WAYANG
Karya: Sahdi Janap
Aku agak terlambat. Pertunjukan wayang kulit untuk memeriahkan kemenangan kepala desa kami, sudah lama dimulai. Sepasang wayang dari kulit sapi ditancapkan pada batang pisang di belakang layar. Bayangannya kadang membesar mengecil diterpa cahaya lampu petromak yang digantung berayunan menghadap kelir. Kelir terbuat dari kain putih polos menyerupai kain kapan, berbingkai hitam disekelilingnya. Kedua wayang itu saling berhadapan, berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Wayang yang kurus di sebelah kanan itu, menarik dan menjulurkan tangan ikut kata-kata dalang. Di tempat berlawanan tertancap wayang tinggi besar, berambut gimbal, berkata-kata bernada bass, lalu sebentar-sebentar tertawa mengerikan. Polah kedua wayang itu seperti orang berdebat saja, simpulku.
Para penonton memadat, penonton dewasa yang terbanyak, Duduk rapi sebelah depan, menancapkan pandangan pada pertunjukan itu. Pertunjukan wayang kulit. Ya, wayanglah yang menjadi hiburan paling digandrungi para dewasa di desaku. Mereka mengangguk-angguk, kadang teriak memaki-maki. Lupa pada kekakeannya. Hanyut sekali mereka, pikirku. Agak jauh di bagian belakang, beberapa anak muda hanya berseliweran kesana-kemari, sebagai srigala mengincar mangsanya. Pemuda tak begitu tertarik pada wayang, lebih pada beberapa gadis kampung yang ikut menonton dipagari keluarganya. Bercakap-cakap dengan bahasa sindir yang dipelihara turun-temuru.
Aku berpaling dari kesibukan para pemuda. Meliarkan pandangan menyapu seantero alun-alung desa, dimana wayang digelar. Tanpa terganggu bunyi tetabuhan yang melambat atau kadan meninggi, terus saja mataku mengeliling mencari-cari. Ujung barat, timur, selatan, hingga seluruh penjuru mata angin kusorot habis. Siapa tahu di antara kerumunan orang ini ada teman sekampungku. Cahaya datang hanya dari bulan yang tertutup awan pekat dan beberapa cahaya lampu pedagang kaki lima yang berdagang memanfaatkan keramaian. Membuatku kesulitan mengenal orang satu-persatu. Aku baru nampak seorang saja, setelah berputar berkali-kali.
Juga hanya seorang kakek, yang orang-orang di kampungku memanggilnya Guru Jane. Beliau menjadi guru ngaji, hampir seluruh anak kampung pernah belajar padanya, juga aku. Ia tetangga samping kiri rumahku. Aku memanggilnya Kek Jane. Percuma mencari yang lain, gumalku. Teman-teman kampung sebayaku kurang tertarik dengan wayang, mereka lebih memilih menonton layar tancap di lapangan kecamatan, walau harus merogoh isi saku beberapa ribu sebagai karcisnya. Di sana gadis-gadisnya banyak dan cantik-cantik, pikir mereka.
Memang, wayang sudah menjadi tontonan orang tua saja, habis bahasanya, aneh sih. Kek Jane duduk mematung, sesekali tukar cerita dengan teman duduknya, yang cukup tambun, orang dari kampung sebelah berjarak gang sempit saja. Tapi berumur kakek pula. Mereka terlihat serius mengikuti alur cerita wayang itu. Aku mengambil tempat duduk menyeliti mereka, membelah kedekatan kedua kakek itu. Mereka hanya sekali tengok, lalu memanggilku Salman. Hampir mereka tidak menghirauku lagi. Juga pada kebingunganku. Aku sungguh tak paham wayang, ini wajar, seumurku baru dua kali menonton wayang. Sekarang yang ketiga, inipun karena ingin tahu, apa sih, wayang itu?
