Kilau Menggoda di Tambang Tatelu
Wanuata FM - Wanuata FM
Tatelu, Suara Komunitas. Tambang Tatelu merupakan pertambangan emas yang mampu menarik simpati masyarakat penambang dari berbagai kalangan. Inilah pertambangan tradisional yang belum lama mendapat ijin WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat) oleh pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada 18 Mei 2011. Sejak saat itu, geliat pertambangan Tatelu kian bergelora. Ribuan pekerja antusias bergelut demi mendapatkan kilau emas yang menggoda.
Saat memasuki kawasan ini, terlihat jejeran tenda sederhana hingga bangunan permanent menghiasi deretan bentangan alam perbukitan bernama ‘Perkebunan Batu Api’ Tatelu. Aktifitas di kawasan ini sungguh terlihat ramai, padat dan penuh gairah. Puluhan sapi ikut bersesakan mengisi kesibukan sebagai sarana angkutan material bebatuan mengandung emas yang telah dikarungkan. Terdapat pula para penjual makanan & kue keliling dengan ragam jenis penganan khas mengundang selera, serta mereka para penjajah seks komersil yang tampil terselubung namun tetap penuh sensasi. Terlihat juga anak usia sekolah beraktifitas di kawasan ini tanpa ada pengawasan. Kesemuanya mengembara saling beradu nasib di tambang Tatelu.Namun bagi para penambang, dengan berbekal betel, martil dan linggis mereka rela berjam-jam di kedalaman lubang galian tambang hingga mencapai ratusan meter. Sebuah pekerjaan penuh resiko yang sewaktu-waktu dapat mengakhiri hidup mereka. Tapi mereka tak mengenal istilah takut, sebab sebagian besar dari mereka telah menggeluti dunia pertambangan rakyat puluhan tahun.
“Saya sudah lama bekerja sebagai penambang, sejak 21 tahun lalu,” kata Udin kepada Suara Komunitas. Hal itu tergambar dari aktifitasnya. Tak ada ketakutan sedikitpun dari raut wajah lelah seorang Udin saat tiba di permukaan lubang. Dengan telanjang dada, celana ceper lusuh, sebatang rokok dan sebuah senter kepala, Udin berhasil menapaki satu persatu gelagar-gelagar kayu. Seluruh badannya teroles lumpur basah berwarna putih kecoklatan. Di pinggangnya terikat kantong kecil berisi bebatuan yang telah dipilih untuk di teliti secara tradisional apakah mengandung emas atau tidak.
Menurutnya, profesi seorang penambang tidak boleh penakut, harus berani, tegar dan keras layaknya emas sebagai logam mulia. “Kalau takut, itu tidak menggambarkan kilau emas yang kita cari,” ungkapnya penuh semangat.
Dalam sebulan pendapatan Udin dan rekan-rekannya bervariasi. “Torang kwa nda tantu tu pendapatan, laengkali satu juta, kong dua juta, mar datang soe nyanda ada penghasilan (pendapatan tidak menentu, bisa 1-2 juta, tapi bila lagi sial pasti nihil),” ujarnya dengan logat Manado kental.
Disisi lain seorang Bima, penyedia angkutan sapi, sibuk teriak mengatur perintah kepada sapi-sapinya. Umpatan dan makian tak henti keluar dari mulutnya. Sesekali sebatang rotan modifikasi terlontar kepunggung binatang bertenaga hebat itu. Akhirnya hewan ternak itu seperti tahu jika tuannya lagi marah. “Harus teriak pak, kalau terus-terusan di cambuk kasian juga,” kata Bima dengan simpul senyum.
Ceritanya, emosi kadang memuncak jika borongan angkutan sangat banyak. Emosi terjadi saat sapi sudah mulai kelelahan, sehingga jalannya semakin pelan. Juga agar sapi tidak terperosok kedalam lubanng eks galian yang telah ditinggalkan penambang. Itulah sebabnya sebuah teriakan keras dirasa perlu agar emosi kemarahan bisa teratasi. “Walau agak marah, tapi kami paham bahwa hewan ini sudah lelah. Namun kami juga harus antisipasi agar tidak masuk ke lubang bekas, sekaligus mengejar target borongan,” tutur Bima, sambil mengatur tali-tali hidung ketujuh ekor sapinya.
