Tidak Jadi Wartawan, Saya Pilih Jadi PSK
Jakarta-Ketika masih remaja aku berkeinginan menjadi seorang wartawan. Hal yang membuat aku terobsesi menjadi jurnalis saat itu adalah idealisme dan independensi. Satu hal yang masih teringat dan sering diungkapkan bahwa wartawan adalah mata dan telinga dunia.
Sangat luar biasa ketika kemudian di negeri ini muncul UU 40/1999 Tentang Pers, yang oleh banyak kalangan dianggap produk undang-undang dengan kebebasan bagi pers yang sangat mendunia. Entahlah...! Yang jelas sejak saat itu, dunia pers kita menjadi banyak warna.
Meskipun tantangan untuk menjadi seorang wartawan sangatlah berat dan berliku, hingga usiaku yang memasuki 'bau tanah' ini, aku tetap bersemangat menjadi mata dan telinga dunia tadi.
Namun demikian ketika keinginan menjadi wartawan hanya berlandaskan idealisme dan independensi, saat ini hanya tinggal obsesi. Sepuluh tahun silam saya sempat bertemu Bung Arya Gunawan dan Eric Sasono yang kemudian mengajari saya menjadi wartawan lewat diskusi-diskusi dan buku panduan yang selalu saya jadikan acuan . Jelas, lugas dan rasanya etika sebagai wartawan memang punya semangat yang tidak memihak (mestinya).
Beberapa tahun belakangan saya kecewa dengan dunia wartawan, terutama wartawan media televisi. Saya jadi malu sebagai wartawan kalau harus disejajarkan dengan mereka.Kalau saya perhatikan sekarang, dengan kasat mata para presenter berita televisi dan tentu dengan para jurnalisnya di lapangan, mereka tidak lagi ideal dan independen, bahkan dalam banyak kasus..., gaya penyusunan kalimat berita-nya juga terkesan ngawur. Ya, ngawur menurut saya yang tidak jadi wartawan.
Kalau soal ideal dan merdeka, biarlah...! Mungkin karena kepentingan periuk nasi, maka dua hal tadi diabaikan. Tapi soal kaidah penyusunan berita, kumaha eta teh?
Saya sering mendengar kalimat sperti; korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit, presiden terkesan lamban dalam bertindak, si cantik sang penipu, ibu biadab membunuh anak kandung... deesbe. Kalau saya benar, wartawan tidak boleh menggunakan kata yang bernada opini sendiri; terpaksa dan terkesan bukanlah fakta sebenarnya-atau kata justifikasi 'sang penipu,' padahal pelalku baru diduga menipu-ibu biadab juga bukan hak wartawan untuk mendefinisikan perbuatan biadab atau manusiawi. Penasaran? Cobalah nonton berita di televisi yang hanya bermodal prresenter cantik dan tampan.
Tapi Anda tidak perlu khawatir karena saya pun ragu, jangan-jangan etika dan kaidah penulisan berita memang sudah berubah sementara saya sendirian yang tidak ikut perubahan. Pilihan saya saat ini adalah jadi Pewarta Suara Komunitas (PSK) saja, dengan harapan masih bisa ideal dan merdeka.
- Pasar Sehat - Jawa Barat
- Pendapat
- dibaca 1754x
- [3] komentar




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

