Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Perempuan dan Perubahan Iklim Pendapat

Oleh : Abdul Wahab

Mudik, itulah yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan atau perantau untuk berlebaran dengan sanak keluarga dikampung halamannya masing – masing, seolah - olah sudah menjadi tradisi disetiap tahun menjelang lebaran idul fitri, pada tahun ini mudik mulai membludak pada H-7 jelang labaran jika dibandingkan awal bulan ramadhan, dan puncak arus mudik terjadi pada H-4 dan H-2 jelang lebaran, mudik kali ini diberapa wilayah dipengaruhi dengan perubahan iklim yang tidak menentu sehingga para pemudik yang mengunakan sepeda motor, dan kapal laut cukup was – was dengan stuasi seperti ini.

Dengan perubahan iklim yang tidak menentu membuat beberapa calon pemudik tertunda keberangkatannya karena kerapkali terjadi angin kencang yang  disertai  hujan lebat, akibat dari perubahan iklim, selain terhambatnya arus mudik juga bisa membuat perekonomian masyarakat terganggu. Salain itu juga berpengaruh pada tingkat kecelakaan dijalan raya, sehingga sering kali terjadi kecelakaan lalu lintas baik di darat, laut dan udara. Seperti apa yang di liput oleh beberapa Media cetak elektronik dimana pengendara motor yang membawa perempuan dan anak – anak yang melebihi kapasitas sehingga mengundang maut, Disisi lain masyarakat yang mata pencahariannya di laut juga terhambat ekonominya sehingga untuk mendapatkan nafkahnya harus digantikan oleh istrinya. Mungkin bagi  mereka yang pekerjaannya bukan di sector yang rentan terhadap bencana atau bagi mereka yang pekerja kantoran ini mungkin tidak begitu berpengaruh  dengan perubahan berbagai iklim, karena dengan berbagai iklimpun bagi mereka tidak ada masalah, paling hanya menghambat untuk konsumtifnya keluarga saja.

Pengaruh perubahan iklim sebenarnya sangat berdampak bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Seperti menurut Pusat Penelitian Politik, Perubahan iklim (climate change) saat ini telah menjadi salah satu ancaman global dan serius bagi keamanan manusia (human security). Berbagai efek dari perubahan iklim mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pihak-pihak yang paling merasakan dampak perubahan iklim tersebut adalah negara-negara miskin dan kelompok masyarakat yang rentan, seperti perempuan dan anak-anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh the London School of Economics and Political Science terhadap 141 negara yang terkena bencana pada periode 1981-2002 juga menemukan kaitan erat antara bencana alam dan status sosial ekonomi perempuan. Bencana alam ternyata berakibat pada penurunan angka harapan hidup perempuan dan peningkatan gender gap dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan ternyata merupakan korban terbesar dari berbagai bencana alam yang terjadi. Akibatnya, terjadi peningkatan angka kemiskinan di kalangan perempuan. Sumber http://www.politik.lipi.go.id Jan 2010.

Seperti yang disebutkan diatas ternyata perubahan iklim yang mengakibatkan bencana cukup berpengaruh bagi perempuan dan anak, memang secara ilmu agama itu merupakan kehendak Allah Swt yang tidak dapat kita pungkiri. Tapi secara kasat mata bisa kita melihat dalam kehiduan sehari – hari betapa perempuan dan anak - anak sering kali menjadi korban dari perubahan iklim itu sendiri. Pada saat banjir tiba Misalnya, sejumlah guru perempuan enggan berangkat kesekolah karena demi keselamatan dijalan akibat banjir, bahkan sejumlah suami harus mengantar istrinya untuk berangkat kesekolah demi keselamatan jiwa istrinya, dengan demikian secara tidak langsung pengaruh iklim yang beakibat banjir sudah menhambat perekonomian bagi suaminya yang harus setiap hari selama banjir mengantar istrinya kesekolah yang harus meninggalkan pekerjaannya. Memang secara social terkadang guru yang laki menyarankan  guru yang perempuan untuk tidak hadir pada saat ada bencana banjir. Mungkin itu hanya contoh kecil yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita, dan masih banyak contoh yang lain bahkan lebih besar.

