Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Bukan Salah Kami Menjadi Pengemis…….! Pendapat

Jirak Celebes- "Kampus adalah tempat untuk belajar dan juga tempat untuk berkarya”. Berawal dari Sebuah slogan yang sudah tidak asing lagi mencuat di telinga-telinga yang tak mampu melihat atau menjawab. Para mahasiswa-mahasiswa dapat membuka mata dan melihat persis transparansi akan makna setiap inci dunia ini dari sebuah kata “belajar” yang tentunya didapatkan dari kampus. Namun tidaklah cukup jika kita terlalu naïf menganggap bahwa di kampus Cuma cari referensi untuk belajar.

Apa bedanya dengan para domba tersesat yang ada di muka bumi ini yang Cuma disuap dengan ilmu, doktrin atau bahkan menjadi dogma tanpa penuh dengan pertimbangan-pertimbangan signifikan yang dapat menjadikan manusia yang kaya dengan ilmu namun berhenti pada titik estafet akan ilmu itu kepada orang lain……?

Berawal dari pertanyaan inilah mahasiswa bermetamorfosis menjadi seorang manusia yang tak ingin lagi berhenti, melainkan melanjutkan dengan apa yang “saya miliki” untuk kemudian dijadikan sebagai apa yang “kita miliki”. Olehnya terdengarlah lagi slogan yang kedua dari kata “berkarya”, sungguh sempurna kalimat ini sebagai seorang pencari ilmu karena orang yang berilmu memanglah butuh sebuah prestasi. Karena tanpa prestasi, legitimasi terhadap ilmu dari yang kita miliki tak mampu menjadi acuan dan hanya menjadi ocehan belaka dari mahluk lain yang telah merasa sempurna. Meraih sebuah prestasi pun tidak seperti memutar telapak tangan atau memalingkan wajah dari kiri ke kanan melainkan butuh rangkaian titik-titik sel dari sebuah “karya”. Pertanyaan lanjutannya, dimanakah kita harus berkarya…..?

Banyak di antara mereka yang telah menjawab bahwa “saya berprestasi” karena “saya berkarya”  mungkin karena IPK-nya di atas rata-rata atau kah karya ilmiahnya lolos dan mendapatkan sedikit tunjangan. Namun, ketika saya menganalisa hal ini, tidak lebih dari seseorang yang telah memperjuangkan dan memerdekakan dirinya sendiri atau bahkan kelompok-kelompok terdekatnya. Tapi hampir tak dijumpai walau segelintir mahasiswa yang dengan congkaknya bercakap  “kita berprestasi” karena  “kita berkarya” dan hal ini semakin membawa kita pada titian-titian lebih jauh dengan apa yang kita harus lakukan di kampus itu.

Sebuah rumah belajar yang berisi  dengan perlengkapan tekhnologi yang memadai, di sana diajarkan sebuah bekal untuk dijadikan tombak memecah setiap pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Namun tak cukuplah tanpa sebuah pengetahuan untuk  mengadaptasikan diri dengan apa yag telah dipelajari. Olehnya kuberanjak juga dari sebuah rumah kumuh yang tak memiliki apa-apa namun menghadiahkan sebuah tamen dari sebuah pembelajaran mengadaptasikan ilmu yang dimiliki menjadi sebuah karya untuk diramu menjadi sebuah prestasi bersama atau menjadi prestasi institusi itu sendiri. Di tempat yang kumuh inilah para mahasiswa-mahasiswa yang kreatif, sosialis lahir sebagai instrument mesin untuk mengharunkan nama institusi dan menimbulkan pertanyaan lagi untuk kemudian kita jawab, mampukah berprestasi dalam kondisi yang terabaikan……….?

Pada step ini, telah diketahui banyaknya mahasiswa yang mencoba untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kreatifitas mereka yang dijadikan sebagai iluminiti terhadap kampus yang mereka cintai namun mendapatkan respon yang nihil dari orang tua mereka. Sebagai salah satu contohnya, ketika melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, pencairan dana proposalnya amatlah sulit dimulai dari ketertundaan sampai ketidakhadiran para eksekutor dana tersebut. Tidak hanya itu, dalam pencairannya pun harus dikenakan pajak senilai kurang lebih 15% yang masih sangat buram di mata kami akan pemanfaatan pajak itu. Olehnya para mahasiswa-mahasiswa terpaksa harus memilih inisiatif untuk turun ke jalan berharap menutupi setiap kekukarangan financial di setiap kegiatan yang akan diaktualisasikan.

Di titik akhir inilah disimpulkan klimaks bahwa di depan sana sebuah slogan belajar dan berkarya mengantarkan para mahasiswa mengukir sebuah pemandangan yang sangat marjinal yaitu menjadi seorang yang berilmu yang diutarakan bak seorang pengemis dan inilah yang dilukiskan oleh mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Siapakah yang harus disalahkan……….? Apakah orang tua, anak ataukah bahkan saya sebagai penulis yang hanya bertujuan untuk MERENUNGI hal ini bersama…..?

TERIMA KASIH,

WASSALAM

V-MEN

Komentar (4)

  • 28 Apr 11 23:55 wib tania

    sdikit2 lm2 jd bukiT, asaL beRsaTu sGaLa pRobLema pSti kan zLesai

  • 28 Apr 11 23:53 wib zalim

    menjadi renungan untuk birokrasi dan kita semua. terkadang hal yang kecil seperti ini juga mampu melaksanakan hal yang besar. mahasiswa adalah penggerak dan roh penggeraknya hanyalah semangatnya yang berkobar. maju terusssssssssssssssssssssssssssssssssss

  • 28 Apr 11 23:50 wib juan

    beginilah nasib mahasiswa yang tidak terperhatikan.......... serba salah.

  • 28 Apr 11 17:45 wib rizy

    sebuaH peRjuaNgan beSar........................

Page generated in 0.09308 seconds.