Sepenggal Kisah, Mengenang Satu Tahun Erupsi Merapi
Selasa, (26/10/2010), Merapi mulai menunjukkan peningkatan aktivitas erupsinya. Abu vulkanik mulai turun menyelimuti daerah di sekitar lereng Gunung Merapi. Sejumlah sukarelawan mulai merapat di Posko Jalin Merapi di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Para sukarelawan yang terdiri dari mahasiswa, pegiat radio komunitas, warga, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbaur menjadi satu. Mereka berbagi peran, ada yang turun langsung ke pos-pos pengungsian untuk mendata kebutuhan dan jumlah pengungsi, ada pula yang tetap berada di posko mengolah informasi dari lapangan.
Setelah itu, segala informasi yang terkumpul langsung disebarluaskan melalui pelbagai media, seperti Twitter, Facebook, Website, dan handy talky (HT). Bantuan pun mulai berdatangan dari pelbagai pihak, mulai dari selimut, pakaian, peralatan mandi, hingga makanan ringan. Setelah didata dan dicek dengan kebutuhan di lapangan, seketika itu juga langsung disebarluaskan ke pos-pos pengungsian yang membutuhkan.
Jum’at (29/10/2010), dari Posko Jalin Merapi Dukun Magelang, sejumlah pegiat pegiat radio komunitas pindah ke TPA (Tempat Pengungsian Akhir) Tanjung Muntilan. Ada Rinaldi (JRK-JATENG), Budhi Hermanto (CRI), Titin Misbah (MUHI FM) dan beberapa rekan lain. Kepindahan itu didasari diskusi tentang perlunya mendirikan studio radio komunitas di pengungsian. Di TPA Tanjung, Titin Misbah dibantu sejumlah pegiat Rakom lain mulai mencari lokasi yang akan dijadikan studio radio komunitas tanggap darurat.
Gayung bersambut, CRI (Combine Resource Institution) selanjutnya membantu menyediakan peralatan pemancar lengkap dengan satu unit komputer. Namun, pendirian studio radio darurat ini sempat terkendala oleh dukungan tempat. Setelah bernegosiasi dengan pihak yang bertanggung jawab di tempat itu, akhirnya dipinjami satu ruangan gudang di TPA Tanjung. Tanpa menunggu waktu lagi, mulailah satu per satu pemancar dan komputer dirangkai, antena mulai dipasang. Dirasa kurang tinggi, antena yang tadinya hanya menggunakan tiang bambu kemudian diikat di pohon kelapa.
Senin (1/11/2010), radio komunitas sudah mulai mengudara di frekuensi 107.8 MHz. Diharapkan dengan adanya radio di pos pengungsian, akan menjadi media informasi bagi warga yang mulai berdatangan di pengungsian, warga sekitar pengungsian maupun pihak-pihak terkait dan para pemangku kepentingan. Di samping menjadi media informasi, radio ini juga diharapkan bisa menghibur para pengungsi yang ada di sana.
Studio sudah berdiri, personil penyiar dan teknisi sudah ada. Selanjutnya tinggal membuat log siaran. Namun, ternyata ada yang ketinggalan, yakni ID Station. Setelah melewati diskusi singkat akhirnya di sepakati “Radio Jalin Merapi” sebagai nama udara dan “sobat merapi” sebagai audience call. Ditambah lagi kata “Roso..roso!” di belakang kata “Radio Jalin Merapi” di setiap opening siaran.
Namun belum sampai sepekan mengudara di TPA Tanjung, radio yang didirikan secara gotong-royong ini harus pindah. Tanggal 4/5 November 2010, erupsi merapi lebih dahsyat, sehingga memaksa warga berpindah ke pos pengungsian yang lebih aman. Hal ini membuat TPA Tanjung penuh sesak karena pengungsi terus berdatangan. Mau tidak mau, ruangan gudang berukuran kurang lebih 4 x 7 meter yang didalamnya didirikan studio radio, harus berbagi dengan para pengungsi. Ditambah aliran listrik mati, air tidak ada membuat suasana begitu kacau. Terlebih pada sekitar jam 23.30 malam, sesekali terdengar gemuruh yang bersumber dari Merapi membuat keadaan semakin mencekam. Hujan abu dan pasir, bukannya semakin berkurang malahan terlihat semakin tebal.
Keesokan harinya, peralatan siaran satu persatu mulai diboyong ke rumah Titin Misbah (Mbak Titin) sekitar 300 meter sebelah barat TPA Tanjung. Karena ruangan gudang, harus digunakan sebagai tempat singgah para pengungsi. Kendati rumah mbak Titin tidak terlalu jauh, namun terkendala jalan yang tertutup abu tebal sehingga licin. Ditambah pohon-pohon yang roboh karena tak kuat menahan beban abu yang tebalnya mencapai 7-8 cm, membuat jalan terhalang. Hal ini tentu mengganggu para pengguna jalan.
Sesampainya di rumah mbak Titin, mulai dipikirkan tempat untuk studio radio dan mengudara lagi. Di samping terus berkoordinasi dengan rekan-rekan Jalin Merapi Induk (Yogyakarta) dan Jalin Merapi 1 (Dukun, Magelang). Ternyata, rekan-rekan relawan yang tadinya berada di Jalin Merapi 2 (Srumbung) juga di tarik ke Adikarto (rumah mbak Titin) yang kemudian berdirilah, “Posko Jalin Merapi 2” (Adikarto, Muntilan).
(Muhammad Ainur Rofiq)
- Suara Kampung Pintar
- Pengalaman
- dibaca 844x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