Dampak yang paling besar pada saat perubahan iklim terjadi terutama di daerah – daerah yang masih tergolong miskin bahkan dibeberapa negara maju yang korban perubahan iklim yang didominasi kaum perempuan,  Data-data menunjukkan tingginya jumlah perempuan yang menjadi korban dari berbagai fenomena alam akibat perubahan iklim. Bencana tsunami di Aceh, misalnya, sebanyak 55-70% korban meninggal adalah perempuan. Bahkan di beberapa negara maju juga menunjukkan trend yang sama. Ketika terjadi bencana gelombang panas di Perancis pada tahun 2003 perempuan merupakan 70% dari 15,000 korban meninggal. Selain itu, korban badai Katrina di Amerika Serikat (AS) adalah mayoritas perempuan miskin keturunan Amerika-Afrika, yang termasuk kategori masyarakat miskin di AS. Persoalannya, menurut laporan UNFPA, fakta akan tingginya angka kematian perempuan tidak disertai dengan berbagai kebijakan yang memberikan perhatian kepada perempuan dan anak sebagai pihak yang rentan terhadap bencana. Padahal bencana akibat perubahan iklim tersebut memiliki dua implikasi penting bagi perempuan. (Sumber: LIPI Jan 2010)

Lalu, adakah hal yang perlu diperhitungkan dalam mengatasi berbagai perubahan iklim di dunia sehingga kaum perempuan dapat terlibat secara langsung dalam mengatasi perubahan iklim ini. Pusat Penlitian Politik menulis kalau perempuan bisa memerankan diri sebagai agent of change atau sebagai agen perubahan yang responsnya lebih cepat dibanding laki – laki yaitu terlibat secara langsung dalam stuasi bencana alam, selain itu juga peran perempuan sebagai decision makers ( pemgambil keputusan ) dan community leaders ( Tokoh Masyarakat )  juga penting untuk mendorong pengintegrasian perspektif perempuan dalam berbagai kebijakan terkait dengan perubahan iklim.

Oleh sebab itu sudah sepantasnyalah kaum peremuan untuk menjadi agen perubahan dalam mengadvokasi berbagai isu dalam masyarakat yang terkait dengan perubahan iklim apalagi pengakuan akan pentingnya perspektif gender telah muncul dalam the Hyogo Framework of Action sebagai hasil dari the World Conference on Disaster Reduction States yang diselenggarakan PBB pada tahun 2005. Kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa “a gender perspective should be integrated into all disaster risk management policies, plans and decision-making processes, including those related to risk assessment, early warning, information management, and education and training” atau dengan bahasa Indonesia lebh kurang seperti ini "Perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam semua kebijakan manajemen risiko bencana, rencana dan proses pengambilan keputusan, termasuk yang terkait dengan penilaian risiko, peringatan dini, pengelolaan informasi, dan pendidikan dan pelatihan" Sumber: LIPI.

Apa yang menjadi harapan diatas, melalui kelompok – kelompok perempuan melalui lembaga – lembaga international yang mempunyai program Pengurangan Resiko Bencana (disaster risk reduction) di beberapa tempat di aceh seperti melatih beberapa guru dalam mengintegrasikan Pengurangan Resiko Bencana ke dalam mata pelajaran sekolah, juga sudah dilatih cara penanggulangan bencana untuk bidan dan kader – kader posyandu, juga bagi kelompok KSM wanita yang ada di desa – desa.

Ini tentunya atas pertimbangan dengan berbagai pengalaman yang didapat diberbagai Negara, karena perempuan memiliki naluri yang tinggi, dan pintar dalam mengatasi berbagai isu yang berkembang dikalangan masyarakat. Sehingga perempuan tidak menjadi objek sebagai korban dari perubahan iklim, tapi harus menjadi actor atau agen perubhan yang berperan untuk mengurangi resiko bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, “ perempuan pada dasarnya mempunyai dasar kehidupan untuk beradaptasi dan bermitigasi untuk memelihara. Selain itu, sebagian besar perempuan masih menyimpan kearifan lokal yang diwariskan nenek moyangnya. Karena itu, mereka adalah aset penting bagi pemberdayaan, pemeliharaan, dan pencegahan lingkungan dari kerusakan”. (sumber:kompas.com, diposkan oleh : http://caksuni.blogspot.com).

Keterlibatan perempuan sebagai community leaders ( Tokoh Masyarakat )  dimasyarakat cukup mudah dilakukan di Aceh apalagi ditingkat pemerintahan yang paling bawah keterlibatan perempuan sudah nyata seperti dalam struktur tuha peut gampong atau lembaga musyawarah desa sudah ada perwakilan  sehingga untuk pengambilan keputusan mengenai tindakan atau kebijakan dalam pengurangan resiko bencana di desa cukup mudah.
Selaian itu juga, untuk tingkat desa perempuan juga mempunyai kelompok – kelompok social seperti kelompok wirid yasin dan lain sebagainya, sehingga kalau forum seperti ini sangat mudah untuk mengkampanyekan pengurangan resiko bencana dan hal penting lainnya.

Mudah – mudahan apa yang telah dicanangkan oleh lembaga – lembaga dunia untuk terus melibatkan perempuan dalam pemgambilan kebijakan, dan menjadikan perempuan sebagai Agent of change yang bisa berperan dalam mengurangi resiko bencana dilingkungannya atau sekurang – kurangnya dalam lingkungan keluarga dapat terwujud, sehingga dapat mencegah korban yang lebih besar.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09018 seconds.