rumah panggung ini sebagai bangunan kantor. Beberapa pihak swasta juga telah menggunakannya. Termasuk beberapa stasiun siaran radio swasta di Tomohon.

Pemerintah sendiri sangat menaruh respek terhadap pengembangan industri tersebut. Selain dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui sarana ekspor, juga dapat mendatangkan wisatawan domestic dan mancanegara, “Makanya di beberapa iven nasional dan international industri rumah panggung ini selalu kami bawa. Ini agar tercipta aktifitas jual beli antara pengrajin dan pembeli. Pemerintah disini hanya bertindak sesuai bidangnya,” tutur Sanny Parengkuan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara.

Karena menggunakan bahan dasar dari kayu, industri ini otomatis berkaitan erat dengan lingkungan, mengingat kondisi hutan di Sulawesi Utara kian memperihatinkan. Ratusan ribu hektar hutan di Sulut terancam punah bila penebangan liar tidak segera dihentikan oleh pemerintah. Menanggapi hal ini para pengrajin mengaku telah ikut membantu pemerintah soal penghijauan dengan menanam ribuan pohon baik dalam program Hutan Tanaman Rakyat (HTR) maupun dalam program lainnya, “Program itu telah lama kami ikuti, bahkan dibeberapa lokasi ada yang telah dilakukan peremajaan kembali,” jelas Kiki Jong.

Ternyata industri rumah panggung di Tomohon ini mampu meningkatkan pendapatan daerah, bahkan menjadi icon wisata Tomohon sekaligus bisa menjadi inspirasi kita untuk terus berkreatifitas. Perjalanan wisata kami di Kota BERIMAN Tomohon masih berlanjut…. (bersambung-jrksulut)

Special thanks for ArenaCommunity - Keep Spirit.
 

Komentar (1)

  • 18 Jun 12 02:00 wib darson saragih

    Inilah susahnya, ada orang kreatif buat kerajinan dari kayu, tapi kayu semakin habis. Lalu bagaimana lagi?

Page generated in 0.09056 seconds.