Plagiarisme di India
Ranjit Devraj
NEW
DELHI, INDIA (IPS) – AKIBAT peristiwa memalukan atas pencabutan karya
ilmiah dan sebuah laporan mengenai tanaman hasil rekayasa genetik, yang dibikin
ilmuwan kondang di India, muncul seruan untuk bertindak lebih tegas terhadap
praktik plagiarisme dan tak etis.
Komunitas ilmuwan India merasa
terkejut ketika membaca pengumuman pencabutan atas tiga karya ilmuwan India itu
yang dimuat Biotechnology Advances (BA), jurnal ilmiah internasional
terkemuka, edisi November-Desember 2010.
Salah satunya “Microbial
production of dihydroxyacetone”, diterbitkan BA pada Juli-Agustus 2008, dengan penulis Ruchi Mishra, Seema Rani Jain, dan Ashok Kumar –ketiganya dari fakultas ilmu biologi dan
bioteknologi Institut Teknologi India (IIT) di Kanpur.
IIT, sebuah kelompok berisi 16
institut teknik dan teknologi otonom, dianggap menjadi kepentingan nasional
oleh parlemen dan dikenal di seluruh dunia karena menghasilkan ilmuwan dan
insinyur mumpuni.
Alasan BA atas pencabutan itu: “penulis menjiplak beberapa bagian dari
makalah yang sudah terbit di sejumlah jurnal” sementara “salah satu syarat
pengajuan makalah untuk publikasi adalah penulis menyatakan secara tegas bahwa
karya mereka orisinal dan belum terbit di sebuah publikasi di tempat lain.”
BA kemudian
menyatakan, “artikel itu melanggar sistem publikasi ilmiah. Komunitas ilmuwan
punya pandangan sangat keras atas masalah ini dan kami meminta maaf kepada
pembaca jurnal karena hal ini lepas dari perhatian kami selama proses
pemuatan.”
Alasan yang sama diberikan
atas penarikan makalah berjudul “Molecular imprinting in sol-gel” karya Radha Gupta dan Ashok
Kumar,
juga dari IIT Kanpur, yang dimuat BA
edisi November-Desember 2008.
Dalam sebuah pernyataan yang
dirilis pada 10 Oktober, Sanjay Dhande, direktur IIT
Kanpur, mengumumkan bahwa sebuah panel beranggotakan tiga orang akan menguji
tuduhan plagiarisme itu dan menyerahkan hasilnya ke dewan gubernur pada 2
November 2010.
”Kami punya masalah serius
dengan plagiarisme dan tak ada insitusi yang siap mengakuinya,” ujar K.L. Chopra, mantan direktur IIT di Kharagpur yang kini
menjadi ketua Society for Scientific Values, sebuah lembaga pemantau independen
yang beranggotakan 363 ilmuwan India terkemuka.
Chopra berkata kepada IPS bahwa India hanya satu dari beberapa
negara, termasuk China, di mana plagiarisme merajalela. ”Bedanya, negara
seperti China langsung bertindak tegas terhadap ilmuwan yang melakukannya.”
Pada awal tahun ini, dua dosen
China langsung dipecat dua minggu setelah jurnal Acta Crystallographica Section E yang diterbitkan International Union of
Crystallography, lembaga ilmuwan global dan nonprofit, mencabut makalah mereka dengan
alasan plagiarisme.
Di India, ujar Chopra,
masalahnya lebih sering terjadi pada institusi kecil dan kurang terkenal di
mana para ilmuwan mengirimkan makalah pada jurnal internasional untuk publikasi
tanpa tinjauan yang tepat dari sesama kolega.
Bahkan, makalah ketiga yang
dicabut BA, berjudul “Nanosilver –
the burgeoning therapeutic molecule and its green synthesis”, dikirim oleh
ilmuwan yang relatif tak dikenal dari fakultas bioteknologi Universitas Kalasalingam di selatan negara bagian Tamil Nadu.
”Para ilmuwan berada di bawah
tekanan untuk mempublikasikan dan seringkali tergoda untuk menijplak (cut-and-paste) dari internet dengan
keyakinan yang salah bahwa mereka tak akan ketahuan,” kata Chopra. India perlu
“mendirikan sebuah badan semiperadilan yang bisa mencoret atau mengambil
tindakan lainnya terhadap ilmuwan yang melanggar etika.”
