Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Dalam Bulir-bulir (is not diary) Sastra

Tasikmalaya, 30 april 2011. Puluhan butir rintik hujan telah mengetuk tanah, kulihat ratusan hingga ribuan butir lainnya menyusul, menyelimuti kota Tasikmalaya yang kini baru kudatangi kembali. 

Hawa hujan Kota Tasikmalaya, masih sama seperti yang sudah-sudah. Membawa kerinduan bersama sendu yang mendalam, kurasakan semakin dalam, dalam bulir-bulir hujan yang membawa sesak tentang jeritan hatiku dalam cerita lama di kota ini.

[flashback]

‘Brak!’ kudengar suara pintu mobil yang ditutup kasar, ternyata bapa sudah pulang dari piketnya semalam, yaaah~ bapaku memang seorang pekerja keras yang amarahnya bisa membludak kapan saja. 

Aku telah selesai melaksanakan tugas beres-beres rumah. Saat akan melewati ruang tengah, kulihat bapa sedang makan, aku pun ragu untuk melewati ruangan itu. 

Memang benar, hubunganku dengan bapa tak semulus hubungan anak dan bapa yang lain, antara kami amatlah canggung, interaksi diantara kami pun tak lain selain bertengkar. Ya, aku memang kesal pada bapa, saat bapa tak pernah mendengar suara hatiku, aku marah pada bapa karena selalu menganggapku rendah dan membanding-bandingkanku dengan adikku. 

Pernah suatu saat, saat itu adikku sedang berlatih lomba catur, aku akui permainannya itu lumayan.

“kau memang hebat sebagai anakku” ucap bapa sambil mengelus adikku dengan bangga.

“kau memang berbeda dengan kakakmu yang tak punya kemampuan apapun”

 APA? AKU?

Aku diam tanpa melirik mereka, kurasakan mataku mulai memanas dan membendung.

‘Memangnya siapa yang membuat adikku melambung dibidang catur?’

AKU! 

Ya, aku akui adikku ini pintar, permainan caturnya pun bagus, dan tak pernah membuat kesalahan yang besar, sehingga bapa selalu melihatnya dan memujinya. Tapi, kapan bapa melihatku? 

Aku telah belajar lebih keras dari orang biasanya, nilai pun kuusahakan untuk tidak anjlok, jika adikku pintar dimata pelajaran, maka aku berusaha untuk pintar dipelajaran dan sosial, aku paksakan untuk aktif di ekskul dan organisasi, aku juga pernah menjuarai berbagai lomba catur, bahkan itu yang menyebabkan nama adikku melambung dibidang itu, walaupun sembunyi-sembunyi, tapi aku mempunyai hobi sekaligus bakat yang kukembangkan secara sembunyi-sembunyi bersama teman-temanku yang juga sama, yaitu ‘menari’. Apakah bapa masih tak melihatku? Bahkan mengapa aku malah disebut tak peduli pada keluarga? Dan sok sibuk? Kenapa? Padahal aku lakukan itu semua untuk membuat keluarga bangga dan tak malu. 

Capek? Memang, bahkan sangat!

Muak? Sudah tak terbendung! 

Ingin rasanya aku teriak di depan seluruh keluargaku, mengeluarkan semua yang kurasakan, namun yang terjadi saat itu, hanya suara bulir-bulir hujan yang mengetuk tanah. 

Bukan hal itu saja yang membuatku kesal pada bapa, kadang ia selalu beranggapan bahwa aku selalu mengganggapnya musuh. Apakah itu seorang bapa yang kumiliki? Bahkan aku bertanya-tanya, apakah ia masih mengharapkanku terlahir di dunia ini? 

Namun disamping kesal, aku diherankan oleh perbuatannya disuatu hari. Saat itu, tiba-tiba saja ia mengajakku bermain catur. Catur? Cih! Apa ia baru ingat bahwa aku bisa memainkannya? Sudah lama aku tak memainkannya semenjak 8 tahun yang lalu. 

Ia mempersilahkanku untuk mengambil biji yang berwarna putih, ‘biji catur berwarna putih, yang mengawali permainan’.  

Kupajukan bidak yang berada dibarisan depan satu langkah untuk memulai permainan, begitu juga dengan bapa.

 ___ 

“. . . . . . . . . . . . ”

Begitu seriusnya kami bermain, tanpa suara, mata kami pun hanya terpaku pada papan. Huh~ padahal biasanya, saat bersama adik ia tak henti berbicara.

'Tak!’ bapa memajukan kudanya, terbaca ia mengancam patihku.

“terlihat jelas sekali, sudah lama kau tak bermain, daya analisismu sangat kaku” komentarnya. Cih, sejak kapan ia memerhatikan aku? apakah aku sering bermain catur atau tidak. Gumamku dalam hati.

‘Tak’ kupindahkan patihku untuk menghindari ancamannya, sambil bergumam “ya” tapi nampaknya ia masih bisa mendengar gumamanku.

“kau sudah besar” tiba-tiba ia menengadahkan mukanya untuk menatapku dengan pandangannya yang menerawang.

“dan aku sudah tua” lanjutnya.

“. . . . . . .. . . ” aku ikut menengadahkan pandanganku untuk balas menatapnya, aku masih terdiam, heran dengan apa yang baru saja kudengar, atau aku ingin mendengarnya berbicara lebih lanjut?

“bagaimanapun, aku harus percaya padamu” tambahnya. “aku tahu, kau sudah banyak berusaha” ucapnya terbata-bata. Aku masih bingung dan diam untuk mendengar. Suasana saat itu sangatlah canggung.

“apakah kau sadar? Jika dalam catur, kau merupakan bidak korban biasa”

“maksudmu?” tanyaku heran, emosiku mulai naik, mendengar perkataannya yang ‘seperti’ merendahkanku.