“Kakek mengerti bahasa wayang?” godaku, membunyarkan kehusuan mereka. Kedua kakek tak merespon. Kulihat mereka terus berdiam, melongok seperti orang-orangan ditengah sawah. Aku mengulangi lagi pertanyaan yang sama.
“Semasa kecil, aku dalang juga, Man. Orang memanggilku dalang cilik” Jawabnya agak terlambat. Sambil menepuk dada. Jelatan panjang rokok di mulutnya terlupakan. Lalu membuangnya sekalian dan membakar lagi yang baru.
“Dalang itu, apa?”
“Ya, dalang. Orang yang memainkan wayang.”
“Jadi, ngerti, dong?”
“Ya, jelas, masak dalang edan.” Kami bertiga tertawa serempak, ompong kedua kakek itu terlih terang oleh cahaya pedagang asongan yang kebetulan dipanggil sebentar untuk membeli rokok cap kuda, seperti yang telah dihabisinya.
“Wayang besar tinggi, berambut gimbal, dengan ketawa-ketawanya yang aneh itu siapa?”
“Itu Danawe, artinya Leak. Perumpamaan dari nafsu amarah.”
“Kok, perumpamaan?”
“Benar, kan wayang itu artinya bayang atau bayang-bayang. Maksudnya, perumpamaan hidup kita di dunia. Setiap unsurnya memiliki makna. Kelir, tempat wayang membayang, adalah dunia dengan segala isinya. Dua gunungan kiri – kanan, adalah perkampungan, atau bisa juga hati, bentukknya seperti hati `kan?” aku diam saja, menganggu-angguk dalam gelapnya kegelapanku.
“Gunungan kanan, perkampungan muslim atau hati mutmainnah, gunungan kiri, perkampungan kafir atau hati amarah.” Lanjutnya. Aku tetap diam, kediaman murid-murid yang menggali kata demi kata gurunya.
“Lalu, di hadapan Danawe itu, siapa kek?”
“Nah, itu Alam Daur.”
“Kalau, Alam Daur itu?”
“Alam, ya alam. Daur itu perputaran hidup. Senang susah, menangis tertawa, bahagia menderita. Alam Daur berkarakter pemberani, teguh pendirian, musuh kezaliman dan jujur. Jadi, karakter itulah yang dibutuhkan dalam mengarungi alam ini.” Tuturnya kepuasan, sambil membakar sebatang rokok lagi. Mungkin untuk yang keberapa kali. Kali ini ia ingat menyodorkan sebatang padaku.
“Ayolah, dingin,” bisiknya. Aku tidak merokok, tapi tidak menolak. Kakek Jane tidak suka ditolak. Mungkin karena kebiasaan harus diikuti oleh murid-muridnya.
“Aku banyak merokok bila dingin begini,” tuturnya, sambil menjulurkan korek api. Kali ini aku tolak, dengan mendorong tangannya perlahan-lahan. Semoga tidak tersinggu, doa ku.
“Nanti dulu kubakar,” balasku berbisik juga.
Tiba-tiba, suara dalang meraung menggelegar. Kedua wayang berbeda bentuk saling serang, saling gumul, saling tindih. Kusimpulkan saja mereka sedang berkelahi. Alam Daur mengamuk mengacung-acungkan pentungan besar, lebih besar dari tubuhnya. Sedang Danawe mencakar-cakar dengan kukunya, menganga menunjukkan lidah panjang, taringnya yang tajam-tajam dipamerkan, membabat membabi buta. Beberapa saat kemudian, “Wales, wales, wal….es!” teriak Danawe. Wayang Danawe bergetar-getar, limbung, tersungkur menerpa gunung kiri - kanan, terkapar lalu bangkit. Terkapar lagi, bangkit lagi, begitu seterusnya. Segera kutanya.
“Mengapa begitu kek?”
“Danawe itu terkena pedang Alam Daur, dan sebentar lagi akan tumbang lalu mati.”
“Tapi mengapa ia terus meraung-raung?”