Chopra mengatakan, kasus
plagiarisme tinggi di India karena negara ini menghadapi sejumlah masalah khas
untuk hal ini. ”India negara miskin dengan perbedaan sosial yang tinggi, tapi
juga berada di antara negara-negara yang maju secara ilmu pengetahuan dan
teknologi.”
Dia merujuk pada kehebohan
akibat sebuah laporan yang mendukung komersialisasi terong brinjal hasil
rekayasa genetik, yang dipresentasikan kepada Menteri Lingkungan Jairam Ramesh pada 24 September, oleh enam ilmuwan terkemuka
India.
Sebagian dari laporan
antar-akademi itu ternyata mencontek dari sebuah makalah yang didanai Monsanto,
perusahaan raksasa bioteknologi dari Amerika Serikat.
Ramesh segera menolak laporan
itu –yang ditulis Akademi Sains India, Akademi Teknik Nasional India, Akademi
Sains Nasional India, Akademi Nasional Ilmu Pertanian, Akademi Nasional Ilmu
Kesehatan, dan Akademi Sains Nasional– menyebutnya “bukan hasil penilaian
ilmiah yang ketat.”
Terdorong untuk menanggapi
teguran menteri, Mamannamama Vijayan, koordinator
laporan itu, mengeluarkan pernyataan atas nama akademi-akademi itu yang
mengakui “ketidaktepatan” menyalin teks tanpa kutipan dan referensi. Dia
mengatakan, laporan ini akan dikaji ulang tapi “sangat tak mungkin
rekomendasinya (mengenai terung transgenik brinjal) akan berubah.”
”Ada pelajaran di sini bagi
kalangan akademik,” ujar Chopra. ”Mereka mungkin telah merugikan ketimbang
membantu pengenalan tanaman hasil rekayasa genetik di negara ini dengan sebuah
laporan yang dibuat dengan jelek.”
Kelompok lobi anti-rekayasa
genetik segera menangkap peluang. Pada 18 Oktober, sebuah kelompok berisi 14
organisasi nonpemerintah mengirim petisi bersama kepada Perdana Menteri Manmohan Singh, meminta rektor
keenam akademi itu dipecat karena menunjukkan “bias ilmiah yang berdampak
serius bagi masa depan ilmu pengetahuan India serta relevansinya dengan
kebutuhan negara.”
Mereka menekankan bahwa rektor
Akademi Nasional Ilmu Pertanian Mangala
Raid
adalah anggota dewan Indo-U.S. Knowledge Initiative in Agriculture, Research
and Marketing, yang “agresif mendorong riset tanaman hasil rekayasan genetik di
India.”
”Di zaman ketika ilmu
pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam pembangunan
sosial-ekonomi, negara ini perlu mendorong keunggulan dan menjamin
akuntabilitas,” ujar Devinder Sharma, salah seorang
penandatangan petisi. ”India perlu berhati-hati begitu secara terbuka ingin
menjadi pemimpin dunia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.” *
Translated by Fahri
Salam
Edited by Budi
Setiyono
Naskah ini
dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
- n/a
- Internasional
- dibaca 474x
- [0] komentar
Script timer: 0.372229 seconds.




Medan (Suara Komunitas.net) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda dan Hotel Garuda Plaza Medan menunjukkan kepedulian sosialnya dengan memberikan bantuan kacamata
Medan (Suara Komunitas.Net) – Hendry Ch Bangun mengatakan, uji kompetensi bagi wartawan dilakukan agar wartawan profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik. Hal itu dikatakannya
Batubara(Suara Komunitas.Net) Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Zarhalwi menyampaikan selamat bekerja bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang baru dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dilaksanakan
Blangpidie,Aceh Barat Daya- Air mata yang menetes terlihat membasahi kedua belah pipi Jusmanidar.Ibu dari Empat anak ini baru saja menangisi kepergian "Rahul",orang utan hewan piarannya.Kesedihan
Sauara komuanitas – Ribuan Warga Kecamatan Banda Baro Kabup Aten Aceh Utara Selasa 15 Mei 2012 Tumpah Ruah Dihalaman Mesjid Kecamatan Tersebut Dalam Rangka Menyaksikan Penutupan Musabaqah 

