Meriam Karbit Hiburan Warga Kota Pontianak Menjelang Idul Fitri
Pontianak(08/09)- Dour....dour....dour..... mengelegar bagaikan suara petir , jangan disangka ledak Bom ataupun orang yang sedang melaksakan perang. Demtuman suara itu, berasal dari meriam karbit suaranya yang sangat keras mengelegar bagaikan suara petir, di sepajang sungai Kapuas yang memiliki lebar 250 meter saling saut-sautan,di Kota Pontianak Kal-Bar. Karena antara sembrang sungai tertadapat meriam karbit yang siap dibunyikan.Bagaikan perang antar wilayah.
Meriam dihiasi berbagai hiasan warna-warni dan umbul. Meriam berukuran jumbo terbuat dari kayu balog yang diambil hutan balantara Kalimantan, dengan rata diameter 50 cm-80 cm,lebih besar berapa kali dari moncong parser ataupun alat peluncur basoka. Hampir setiap gang, kelompok masyarakat mempunyai meriam rata memiliki 6 meriam karbit disepanjang sungai Kapuas Kota Pontianak Kal-Bar.
Seorang anak berumur 12 tahun, tampa rasa takut menyalakan korek api, diteruskan pada lobang kayu yang di sediakan. Meriam tersebut mengeluarkan suara bagaikan petir getaran dirasakan dirumah warga kota Pontianak, namun warga kota Pontiank tidak merasa ketakutan. Justru suara parade meriam kabit merupakan salah satu bagian ritual bulan Rhamadan dan Idul Fitri.
Menurut ade tokoh pemuda kota Pontaianak, tradisi meriam ini sebenarnya sudah lama. Sejak didirikannya Kota Pontianak oleh Sultan Pontianak, Yaitu Sultan Syarif Abdurahman. Waktu Sultan mau membuka wilayah berhutan untuk dijadaikan pusat pemerintahanya. Konon untuk mengusir mahluk halus yang ada dihutan tersebut, menggunakan meriam dari arah Batu Layang, sehingga tradisi turun-temurun dilakukan oleh masyarakat kota Pontianak.
“Pada saat ini, meriam karbit hanya dinyalakan pada saat hari besar,seperti awal Rhamadan,Idul Fitri,Idul Adha, Agustusann dan Tahun Baru. Bahkan meriam karbit ini sekarang menjadi salah satu hiburan alternatiF masyarakat kota Pontianak menjelang lebaran idul fitri, sehingga pemerintah kota Pontianak menjadikan salah satu event parawisata daerah Kota Pontianak.
Ade menambahkan,Pembiayan pembuatan satu meriam karbit menghabiskan uang sekitar 3,5 juta dengan makan waktu 2 minggu. Warga bergotong royong bersama-sama membuat meriam. Termasuk dana juga dari sumbangan warga.
“Warga dengan suka rela menyumbang pendanaan demi menghasilkan meriam karbit yang terbaik dan suaranya besar. Beberapa tahun ini meriam karbit dijadikan salahsatu event parawisata Kota Pontianak, sehingga setiap meriam karbit akan diberi dana oleh pemerintahan kota,bahkan dilombakan, meriam terbaik akan mendapat hadih dari Wali Kota Pontianak”Terang ade.
- Deman Huri
- Berita
- dibaca 1226x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


