Musik Bambu dan Sejarahnya di Tatelu
Salah satu alat musik tradisional Minahasa yaitu Musik Bambu dimainkan oleh kumpulan dari beberapa orang yang membentuk grup (biasanya berasal dari satu desa) seperti layaknya kumpulan orang orang pada sebuah orcestra. Tidak jelas kapan dan dimana musik bambu diciptakan atau tercipta, namun karena orang Minahasa mencintai musik, maka mereka begitu kreatif menjadikan apa saja sebagai instrumen musik seperti alat musik yang terbuat dari kayu, tempurung (coconut shell), bia atau kerang (seashell ) dan tentunya dari bambu.
Keunikan dari musik bambu instrumen ini yaitu berasal dari jenis bambu bambusa vulgaris, dendrocalamus asper dan gigantochloa verticilata. Unsur tambahan yang terdapat dalam Musik Bambu yaitu instrumen seperti kuningan atau timah yang disebut ‘bambu klarinet ‘ atau ‘bambu seng’.
Keberadaan musik tradisional ini sebelumnya hanya di terima secara lokal oleh masyarakat Minahasa. Pagelaran Musik bambu terbesar yaitu ketika Persatuan Musik Bambu Klarinet (PMBK) pimpinan Ny. Sus Pangemanan menggelar musik bambu kolosal pada September 2002 lalu, yang melibatkan 2.155 pemusik dari 47 Grup Musik Bambu di Sulawesi Utara. Pertunjukan tersebut masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia.
Perkembangannya di Tatelu
Sebagai bagian dari orang Minahasa, masyarakat Tatelu juga suka akan beragam seni musik termasuk memainkan musik bambu. Pada tahun 1919, sudah ada dua grup musik bambu yang ada. Menurut Bapak Ernest Rumagit, grup musik itu berada di wilayah Lembet dengan nama grup “Sabar” pimpinan Esau Tumengkol sekaligus menjadi pelatihnya. Sedangkan grup musik lainnya berada di bagian Pondol, bernama Grup Musik Bambu “Bintang Tiga” yang dipimpin dan dilatih oleh Hein Mandagi. Kedua grup musik itu sangat baik dan sudah terkenal karena sering menjadi juara dalam berbagai lomba tingkat lokal. Seiring dengan berjalannya waktu, di tahun 1920-an, kedua grup musik bambu ini akhirnya bubar.
Nanti pada tahun 1930, muncul kerinduan sebagian masyarakat membentuk grup musik bambu kembali. Dibentuklah grup musik yang merupakan gabungan dari dua grup musik sebelumnya (Sabar & Bintang Tiga) untuk kembali memainkan peran mereka dalam bermusik. Maka grup musik bambu ini di beri nama Eendract yang artinya Bersatu.
Karena begitu kompak, maka grup musik ini mengalami masa kejayaannya dari tahun 1930 sampai tahun 1933. Mereka selalu menjadi juara dalam perlombaan-perlombaan yang diikuti, mulai dari tingkat desa hingga tingkat Kota/Kabupaten. Ketika Hein Mandagi pindah ke Makasar, akhirnya grup Musik Bambu Eendract ini terpaksa bubar dan selanjutnya tak ada lagi grup yang terbangun hingga tahun 1945.
Kerinduan untuk kesekian kalinya masyarkat akan keberadaan musik tradisional ini akhirnya terjawab setelah dengan susah payah kembali di gagas oleh Ernest Rumagit. Lahirlah grup musik TROMP, sebuah nama yang terinspirasi dari nama Kapal Perang Belanda yang terkenal pada waktu itu. Grup musik TROMP ini juga sering menjadi juara seperti grup sebelumnya.
Pada tahun 1949, sejarah musik bambu di Tatelu kembali mencatat kenyataan bubarnya grup musik TROMP karena pemimpinnya Ernest Rumagit sebagai seorang Guru harus pindah mengajar di Desa Klabat.
Kemudian pada sekitar Tahun 1975, berdirilah grup musik ‘Nada Tamporok’ di bawah pimpinan Wolter Supit sekaligus menjadi pelatih bersama Apolos Rumagit dan Bone di Desa Warukapas yang merupakan pemekaran dari Desa Tatelu.
Penuturan Robby Supit dan Maxi Lumewan serta Teo Montung, berdirinya musik ini, sangat banyak pesertanya dan sangat berkembang, sehingga populer pada tahun 1980 sampai 1985 karena sering menjadi juara dalam setiap lomba yang diikuti di seluruh tanah Minahasa.
Seperti pendahulu-pendahulunya, akhirnya grup musik Nada Tamporok ini bubar juga akibat masalah intern peserta grup musik waktu itu yang perorganisasiannya sangat lemah.
Belajar dari tidak konsistennya para pegiat musik bambu terdahulu, maka untuk melestarikan kebudayaan Minahasa dan kejayaan musik Bambu di Desa Tatelu berkumpulah 3 tokoh masyarkat desa Warukapas yang peduli akan seni budaya yakni Ernest Rumagit yang dulunya adalah seorang pemimimpin grup musik bambu, Matheos Katuuk yang adalah seorang pensiunan guru dan kepalah sekolah, serta Benhard yang adalah seorang tokoh masyarakat dan tokoh Gereja (seorang majelis Jemaat) di desa Warukapas, mereka sepakat untuk membentuk grup musik yang baru dalam rapat yang dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2006, Sejak saat itulah mulai digagas dan saat ini telah terbentuk grup musik Bambu yang baru yang saat ini sudah berjumlah tiga puluhan orang yang berlatih setiap Jumat dan Minggu malam. Menurut Ernes salah satu dari tiga orang penggagas yang menjadi kordinator grup musik ini, bahwa Kegiatan latihan dilaksanakan secara bergilir di tiap rumah peserta, dengan maksud supaya bisa menjaring para generasi muda yang ingin bergabung serta para orang tua yang punya kerinduan untuk terlibat dalam melestarikan musik tradisional Minahasa ini. (ch@)
- Wanuata FM
- Pengalaman
- dibaca 437x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

