Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Kepergok Ngamen Bareng, Camat Gondokusuman dan Lurah Terban Dipanggil Berita

Terban, Yogyakarta -  Suasana gaduh memecah keheningan siang tatkala dua pria berbadan kekar sedang ngamen di depan pendopo salah satu rumah nan megah dan luas di sudut Kelurahan Terban Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta. Pasalnya keduanya sedang bersitegang dengan salah satu pemilik rumah.

Si pengamen bersikeras minta imbalan atas jasa ngamen mereka, sedangkan sang pemilik rumah bersikukuh tidak mau memberi uang karena merasa tidak mengundang si pria-pria dekil itu untuk datang ngamen di rumahnya. Bahkan sang pemilik rumah merasa terganggu, istirahat siangnya menjadi ternoda oleh suara blero (fals, red) si pengamen. Sang pemilik rumah yang terkenal kaya tapi sombong, angkuh, congkak,  medhit, cethil, mbedhidhil othal-athil (pelit, red) itu lantas mengusir pengamen tersebut. Si pengamenpun bergegas pergi sambil mengancam akan bikin panggung reguler ngamen di depan pendopo rumah tersebut.

Sang tuan rumah pun tak kalah ngancam, dengan acungan kepalan tangannya mampu membuat kedua pengamen tersebut lari terbirit-birit sambil mledhingke bokong (nunggingkan pantat, red). Ternyata kegaduhan tidak berhenti sampai di situ. Kegaduhan kian memuncak pada sore harinya ketika sang pemilik rumah mengirim suruhan untuk mengundang lurah dan camat setempat agar menyaksikan dia yang hendak syukuran mengadopsi anak. Kejengkelan sang pemilik rumah kian menjadi ketika yang diantar ke rumahnya bukan lurah dan camat, namun malah dua pengamen yang membuatnya mangkel tadi pagi. Seletah dijelaskan dan diyakinkan bahwa mereka adalah lurah dan camat setempat, sang pemilik rumah menjadi malu dan merasa bersalah. Ternyata camat dan lurah tersebut sengaja ngamen ke rumah-rumah penduduk agar bisa mengetahui kondisi wilayahnya sekaligus mengetahui kehidupan keseharian masyarakatnya. 

Cerita di atas tentu saja bukan sungguhan karena hanya penggal kisah dari dagelan mataram yang dibawakan oleh Paguyuban Kesenian Saputro Budoyo Kelurahan Terban Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta, saat berkesempatan mengisi acara di panggung utama Pasar Malam Perayaan Sekaten 2010 di Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karena penampilannya yang sangat bagus, maka panitia menobatkan Paguyuban Saputro Budoyo sebagai Pengisi Acara Terbaik PMPS 2010. 

Sedikit melongok kegiatan Paguyuban Kesenian Saputro Budoyo Kelurahan Terban memang tidaklah heran bila sering menyabet prestasi. Ternyata pelestarian seni budaya Kelurahan Terban memang tergolong tinggi. Dari puluhan paguyuban seni budaya yang diwadahi dalam Paguyuban Kesenian Saputro Budoyo, peran pejabat kelurahan dan tokoh masyarakat terbilang sangatlah tinggi. Mulai dari pemuda, pak RT, pak RW, ibu-ibu PKK, pengurus LPMK sampai lurah dan camat ambyur manjing ajur-ajer (berbaur menyatu, red) mengangkat seni wilayah. Bicara seni budaya, di Kelurahan Terban bisa dibilang gudangnya. Bagaimana tidak, hampir segala jenis seni budaya di Kelurahan Terban ada, mulai dari tradisi budaya Merti Code tahunan, tradisi mubeng kelurahan malam 1 Suro, campursari, karawitan, panembromo-campursantri, macapatan, sanggar tari, sanggar lukis, jathilan, orkes keroncong, wayang orang, kethoprak, band, musik Barkas (barang bekas) dan masih banyak lagi. 

Pentas Paguyuban Saputro Budoyo di PMPS 2010 ternyata berbuntut panjang. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kota Yogyakarta merasa tesinggung mendengar laporan bahwa camat Gondokusuman dan lurah Terban ngamen bareng. Beliau lantas melakukan pemanggilan kepada keduanya. Usut punya usut, ternyata Kadisarbud tersinggung karena tidak berkesempatan melihat langsung penampilan mereka saat di panggung PMPS. Maka sebagai hukumannya, camat Gondokusuman Wirawan Hario Yudo SH dan lurah Terban Subarjilan SIP beserta Paguyuban Saputro Budoyo harus tampil lagi pada Sabtu (26/03/2011) pada acara Kelangenan Jogja di Pelataran Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta. Selain camat Gondokusuman dan lurah Terban, pentas dagelan mataram kali itu juga didukung oleh seniman-seniwati tua-muda Terban antara lain Subarmi, Supriyanto SSos, Sukir, Bambang Purnomo MSi dan kawan-kawan. Atas dukungan semua pihak dan animo penonton yang demikian besar, pentas kali itu berlangsung semarak, gayeng dan ger-geran (meriah dan tertawa ria). Semoga ke depan sinergitas dan keterbauran pemerintah, lembaga dan masyarakat dalam menumbuhkembangkan seni-budaya kian kental sehingga Yogyakarta sebagai kota budaya kian terangkat lebih tinggi. Semoga.

 (reported Prie-Panagati)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08989 seconds.