Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Mengecam Intimidasi dan Pembongkaran Makam Heru Atmodjo Pendapat

Stigmatisasi terhadap korban peristiwa 1965 hingga saat ini masih berlanjut, bahkan ketika korban peristiwa tersebut telah meninggal. Hal ini terjadi pada makam Alm. Heru Atmodjo di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, yang dibongkar atas desakan dan intimidasi dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) di Surabaya. Pada tanggal 10 Maret 2011, massa dari GUIB menggelar aksi di kantor DPRD Jawa Timur untuk menuntut agar makam Heru Atmodjo dipindahkan dari TMP Kalibata serta menuding negara berpihak pada komunis, jika tetap membiarkan makam disana. Tidak lama kemudian, 7 orang aparat Angkatan Darat yang mengaku dari Cilangkap mendatangi pihak keluarga dan meminta paksa agar mereka memindahkan jenasah Alm. Heru Atmodjo. Pihak keluarga yang merasa tertekan akhirnya terpaksa memindahkan jenasah beliau.

Letkol (Penerbang) Heru Atmodjo, yang wafat pada tanggal 29 Januari 2011, kemudian dipindahkan pada tanggal 25 Maret 2011 pukul 23.00 WIB dengan pengawalan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan dimakamkan kembali di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bangil, Sidoarjo, Jawa Timur dengan dihadiri oleh jajaran AURI. Alm Heru Atmodjo adalah mantan perwira intelijen Angkatan Udara dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Alm Heru Atmodjo pernah terlibat dalam perjuangan menghadapi agresi Belanda pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Sebagai pilot pesawat tempur, beliau juga pernah ditugaskan di dalam operasi pembebasan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta dan DI TII.

Karena keterlibatan dalam berbagai pertempuran itulah, Presiden Soekarno kemudian memberikan medali Bintang Gerilya. Namun pada peristiwa 1965, Alm Heru Atmodjo yang menjabat Asisten Direktur Intelijen AURI, dituding terlibat dalam peristiwa G30S karena nama dan dan tanda tangannya dicatut dalam susunan Dewan Revolusi. Alm Heru Atmodjo kemudian dijebloskan di penjara Salemba dan Cipinang selama 15 tahun tanpa pernah diadili. Jatuhnya rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto dan lahirnya Orde Reformasi kemudian membebaskannya bersama ratusan tahanan politik yang dituduh berafiliasi dengan PKI.

Stigmatisasi terhadap korban peristiwa 1965, yang akhirnya menyebabkan pembongkaran makam Alm Heru Atmodjo, tentunya patut dikecam oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut jelas merupakan salah satu agenda untuk menutupi pengungkapan kebenaran sejarah masa lalu Indonesia yang kelam. Hingga saat ini kebenaran peristiwa 1965 yang selalu didengung-dengungkan semenjak Orde Baru pemerintahan saat ini juga banyak sekali kejanggalan dan patut dipertanyakan. Namun jelas, pengungkapan kebenaran mengenai peristiwa 1965 dan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM lainnya akan selalu ditutupi oleh rezim neoliberal. Tidak aneh, hingga saat ini tidak pernah ada agenda penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang dijalankan oleh rezim neoliberal, karena memang penerapan agenda neoliberalisme di Indonesia akan selalu menimbulkan berbagai praktek kekerasan yang akhirnya menimbulkan pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia.

Pembongkaran makam Alm Heru Atmodjo hanya merupakan satu contoh dari busuknya rezim neoliberal yang ingin menjaga dan menutup rapat peristiwa-peristiwa kelam masa lalu di Indonesia. Masih banyak lagi ratusan korban dan keluarga korban peristiwa 1965 yang hingga kini juga masih mengalami intimidasi dan diskriminasi dari rezim neoliberal. Begitu juga dengan kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya, yang pernah terjadi di Indonesia. Bagi rezim neoliberal, pengungkapan kebenaran masa lalu hanya akan menjauhkan para pemilik modal untuk menanamkan modalnya di negeri ini. Itulah sebabnya tidak pernah ada upaya pengungkapan kebenaran sejarah masa lalu dan upaya penuntasan kasus pelanggaran HAM di Indonesia. (Anwar Ma'ruf dan Rendro Prayogo)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09632 seconds.