“bidak biasa, kau kadang terlihat biasa saja, bahkan sering kali dijadikan korban. Tapi dengan ‘biasa’mu itu, kau berusaha keras untuk mencapai tujuanmu, dan saat kau menapaki garis finis di lahan lawan, kau berkembang menjadi patih, yang berperan besar dalam kehidupan”.

Emosiku mulai datar kembali, namun aku dikagetkan saat mendengar segukan yang berasal darinya, dan untuk pertama kalinya aku melihat bapa menangis dihadapanku. Saat itu, hujan ikut mengiringi segukannya.

Namun, tepat saat aku akan berbicara, ibu memanggil kami, “hei! apa yang kalian lakukan di teras dicuaca sedingin ini? Ayo masuk!”.

___ 

Kurasakan hujan mereda, kulihat jam dinding di kamarku yang tengah menunjukan pukul 16:45, aku langsung bangkit dan bersiap ke rumah temanku untuk mengambil bukuku yang ketinggalan.

___ 

Tepat beberapa meter menuju rumah, hujan merembet dengan derasnya. Namun aku merasa aneh sekali, mengapa? Mengapa kujan ini terasa berbeda? Terasa kehampaan serta sendu terkandung ditiap butirannya, tiba-tiba saja aku teringat sosok bapa yang tadi sedang bermain catur denganku, terlihat sekali bahwa banyak hal yang ingin ia katakan padaku. Aku masih terdiam, membiarkan rintik hujan menyelimuti tubuhku, tanpa tahu apa-apa. 

Sekian lamanya, hingga aku tersadar dari lamunanku yang ditemani bulir hujan. Aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah.

___ 

Ramai, kulihat banyak orang berlalu lalang di sekitar rumahku. Aku tak dapat menangkap apapun dari ekspresi mereka ketika menatapku yang baru datang. Aku mencoba menyelinap diantara orang-orang, bermaksud mengetahui apa yang telah terjadi.

Saat aku masuk ke dalam, kulihat ibu sedang terduduk lemas sambil menangis. Dan saat itu pula, aku mengalami kejadian yang tak pernah kupikirkan.

___ 

Cuaca masih mendung, saat kupandangi jenazah bapa yang baru saja dikuburkan. Bapa meninggal bertepatan dengan hujan yang membawa kehampaan dan sendu yang menyelimutiku. Tak terasa, air mata yang sedari tadi kubendung, kini mendobrak pintu pertahanan mentalku.

‘Tak pernah terpikir, aku menangis untuk bapa, mengingat hari terakhirnya bersamaku’

 "setiap malam, tak henti ia tersenyum sambil membanggakanmu” ucap ibu yang sedari tadi berada disampingku, berat sekali kurasa, saat mendengar cerita bapa dari ibu. Kulihat om amin mendekat dari kejauhan, ia menyodorkan selembar kertas lusuh padaku.

apa ini?” tanyaku yang masi kebingungan.

“mendiang bapamu menyuruhku menyerahkan ini padamu”

___

 Aku masih terdiam disudut kamar, memandangi selembar kertas lusuh, yang terletak tepat dihadapanku.

‘bapa telah menitipkannya untukku’ gumamku dalam hati.

Aku masih belum siap membuka isi dibalik kertas lusuh ini, tapi aku tetap mencoba untuk membuka dan membaca isinya. 

Untuk putriku, Nisa. 

Assalamualaikum, salam bapa selalu mengiringi setiap denyut nadimu.

Putriku, Nisa.

Kau telah dewasa. Dan banyak terluka karena bapa, maafkan bapak nak, selama ini kau benar-benar telah berjuang sendiri. 

Apakah kau masih ingat? Tetang istilah bidak korban biasa?

Bapa sengaja memberikan istilah itu padamu karena bapa bangga padamu, bangga padamu yang menjadi bidak korban biasa yang kini telah menjadi patih. 

Terkadang bapa sedih, saat melihatmu sedang berjuang, merasakan dan mengatasi pedihmu sendiri. Ingin sekali bapa berkelakuan layaknya seorang bapa pada anaknya yang senantiasa mendukung anaknya. Namun, ego bapa kembali menang dari hati bapa. 

Dan kini, bapa amat percaya padamu, sebagai putrid sulungku yang sudah beranjak menjadi patih, senang rasanya jika kau mengingat terakhir kali kita bermain catur dengan penuh haru, sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan padamu. Bapa percaya, kamu bisa hadapi semua tantangan yang ada, sekaligus menggantikan bapa untuk menjaga ibumu dan adik-adikmu  

Putriku, Nisa.

Kelak akan ada yang menggantikan bapa, untuk menjagamu, dan akan lebih baik dari bapa. Sebenarnya, sampai saat itu tiba, ingin sekali bapa ada diantara kalian, ikut menyambut keluarga baru yang akan menggantikan bapa untuk menjagamu.

Mungkin sudah terlambat, tapi bapa harap, dengan selembar kertas ini, dapat menampung  kasih sayang, perhatian, serta kebanggaan bapa yang belum pernah bapa tunjukan padamu. 

Putriku, Nisa.

Tersenyumlah, dan dengarlah hujan.

Ada kalanya, mendengarkan hujan itu lebih baik, mereka lebih jujur dari pada kita yang saling menutupi. 

                                                                                                                                        Terimakasih                                                                                                                                       

[flashback end] 

Tanpa kusadari, air mataku mengikuti nada-nada hujan yang silih berganti mengetuk tanah, yang menggambarkan kasih sayang bapa, yang tak hentinya mengetuk hatiku yang tengah merindukannya.

Komentar (3)

Page generated in 0.08927 seconds.