“Itulah Danawa, tak pernah lekas menyerah, walau telah bermandi darah, bahkan bila badannya terbelah sekali pun, ia akan tetap meradang, menerjang. Menghantam, menghempas, menikam apapun yang ada diselingkungnya tanpa peduli sanak saudara atau keluarga, semua dibabatnya.”
“Seperti kisal PILKADES di desa kita ini, Kek?”
“Persis. Mereka telah dirasuki nafsu Danawe. Walau dalam pemilihan mereka kalah telak, tetap saja tak mau menerima, justru cari banyak cara untuk menggagalkan kemenangan orang. Yang lagi santer, mereka mau mekar desa. Konon demi pelayanan masyarakt lebih baik.”
“Siapa Percaya? Memang kita pada gila?” aku menambahkan. Kakek tambun di kiriku memiringkan kepala, berusaha menyimak pembicaraan. Kami tertawa serempak. Penonton di belakang terganggu, meminta kami untuk tidak gaduh. Dengan penuh pengertian, kami patuhi.
Tiba-tiba dalang teriak sangat kencang, Danawe yang sudah limbung tadi menyerang kembali.
“Ia hidup lagi,” kata kakek tambun.
“Hidup lagi?” tanyaku mengikut.
“Danawe, akan hidup kembali, bila musuhnya membalasnya lagi.” Sambut Kek Jane.
“Aneh?”
“Memang begitulah nafsu danawe, bila kita menanggapinya, apalagi melawanya dengan nafsu juga, ia akan hidup kembali dengan tenaga berlipat-lipat.” Aku diam saja, memijit-mijit otak, mencoba memahami cerita Kek Jane.
Suara tetabuhan bertambah keras, teriakan penonton memaki-maki. Mereka sangat benci pada Danawe yang terus mengamuk. Menyerang Alam Daur kesetanan. Seperti tidak memiliki rasa jerih. Alam Daur terseok mempertahankan diri dengan bingung. Tenaganya terkuras, gerakannya kian lamban dan tumbang. Hampir saja disantap Danawe, ketika sesosok wayang yang dipanggil Wong Agung itu datang memegang Alam Daur. Kehadirannya disambut tepuk tangan riuh para penonton. Seperti sporter bola saja, pikirku. Kedua wayang berbicang seperlunya, lalu Alam Daur menginsut-ingsut mundur dan Wong Agung maju melompat, mengejar raksasa yang mengamuk menggila.
“Siapa lagi wayang kecil itu, kek? Mengapa ditepukkan tangan?”
“Nah, itu dia raja dari wayang-wayang baik?”
“Raja. kok kecil, muda lagi?”
“Ya, Perlambang dari orang yang bijak, bukan penguasa. Orang bijak tidak harus orang besar `kan, justru orang-orang besarlah yang selalu menggerus hak-hak orang kecil, karena merasa kuasa tentu.” Aku menunduk saja. Kata demi kata yang diceritakan Kek Jane sulit untuk ditampikkan.
Teriakan wayang kecil itu sangat lantang. Dengan sebilah keris sebagai senjata, membabat setiap Danawa yang datang. Cara memainkan pedangnya cepat dan cekatan. Tiap Danawe yang kena tebasan ditinggalkan begitu saja tanpa membalasnya lagi. Lalu mengejar yang lainnya. Sorak-sorai penonton kian bergemuruh, juga tetabuhan kian mengancam dendrang telinga. Satu-persatu para Danawe dibantai. Hampir tak ada yang tersisa lagi, saat dari sebelah atas Danawe terbesar mengaung menyambar-nyambar, mengejutkan Wong Agung. Sontak saja Wong Agung merunduk, menghindar. Seorang penontok terdenga berteriak, diantara riuh, “Bunuh juga rajanya!” Member semangat pada Wong Agung.
“Raja memang selalu datang terlambat.” Tutur Kek Jane tanpa kuminta.
