Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Anak-anak Suku Bajo di Desa Mekar Banyak yang Putus Sekolah Berita

DESA MEKAR (Suara komunitas) - Desa Mekar merupakan salah satu desa di pesisir Kecamatan Soropia yang mayoritas penduduknya adalah suku Bajo. Desa ini terletak tidak begitu jauh dari kota Kendari. Hanya butuh waktu 45 menit untuk mencapai desa ini dengan menggunakan ojek atau kendaraan umum. Seperti warga Bajo lainnya di Kecamatan Soropia, sebagian besar penduduk Desa Mekar juga menggantungkan hidupnya dari hasil laut.

Walaupun hasil dari menangkap ikan tak seberapa dan tidak menentu, tapi itu tidak jadi alasan untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Sejak 2008, kesadaran para orang tua akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka mulai terlihat. Hal ini tampak dari banyaknya anak-anak Suku Bajo di Desa Mekar yang melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan hingga ke universitas, satu hal yang mustahil terjadi pada anak-anak Suku Bajo.

Setelah tamat SD, anak-anak Bajo Desa Mekar berbondong-bondong melanjutkan  ke tingkat SMP atau  sederajat di Kelurahan Toronipa. Anak-anak yang telah tamat SMP juga tidak ragu melanjutkan ke tingkat SMA di Kelurahan Toronipa atau di Kendari. Bahkan minat para pelajar Bajo untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi juga sangat besar.

Hingga saat ini banyak warga Suku Bajo tercatat sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Kendari, baik negeri maupun swasta. Ini bukti bahwa suku Bajo yang dulu dikenal identik dengan keterbelakangan sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan untuk masa depan. Apalagi sekolah gratis yang diberlakukan di Madrasah Tsanawiyah Bahrul Mubaraq, Toronipa membuka peluang besar bagi para pelajar Suku Bajo untuk tetap bersekolah tanpa harus memikirkan biaya lag.

Tetapi, kesempatan baik ini ternyata tak sepenuhnya dimanfaatkan anak-anak Suku Bajo, Desa Mekar. Kasus anak putus sekolah kini kembali terulang di Desa Mekar. Jika dulu anak putus sekolah hanya terjadi pada anak-anak SD, kini merambah SMP dan SMA. Tampaknya faktor lingkungan sosial yang tidak mendukung adalah faktor penyebabnya.

Anak-anak putus sekolah itu kebanyakan bergaul dengan teman yang telah lama meninggalkan bangku sekolah, hingga mereka terbiasa dengan segala rutinitas sang teman dan akhirnya memaksa mereka untuk meninggalkan bangku sekolah. Padahal orang tua mereka sudah menggantungkan harapan yang tinggi kepada anak-anak ini untuk tetap menempuh pendidikan.

Para orangtua pun tidak bisa berbuat banyak. Seperti yang dialami Hajar, anaknya, Rasyid yang baru setahun menuntut ilmu di MAS Bahrul Mubaraq Toronipa tiba-tiba keluar sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Padahal secara ekonomi ia masih sanggup membiayai sekolah anaknya itu. “Kami masih bisa membiayai sekolahnya, apalagi biayanya juga tidak terlalu banyak seperti sekolah di kota,  tapi mau bagaimana lagi, dia sudah tidak mau,” kata Hajar. 

Tidak hanya Hajar, masih ada sebagian ibu di Desa Mekar yang bernasib sama dengannya. Semua keinginan sang anak sudah dituruti agar tetap mau bersekolah. Tetapi, semuanya sia-sia. Bukannya rajin bersekolah, sebagian anak justru malas ke sekolah yang akhirnya membuat mereka putus sekolah. Mereka lebih memilih mengikuti jejak orang tuanya mencari ikan ke laut, meskipun itu bukan keinginan orang tua mereka sendiri.

Kesadaran orangtua yang mulai tinggi akan pentingnya pendidikan ternyata tidak didukung oleh anak-anak itu sendiri. Para orangtua juga tidak bisa berbuat banyak. Jika dipaksakan, hasilnya juga tidak akan baik melainkan akan bertambah buruk. Apa yang terjadi jika seandainya semua anak-anak Bajo bersikap acuh terhadap pendidikan? Siapa lagi yang akan membangun masyarakat Bajo ke depan? Mudah-mudahan kesadaran orangtua yang tinggi ini akan semakin didukung anak-anak Bajo sendiri sehingga tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi anak-anak Suku Bajo, khususnya di Desa Mekar yang putus sekolah. (Bajo Bangkit)
 

Komentar (1)

  • 4 Feb 12 14:39 wib chalang

    Q bgga lihat ank2 desa bajoe dpt peluang bsar ut bsa mengharumkan nma suku bajo...

Page generated in 0.09191 seconds.