Dari ketujuh ekor sapi tersebut, pak Bima bisa mengantongi pendapatan Rp.280 ribu dalam satu ret atau sekali jalan. “Pendapatan kita bervariasi, per satu karung muatan dihitung Rp.10 ribu tergantung jaraknya. Satu ekor sapi mampu mengangkut empat sampai lima karung. Dalam sehari bisa lima ret,” urainya.
Hiruk pikuk tambang bukan cuma dimiliki Udin dan Bima. Terdapat banyak aktifitas lain mengisi kehampaan penghuninya. Hal itu membuat para wanita-wanita muda bergentayangan mencari mangsa sebagai PSK (pekerja seks komersil). Mereka terus bergerak entah siang atau malam, keluar masuk tenda-tenda pekerja tambang dengan tampilan sederhana namun genit bila disapa.
Sebut saja Bunga, wanita muda berparas cantik ini sulit diketahui kalau PSK. Bunga menjalankan aksinya berselimut sebagai penjual kue keliling. Ia sering menawarkan kue jualannya dengan harga murah dan bisa di hutang. Untuk mendapatkan harga layanan seperti itu, calon pembeli harus banyak mengatur variasi tawar menawar. Biasanya, kegenitan sang penjual kue mengundang tawaran esek-esek dari para pekerja tambang dengan bahasa candaan. Bila deal, esek-esek bisa dilakukan dengan terlebih dahulu mengatur jam ‘tayang’.
Seorang penambang lokal yang enggan menyebut nama, menceritakan bila para penjaja seks di areal tersebut tidak semuanya berlatar belakang penjual kue. Ada juga yang memang sudah dikenal sebagai PSK yang datang dari kota Manado. “Mereka kesini ada yang memang telah dihubungi oleh pekerja tambang, ada juga yang berspekulasi pura-pura mencari sahabat atau keluarga disini,” katanya.
Ironisnya di lain tempat di kawasan ini terdapat kaum pekerja anak di bawah umur melakukan aktifitas keseharian tanpa ada pengawasan dari orang tua dan petugas pengawas tambang. Mereka terlibat dalam pekerjaan penumbuk batu, pengangkutan, pekerja lubang galian, hingga buruh di kawasan wadah pengolahan emas. Padahal ancaman keselamatan sangat beresiko, terutama karena area yang sangat berbahaya, serta adanya penggunaan bahan kimia seperti mercury dan sianida.
Hasil rangkuman data dari sebuah OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) Swara Wanua di Tatelu, terdapat sekitar 15 ribu penambang mendiami
kawasan tersebut pada tahun 1999 hingga awal 2004. Jumlah itu kemudian menyusut siring dengan waktu. Namun pada 2010 sampai Agustus 2011 diperkirakan jumlahnya mulai menanjak sebab harga emas yang kian menggoda. Pemerintah Desa Tatelu sendiri tidak memiliki data pasti jumlah pekerja tambang di sana. Namun secara kasat mata jumlahnya masih ribuan orang.
kawasan tersebut pada tahun 1999 hingga awal 2004. Jumlah itu kemudian menyusut siring dengan waktu. Namun pada 2010 sampai Agustus 2011 diperkirakan jumlahnya mulai menanjak sebab harga emas yang kian menggoda. Pemerintah Desa Tatelu sendiri tidak memiliki data pasti jumlah pekerja tambang di sana. Namun secara kasat mata jumlahnya masih ribuan orang.Walau tidak memiliki data pasti, diperkirakan jumlah pekerja anak dibawah umur mencapai ratusan anak. Perkiraan itu terpenuhi dengan adanya wadah pengolah emas sebanyak ratusan unit (versi penambang ±700an) dan sekira 5.000-an lubang galian. Angka ini belum termasuk sarana pengangkutan seperti mobil, motor, dan sapi serta para penjual keliling yang kesemuanya melibatkan pekerja anak.
Pengakuan legal Tambang Tatelu dari Pemerintah Daerah Kabupaten Minahasa Utara setelah keluarnya Surat Keputusan Bupati bernomor 02/DISTAMBEN/2010 tanggal 18 Mei 2011 tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Tatelu, selain mendatangkan berkat bagi banyak pihak, juga menjadi ancaman serius bagi generasi mendatang. (wanuata)
- Wanuata FM
- Feature
- dibaca 377x
- [0] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

