Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Pembangunan Desa Tanggung Jawab Siapa? Pendapat

“Apakah adil, masyarakat desa harus bersaing dengan orang-orang kota yang punya fasilitas lebih baik?” -(Ferdy Sambiran)-

                 Sebagai warga kebanyakan, tentunya ingin dan sangat rindu melihat kemajuan pembangunan yang ada di desanya. Namun ada pertanyaan menggelitik dan boleh dikatakan “klasik” yang sering muncul dan bergema di masyarakat: “Siapa yang akan membangun Desa kita ini?” Sepintas terdengar jawaban yang dengan gambling mengatakan, “Pemerintah!” “Itu kan sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, terus siapa lagi kalau bukan mereka!” Jawaban ini adalah suara hati masyarakat yang pesimis, namun itulah kenyataan yang ada dan ditemui dalam masyarakat kita.

Situasi dan kondisi masyarakat saat ini cukup memprihatinkan. Di satu sisi masyarakat diwajibkan untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada di Desanya, namun di sisi lain pemerintah (instansi terkait) yang sebetulnya harus berada di pihak masyarakat, hanya sibuk mengurus kepentingannya sendiri tanpa memikirkan beban yang kini berada dipundak masyarakat. Sebagai contoh konkrit yang dirasakan masyarakat, seperti pada sub-sektor tanaman pangan, di mana Dinas Pertanian menganjurkan untuk memanfaatkan seluruh sawah yang dapat ditanami padi agar diolah dengan teknologi modern supaya dapat memberikan hasil yang maksimal. Kenyataannya, teknologi modern itu tidak kunjung muncul di masyarakat, khususnya petani sawah di pedesaan. Apakah pemerintah tidak tahu, kelemahan terbesar petani saat ini adalah kekurangan modal. Artian modal seperti lahan, keterampilan, dana operasional untuk beli pupuk dan kebutuhan sehari-hari dirumah. Anjuran saja, tentunya tidaklah cukup dan menjawab untuk mengentaskan kemiskinan yang selama ini melekat pada warga petani.

Terlepas dari masalah yang melekat pada diri petani yang tinggal dipedesaan. Ada persoalan penting yang selalu dialami oleh petani, menjelang dan sesudah panen. Dari panen yang diperoleh petani melalui usahanya di kobong pece (sawah), mereka diperhadapkan dengan beberapa masalah seperti disaat panen tiba, petani dipedesaan sangat sulit mencarikan pemasarannya, dan kalaupun ada itupun harganya sangat miring alias tidak sesuai dengan harapan petani. Petani tidak mengetahui berapa sebenarnya harga pasar yang berlaku, yang selalu terdengar dari ungkapan pedagang pengumpul adalah keluhan rendahnya harga yang berlaku. Sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima harga yang ditawarkan pedagang pengumpul tersebut. Ini hanya merupakan salah satu persoalan nyata masyarakat, dan masih banyak persoalan lain yang “membelenggu” kehidupan masyarakat perdesaan.

Pada zaman orde baru, ada begitu banyak bantuan yang sering diberikan kepada kita orang-orang desa. “Kenapa sekarang so nyanda ada?” Apakah dengan diberlakukannya otonomi daerah, torang orang kampong disuruh untuk mencari sendiri solusi agar memecahkan masalah-masalah kita didesa? “Apakah adil, masyarakat desa harus bersaing dengan orang-orang kota yang punya fasilitas lebih baik, bahkan jurang perbedaan sangat jauh.” Disisi lain pengambil kebijakan pemerintah kabupaten “kadang-kadang” lebih tertarik untuk menata kotanya sendiri daripada harus membangun kawasan perdesaan yang masih jauh tertinggal. Anggaran untuk jalan-jalan keluar daerah bagi pejabat-pejabat ditingkat kabupaten/kota dan provinsi lebih besar dibanding kebutuhan warga untuk memperbaiki irigasi teknis.

Kalo toh memang demikian, kita sebagai masyarakat pedesaan tidaklah terlena dan terpaku atas kurangnya perhatian pemerintah diatas sana. Ada pepatah “Nasi so jadi bubur”. Maksudnya pemberlakuan otonomi daerah sudah ditetapkan, walaupun pelaksanaannya belum menyentuh sampai ke tingkat desa. Dan kita orang-orang kampung, mau tidak mau, harus menerima kenyataan tersebut. Kita diberi tugas dan tanggung jawab untuk membenahi desa kita sendiri. Manfaatkanlah semua potensi yang ada di desa agar kesejahteraan masyarakat bisa tercapai.

Perlu ditanamkan kepada semua komponen masyarakat, apakah itu generasi tua, muda dan anak-anak. Desa kita adalah desa yang sangat kaya dengan sumber daya alam, namun perlu pembenahan diri untuk mengolahnya. Marilah kita kembali kepada kearifan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh leluhur kita yakni budaya “Mapalus” (Gotong Royong) yang sudah turun temurun dilakukan oleh para leluhur kita. Mari kita bekerja bersama-sama, bahu-membahu membangun desa kita. Ingatlah syair lagu Desaku yang Kucinta, Pujaan HatiKu….dst.

Jadi, jika ada pertanyaan, siapa yang akan membangun desa? Jawabannya, “Ada di pundak kita! Marilah kita satukan tekad! Maju Terus Bangun Desa.” Masyarakat harus optimis, keberhasilan pembangunan di desa adalah tanggung jawab kita, karena siapa lagi kalau bukan kita!!! Marilah kita galakkan kesadaran memberi untuk desa. Pemerintahan Desa akan berjalan dengan baik jika ada dukungan material, moril dan spiritual dari masyarakatnya sendiri. Semoga cita-cita untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur dapat kita raih. Pakatuan Wo Paka Lawiren.

 

 

Ditulis Oleh: Ferdy Sambiran

Sekretaris Desa Talawaan

Kecamatan Talawaan

Minahasa Utara - Sulawesi Utara

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09112 seconds.