Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Dinkes Berau Tidak Fasilitasi Putra Daerah Berita

Pengaduan itu datang dari salah seorang warga, yang putranya yang baru saja menempuh pendidikan kedokteran dan ingin kembali untuk mengabdi di daerah asalnya.
Setelah merampungkan studi, putranya berniat kembali ke Kabupaten Berau dan mengabdi. Apalagi biaya untuk merampungkan studi tersebut diperoleh dari pemda melalui jalur beasiswa. kata Ideramsyah --orang tua dari calon dokter bersangkutan-- putranya baru saja selesai mengikuti pendidikan dokter umum di salah satu universitas.Setelah merampungkan studi, putranya berniat kembali ke Kabupaten Berau dan mengabdi. Apalagi biaya untuk merampungkan studi tersebut diperoleh dari pemda melalui jalur beasiswa. Namun Dinas Kesehatan Berau menolak aplikasi yang diajukan oleh putranya dengan alasan permohonan untuk mengabdikan diri di Kabupaten Berau itu terlambat dilakukan akibat ketersediaan formasi untuk tahun 2012 ini sudah ditutup.

Sementara di berbagai kesempatan Bupati Berau, Drs. H. Makmur. HAPK, MM. mengatakan masih memerlukan banyak tenaga dokter untuk ditempatkan di berbagai puskesmas yang letakanya berjauhan dari ibukota kabupaten. namun jawaban dari Dinas Kesehatan tersebut sangat mengecewakan bila Putera Daerah yang sudah mendapatkan beasiswa, yang juga lebih mengerti dengan kampung halamannya sendiri harus mendapatkan jawaban yang di anggap tidak mempasilitasi putera daerah untuk mengabdi

Padahal Dunia kesehatan di Kabupaten Berau baru saja di guncang kasus yang sangat memperihatinkan, para dokter spesialis di RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb, Berau, mogok kerja pada Selasa (27/3). Saat itu, beberapa dokter spesialis tersebut tetap ngantor, tapi tidak melakukan pelayanan terhadap pasien. Sikap itu diambil imbas dari beberapa hal. Di antaranya, karena ada konflik internal berkepanjangan antara manajemen RSUD dengan dokter spesialis. Juga dipengaruhi soal usulan kenaikan insentif dokter spesialis.

Usulan sudah diajukan kepada Pemkab Berau tapi belum ada jawaban. Di rumah sakit itu ada 17 dokter spesialis, dengan 11 spesialisasi. Yakni, spesialis bedah, syaraf, kandungan, kulit dan kelamin, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), jiwa, mata, paru-paru, penyakit dalam, anak, serta laboratorium. Walau tak semuanya mogok saat itu

-abu farraz-

 

Komentar (8)

Page generated in 0.09571 seconds.