Aku menatapnya, berharap lebih jelas lagi. Dihisapnya rokoknya dalam-dalam, rokok yang sedari tadi tak terpindahkan dari mulutnya.
“Raja, selalu terlambat member pertolongan pada rakyatnya. Ketika rakyat butuh pertolongan, ia tetap duduk nyaman di kursi empuknya, sambil menikmati dayang-dayang dan hidangannya. Setelah dirinya merasa terancamlah ia baru datang.”
“Jadi hanya untuk menyelamatkan dirinya kek?”
“Benar, hanya untuk kebaikan dirinya. Jarang sekali ada raja yang mau mengorbankan diri demi rakyatnya. Apalagi raja para Danawa.”
“Jadi raja-raja kita di Indonesia ini juga raja Danawa Kek?” celetukku, disambut ketawa serentak.
“Tepat, Man. Hampir seluruh raja-raja kita, bahkan sang maha raja kita. Hanya berpikir tentang dirinya, keluarganya, partainya, dan nya-nya yang lainnya.” Lagi kami ditegur penonton dibelakang, yang terganggu dengan kakakan kami.
“Begitulah harusnya, melawan orang-orang yang menyerang kita dengan hawa nafsunya.”
“Maksud kakek?”
“Biarkan saja mereka, meraung-raung sendiri, memaki-maki dan menantang. Tetaplah sabar, jangan dilawan! Bila dibiarkan saja, mereka akan mati sendiri.”
“Tapi, mereka akan terus merong-rong kita, Kek?”
“Dasar, anak muda! Kubilang tadi, biarkan dan teruslah bersabar. Munculkan prilaku dewasamu dan yakinlah, mereka akan dikalahkan dirinya sendiri. Bukankah kita adalah musuh bagi diri kita sendiri, bahkan musuh paling ganas.”
“Kakek, pintar juga, ya?” tanyaku menyanjung.
“Mantan dalang ci…lik.” sambutnya segera.
Tiba-tiba lampu wayang berubah warna darah, entah apa yang diletakka di depan lapu wayang itu. Seperti sebuah kertas, ya, kertas minyak berwarna merah.
“Apa lagi itu, kek?”
“Begitulah para dalang, bila mengisahkan raja danawa yang terbunuh. Jika tidak …”
“Jika tidak?” kejarku, tak tahan.
“Maka, seluruh leak-leak yang berada di pulau ini, akan segera menyerbu si dalang. Dan dalang akan terbunuh, oleh tusukan dan gigitan di sekujur tubuhnya.” Tahyul betul kakek ini, ejekku dalam hati .
“hi.., ngeri,” sambarku, sambil mengangkat kedua bahu. Aku harus percaya pada cerita Kek Jane, bila kucoba menentang. Kakek tidak suka itu. Kupilih mendukung saja, kupikir semua orang punya sifat danawe. Maka kulawan saja Kakek Jane seperti Wong Agung melawan danawe-danawe itu.
Tak terasa kami sudah lama menonton, ketika tiba-tiba lampu wayang normal kembali dengan dua gunung kiri dan kana tertancap berhimpitan ditengah-tengah kelir. Seluruh penonto yang tersisa, segera bangkit. Meraba-raba sandal masing-masing, yang menjadi alas duduknya selama menonton. Tak terkecuali juga kami bertiga.
“Aku, sangat puas menonton wayang, malam ini.” Gerutu kedua kakek sahabatku.
“Aku lebih dari itu Kek. Ini rokok tadi. Aku tak merokok” jawabku, sambil kujulurkan pada Kek Jane. Kakek menyambarnya, dan segera membakarnya. Agak masam wajahnya menyambar rokok itu. Mungkin karena aku menolak pemberiannya.
Dengan berjejer kami melangkah serempak, meninggalkan alun-alun desa. Yang tersisa hanya pedagang kaki lima sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka.
- Gelora FM
- Sastra
- dibaca 375x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

