Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Sepercik dari Bara Api yang Mulai 'LUNTUR' Sastra

Aku hanyalah selembar kain lusuh. Ya, mungkin hal itu yang ada dibenak kalian semua tentang aku. Padahal, jika mengingat takdirku sekaligus statusku sebagai lambang serta ‘duplikat’ dari ‘Sang Pusaka’, seharusnya kalian akan banyak mendapatkan makna dari warna serta seluruh bagian ‘tubuhku’, tunggu! Bolehkah aku menyebutnya ‘tubuh’?

Tapi bisa kalian rasakan, atau bahkan kalian memang sudah lupa bagaimana eksistensiku? Tak apalah, kurasa aku mulai terbiasa dengan surutnya ‘Api Semangat’ yang menyelimuti tubuhku.

Karena besarnya rasa takutku akan hilangnya karismaku, walaupun sebelumnya aku menyebutkan bahwa aku mulai terbiasa dengan… sudahlah aku tak mau mengungkit-ungkitnya lagi, karna aku tak mau kalian pergi karena terlalu menunggu, langsung saja, aku akan menceritakan sepercik dari bara api riwayatku yang kini bisa dibilang mulai ‘LUNTUR’?

Eksistensiku? Jika manusia itu diciptakan dari dua ‘cairan’ yang berbeda, dan menurut Al-qur’an mereka diciptakan dari segumpal darah, ya, kalian boleh menganggap dua-duanya benar, maka akupun begitu, hanya saja, bukan dua cairan yang membentukku, tetapi aku terbentuk dari dua warna yang berbeda, kalian tahu? Aih~ jangan sampai kalian lupa itu! Aku terbentuk dari dua kain, yaitu merah dan putih.

Sesudah aku jadi, aku bisa dimiliki oleh manusia manapun, yang ‘mungkin’ membutuhkanku. Setelah itu, bisa kalian bayangkan penderitaanku yang terperangkap dalam lemari pengap, gelap, dan bau berbulan-bulan lamanya. Bahkan seekor kecoa pun seringkali menorehkan cairannya (baca: pipis). Tapi bisakah aku protes?

Teperangkap dalam lemari masih bisa disebut enteng, jika kusebut enteng berarti ada yang lebih ‘menyengsarakan’!

Suatu hari, akhirnya aku bisa berjemur dibawah pantulan Sang Mentari, hembusan anginpun mengibarkanku dengan gagahnya, ‘Aku Jaya!’. Akan tetapi, disamping ‘Kejayaan’ yang kusebutkan tadi, aku merasa kehilangan juga rasa malu. Rasa lega yang sempat hinggap, kembali terkikis oleh gumpalan-gumpalan rasa sesakku, ‘Dimana Bangsaku? Kemana teriakkan-teriakkan rasa bangga yang mereka teriakkan?’

Siang, Sore, Malam, aku masih menunggu ekspresi bangga dari para manusia yang sejak tadi memang melewatiku, bahkan orang yang ‘memajangku’ pun sama sekali tidak melirikku semenjak ia ‘memajangku’. Setelah itu aku tidak putus asa, berbekal kebanggaan lebih tepatnya kesombongan, aku masih bersikeras menunggu, berjam-jam bahkan berhari-hari.

Kalian boleh menjejalkan berbagai pertanyaan, ‘mengapa aku masih bersikeras menunggu?’, atau yang lainnya. Tapi tampaknya kali ini kalian sedang ingin mendengarkan, atau sekedar bersimpati, tapi aku akan sangat senang jika kalian benar-benar memerhatikanku. Sampai mana tadi? Oh ya, ‘mengapa aku masih bersikeras menunggu?’, sudah kusebutkan tadi bahwa aku memang ‘sedikit’ sombong, bolehkah?

Mungkin ini satu-satunya fakta yang tertinggal dan bisa membuat aku membusung dengan terus mengibar-ngibarkan ‘badanku’ (tadi aku sudah minta ijin kan?), ya, aku telah lama berperan dan menjadi saksi di Panggung Perayaan Kemerdekaan Bangsa ini, bertahun-tahun lamanya. Dan aku juga boleh bangga jika menyangkut-nyangkut cerita ‘Pendahuluku’ (baca: bendera yang dikibarkan saat Proklamasi) yang dengan gagahnya dikibarkan angin. Pendahuluku dulu dipenuhi oleh rasa syukur serta haru orang yang menyaksikannya, juga dibanggakan angin yang terus mengibarkannya, sehingga ia terus berkibar penuh karisma dan makna. Akan tetapi nyatanya saat ini, Pendahuluku itu yang dijuluki ‘Sang Bendera Pusaka’ kini lusuh, terdampar tak berdaya dalam kurungan dan sekat-sekat kaca tebal. Kebanyakan orang kini menganggapnya hanya sebuah kain lusuh, saksi dari sejarah kemakmuran mereka.

Mengingat kisah yang terakhir, mengembalikanku pada kenyataan pahit yang kini tengah kualami. Dapat kurasakan, kini Sang Angin pun turut mengejek dan terus mengolok-olokku dengan mengombang-ambingkanku dalam kuasanya, semakin memperlihatkanku bahwa aku tiada daya. Orang-orang yang terus berjalan tanpa menoleh dan hanya menganggapku penghias jalan, semakin memperparah keadaan, membuatku semakin dipermainkan oleh angin, yang menyadari karismaku yang mulai surut.

Jika aku punya kelenjar air mata, maka aku akan menggunakannya untuk melampiaskan rasa sesakku, walaupun berarti aku juga harus merendahkan sedikit harga diriku. Kini hujanlah yang mewakiliku untuk menumpahkan emosiku, ya anggap saja aku juga mempunyai emosi yang sama dengan manusia. Kini aku benar-benar takut, akankah 17 Agustus yang semula menjadi hari kebanggaanku, kelak menjadi hari kesedihanku, bahkan hari sialku?.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08941 seconds.