Saat Mengemban Tugas ke Nanga Mahap, Kalbar
Perjalanan panjang yang telah dilalui saat sampai di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadou, Kalimantan Barat. Berangkat dari Terminal Tasikmalaya, Sabtu (08/01), pukul 21.00 mengejar waktu di Bandara Soekarno Hata, pagi pukul 05.00 WIB. Sebelumnya penulis telah janjian dengan pihak pengundang, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP), lembaga pemetaan partisipatif, untuk saling ketemu di tempat tersebut.
Singkatnya sampailah di Bandara sesuai rencana. Belum lama menunggu akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman dari JKPP, mereka berempat Ari, Rahmat, Resti, dan Direktur JKPP, Kasmita Widodo.
Kami berlima terbang menggunakan pesawat udara, menuju Pontianak, Kalbar. Hujan deras mengiringi kepergian kami saat itu, dengan waktu 1 jam 10 menit sampailah di Bandara Supadio, Pontianak, Kalbar.
Kang Joko Waluyo, tokoh yang peduli lingkungan di Kalimantan telah menunggu kedatangan kami di bandara, satu kejutan saat itu bisa berjumpa dengannya, mengingatkan saat pertama kali bertemu di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya, November 2011 yang lalu.
Sambil makan di sekitar bandara, Kang Joko sapaan akrabnya menjelaskan banyak tentang Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalbar.
"Inilah kota teramai dengan jumlah penduduk terbanyak di Pulau Kalimantan, dengan jumlah penerbangan sampai 46 kali dalam sehari, Maskapai Garuda saja sampai 6 kali penerbangan," terang Joko.
"Kegiatan bisnis di kota ini juga lebih maju dibanding kota lainnya di Kalimantan, masalahnya di Pontianak ini banyak warga keturunan yang piawai dalam usaha," imbuhnya.
Sekitar 1 jam kami berbincang dengannya, pukul 10, kami melanjutkan perjalanan menuju Mahap, ternyata di bandara kami telah disediakan mobil jemputan,
"Perlu waktu sekitar 8 jam untuk sampai di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadou," jelas Yohanes, supir yang menjemput kami.
Sepanjang perjalanan yang dilalui cukup hijau, pelataran yang datar dan sesekali melewati bukit kecil menjadi ciri khas geografis pulau Kalimantan,
"Dari jalan memang seperti hutan, padahal didalamnya kebun kelapa sawit, entah luasan mana antara hutan dan kebun kelapa sawit," ujar yohanes menimpali obrolan kami.
Selama perjalanan ini dua kali kami beristirahat, dan kami sempat makan di tepian sungai Kapuas, sungai yang besar sekali, dan saya baru sadar saat sampai di Mahap ternyata perjalanan hampir mengikuti lekuk sungai Kapuas, besar keinginan ke Mahap atau pulangnya bisa lewat sungai, ku hapus keinginan itu, saat mengetahui waktu tempuh yang lama.
"Bisa 2 hari 2 malam kalau lewat sungai ke Mahap, masalahnya perjalanannya melawan arus," masih jelas Yohanes.
Sampai di Mahap pukul 19.00 WIB, Minggu (09/01), dan kedatangan kami pun telah di tunggu Camat Nanga Mahap di rumahnya. Camat Mahap sangat akrab juga sangat memperhatikan kelestarian alam, kami pun banyak berbagi dengannya.
Dalam obrolan santai, Camat Mahap mengungkapkan keinginan kuatnya untuk melindungi jenis pohon durian lokal (durian burung), layaknya perlindungan pohon aren di Mandalamekar, sayangnya keinginan ini belum mendapat dukungan dari Pemkab Seakadou,
"Saya telah melayangkan surat ke Dinas Kehutanan Kab. Sekadou, agar pohon durian burung dilindungi. Kalau tidak ditanggapi, saya akan mengirimkan surat ke Mentri Kehutanan. Sebab apalagi yang patut dibanggakan, saat komoditas unggulan digempur hais-habisan," jelasnya.
Sebenarnya banyak kesamaan antara Mandalamekar dengan desa-desa yang ada di Kecamatan Nanga Mahap. Di sini mulai 2005 telah melakukan pemetaan dengan melibatkan warga, hanya saja kegiatan di sini belun terunggah di internet,
"Bagian Kades Mandalamekar untuk menjelaskannya di depan para kades dan Camat Nanga Mahap besok Senin (10/01)," terang Kasmita Widodo, kemudian berpamitan untuk beristirahat.
Kalimantan, dengan sungai besar dan pemukiman yang ramai di dekat sungai menjadi ciri khas di kawasan ini. Perjalanan panjang terobati dengan keindahanya. Bersyukur saat aku bisa menginjakan kaki di wilayah ini, Kecamatan Nanga Mahap.
- Ruyuk FM
- Pengalaman
- dibaca 486x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

